Langsa | REALITAS – Langsa Town Square, yang digadang-gadang sebagai pusat ekonomi dan rekreasi masyarakat, kini menjadi monumen terbengkalai. Pusat perbelanjaan yang dirancang untuk menjadi pusat kegiatan ekonomi di Kota Langsa ini kian sepi, dengan fasilitas yang mulai terabaikan, bahkan pengerjaannya yang tak kunjung selesai hingga saat ini, Sabtu 28 September 2024.
Kondisi ini diperparah dengan maraknya pedagang kaki lima yang tidak lagi tertib. Mereka memilih menjajakan dagangan di bahu jalan dan trotoar, mengganggu arus lalu lintas kota. Lapak-lapak yang berdiri di sepanjang jalan utama kini menjadi pemandangan sehari-hari, menciptakan kemacetan dan risiko kecelakaan yang dikeluhkan warga.

“Setiap pagi dan sore, jalan di sini penuh, kita mau lewat susah apa lagi kalau ada mobil yang lewat ,” keluh Rahmat (35) salah satu warga Langsa.
Pemerintah setempat tak tinggal diam. Berulang kali peringatan dan sosialisasi disampaikan agar para pedagang menjaga ketertiban. Namun hingga saat ini, masalah penataan pedagang kaki lima belum menemukan solusi yang tuntas. Keadaan ini berdampak pada wajah Kota Langsa, yang dulu dikenal sebagai kota dengan tata kelola yang baik.
Di lain sisi, para pedagang kaki lima punya alasan tersendiri. Minimnya pengunjung di Langsa Town Square menjadi salah satu faktor utama mereka memilih berjualan di jalanan. “Di Town Square sepi, pengunjung nya kurang. Kami juga harus bayar sewa, sedangkan di jalanan lebih gampang dapat pembeli,” ungkap seorang pedagang yang enggan disebut namanya.
Pemerintah Kota Langsa diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan ini. Selain penataan pedagang kaki lima, revitalisasi Langsa Town Square sebagai pusat ekonomi juga menjadi prioritas agar ekonomi masyarakat tetap bergerak dan kota bisa kembali tertata dengan baik. (*)
penulis: Ryfqi, Izzati, Fahmuti












