Penjual Sirih Tanguh Ditengah Badai Covid 19

oleh -140.759 views
Penjual Sirih Tanguh Ditengah Badai Covid 19
Nurlaili penjual Sirih yang bertahan ditengah gempuran badai Covid 19 dan bertahan hingga saat ini, semoga badai Covid 19 cepat berlalu dan ekonomi rakyat bisa pulih kembali, foto diabadikan, Jumat (10/12/2021).

Langsa | Realitas – Senja itu kian menyingsing pada ufuk barat, pertanda haripun memasuki malam hari, suara alunan pengajian menyongsong magrib kian bersahutan diantara Masjid satu dengan lainnya mengagungkan kalimah Allah.

Kebesaran Allah tiada tara, siang malam-pun berganti seiring detak jarum jam yang pada saat itu dikisaran 19.25 menuju magrib bagi umat muslim.

Tampak aktivitas perekonomian terlihat mulai menuju pintu kedainya untuk melaksanakan ibadah sholat magrib di Masjid sekitarnya.

Sekitar 100 meter terpaut berdiri banginan megah yakni Masjid Darul Falah Kota Langsa tempat sentra para jamaah melaksanakan ibadahnya dan juga Masjid kebanggaan masyarakat Langsa.

Selepas magrib aktivitas perekonomian di Kota yang terkenal dengan julukan kota jasa itu kembali bergairah, ada seorang pedagang sirih (ranub — dalam bahasa Aceh — red) yaitu, Nurlaili atau yang akrab disapa Nur diatas meja mini dengan sejumlah daun sirih siap saji untuk dijualnya.

Harga sirih terbilang murah meriah namun bagi pencinta makan sirih sudah menjadi kebiasaan untuk membelinya sebagai kunyahan pada malam hari.

Nur sosok cewek ya, dibilang manis dan cantik itu melakoni jualan sirih terbilang cukup lama dan usaha ini merupakan usaha titisan dari sang ibu yang berprofesi sebagai penjual Sirih juga.

Ditengah gemburan dahsyatnya Pandemic Covid 19 sejak tahun 2020 silam hingga saat ini cukup dirasakannya dan praktis omzet pendapatannya cukup minim.

Ianya ingin mencoba usaha lain, namun karena keterbatasan pendataan akhirnya harus bertahan dengan berjualan sirih hingga saat ini.

Diawalnya, kata Nur yang ditemui wartawan, Jumat (10/12/2021) malam menyatakan sangat pedih saat berjualan ditengah badai Covid 19, tapi apalah daya mau usaha yang lain juga harus ada dana.

BACA JUGA :  Usai dilantik Kapolda Aceh Kunker Perdana ke Aceh Timur, Terlihat Sangat Akrab dengan Wakil Bupati Aceh Timur

Akhirnya Nur tetap konsisten berjualan sirih disudut persimpangan antara Jalan T Umar dan Jalan TM Zein Kota Langsa dan lapak jualannya ini juga tidak asing lagi buat para langgananannya.

Kepedihan Nur pada saat Kota Langsa di tetapkan sebagai Zona Merah pada pertengah 2021 yang lalu, praktis omzet jualanya sama sekali tidak laku, yang biasanya bisa meraup omzet Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, namun karena diberlakukan jam malam hanya mengantongi uang diantara Rp75 ribu hingga Rp100 ribu saja bahkan dibawah itu.

Kondisi itu terus dialami hingga berbulan-bulan yang terkadang juga mengerutu dalam benaknya yang tak mampu meraup uang dari hasil jual sirihnya.

Ternyata setelah berbulan-bulan ia lewati masa yang sulit itu ada secercah harapan bagi Nur saat ini dan Allah memberikan jalan keluar yang cukup baik.

Dimana dalam kurun waktu dua bulan ini Nur dapat senyum sumringah karena berjualan sirih mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah dan mempunyai prospek yang mengembirakan.

Bayangkan hasil jualan sirihnya kini tiap malam mampu mengantongi omzet sekitar rata-rata Rp200 ribu tiap malam bahkan pada saat malam-malam libur atau akhir pekan bisa lebih dan ini merupakan rezeki yang halal dan bisa menabung untuk masa depannya.

“Alhamdulillah sejak tidak ada lagi jam malam atau PPKM level 3, secara otomatis omzet penjualan sirih saya kian laku,” ujar Nur yang berparas cantik itu sembari tersenyum.

BACA JUGA :  LSM KANA Minta APH Periksa Anggaran Jasa Keamanan Disdikbud Aceh Timur Senilai Rp2,1 Miliar

Tangan-tangan lentiknya sudah terbiasa membalut sirih, dimana daun sirih dipadukan dengan sedikit pinang, lengkuas dan kapur dibalut dijadikan satu serta sebagai pengikatnya ditusuk sebuah cengkeh untuk menambah ciri khas makanan kesukaan orang Aceh itu makin disukai berbagai kalangan.

Untuk memenuhi selera pelanggan kini sirih tersebut juga ada varian yang manis, artinya didalam sirih tersebut dimasukkan gula aren yang telah diracik halus bagi penyuka sirih yang biasa dimakan kaula muda yang lebih memiliki varian rasa manis.

“Ya kita jual sirih ada yang pahit dan ada yang manis tergantung selera pelanggan dan harga sirih ini sangatlah terjangkau dalam satu balutan itu dibandrol hanya Rp1000 rupiah saja, namun pelanggan yang membelinya paling sedikit Rp5000 rupiah dalam satu plastik kecil,” ucap Nur sambil tangannya terus melipat sirih siap saji itu.

Dibalik sikap luwes nan berparah cantik, Nur adalah sosok yang tidak pernah sombong dimana setiap pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor tetap ia sapa dengan senyum manis sembari menjajakan dagangannya itu.

Diujung bincang-bincang singkat itu waktupun bergeser hingga pukul 20.00 menyongsong tibanya sholat Isya yang mana lantunan azan telah berkumandang di Masjid dan penulis mengakhirinya dengan berpamitan untuk berajak menunaikan kewajiban sholat berjamaah sambil menenteng sirih dalam bungkus kecil untuk dimakan.

“Terimakasih bang sudah mau mampir, besok kembali lagi ya, karena sirih buatan Nur selain orisinil juga enak dirasa,” tukas Nur sembari melemparkan senyum manisnya itu. (Rapian).