Sabun Cuci Piring Produksi Home Industri Masyarakat Gampong Bandrong Kecamatan Peureulak

oleh -151.489 views
Sabun
Foto : Mahasiswa IAIN Langsa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Repis.

IDUL FITRI

Oleh : Repis Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, IAIN Langsa

Sabun cuci piring adalah sebuah komoditas yang tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan rumah tangga di masa ini. Pada awalnya sabun cuci yang digunakan oleh orang Indonesia adalah sabun cuci batangan, namun kemudian emakin lama semakin beralih ke sabun colek.

REALITAS TV

Cerita pengenalan sabun pencuci piring di mulai pada pertengahan tahun 80an oleh Unilever berbentuk bubuk dengan merek Rinso.

Namun lambat laun sebagian besar konsumen sabun cuci colek dan batangan berpindah ke bubuk yang menawarkan kepraktisan karena bisa mencuci sekaligus dengan merendam pakaian dalam satu wadah.

Dan diikuti produksi deterjen cuci piring. Sebagaimana yang diproduksi saat ini oleh salah satu pelaku usaha yang ada di Gampong Bandrong Kecamatan Peureulak Aceh Timur.

Alat produksi yang digunakan dalam proses pembuatannya tidaklah banyak dan rumit layaknya pabrik-pabrik besar. Hal ini juga dijelaskan oleh pelaku usaha cuci piring tersebut yang menjelaskan bahwa:

“Untuk pembuatan sabun cuci piring cair ini tidak membutuhkan bayak peralatan dan bahan sehingga membuat pembuatan akan sulit. Produksi rumahan ini menggunakan alat dan bahan sederhana. Produk ini juga ramah lingkungan dan wangi.

Produk ini kami jual dengan harga yang beragam, dimulai dari harga Rp.5.000; hingga yang besarnya Rp.25.000; Dan produksi sabun cuci piring cair ini laris manis baik oleh masyarakat setempat maupun yang dipasarkan ke pasar kecamatan di Peureulak Aceh Timur.” Sebut pemilik usaha sabun cuci piring cair.

Gambar di atas dikemas dengan ukuran yang kecil yaitu seharga Rp. 5.000;. dan akan dipasarkan ke warung-warung yang ada di Kota Peureulak Aceh Timur.

Masyarakat sekitar produksi sabun cuci priring tersebut merespon home industri tersebut dengan positif dan juga menggunakan deterjen cuci piring tersebut sebagai sabun cuci peralatan dapur mereka. Produksi tersebut laris manis di Gampong sendiri dan laris manis juga di pasaran.

Hal tersebut membuat pelimik usaha tersebut membuat produk dengan ukuran yang lebih banyak dan dengan otomatis juga membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Perihal di atas dibenarkan oleh pemilik usaha tersebut dengan menyebutkan bahwa: “Iya alhamdulillah saat ini produksi rumahan kami ini sudah memproduksi dengan ukuran banyak dan merekrut banyak karyawan yang yaitu masyarakat setempat yang awalnya memang tidak memiliki pekerjaan.” Sebut pemilik usaha.

Atas hal tersebut penulis yang langsung mengobservasi lokasi usaha rumahan tersebut sangat mengapresiasi bisnis yang dilakukan Bapak tersbeut.

Karena dengan adanya usaha rumahan tersebut dapat memberi peluang masyarakat sekitar mendapatkan pekerjaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penulis serta rekan mahasiswa yang mengikuti KPM di Gampong Bandrong ini sangat berharap bagi Pemerintah untuk memberikan dukungan moril maupun materil guna pengembangan yang lebih baik lagi bagi perekonomian masyarakat sekitar. (*)

UPDATE CORONA