Syariat Islam dan Toleransi Beragama: Menciptakan Kehidupan Harmonis di Langsa

oleh -82.759 views
Early Ridho Kismawadi, Dosen IAIN Langsa, Ketua Program Studi. Magister (S2) Hukum Ekonomi Syariah

Langsa | REALITAS Kota Langsa, yang terletak di Provinsi Aceh, Indonesia, merupakan contoh nyata dari kerukunan umat beragama di tengah keberagaman. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, kota ini juga dihuni oleh komunitas Kristen, Buddha, dan masyarakat Tionghoa, yang menunjukkan pluralitas agama yang hidup berdampingan dengan harmonis.

Kehidupan sosial di Langsa mencerminkan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Pemerintah Kota Langsa melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) aktif menginisiasi berbagai program untuk memperkuat moderasi beragama, seperti penetapan Gampong Karang Anyar sebagai “Kampung Moderasi Beragama”.

Program ini bertujuan untuk membangun kerukunan antarumat beragama dengan cara mengedepankan dialog, kerja sama, dan saling menghargai perbedaan. Langsa juga menunjukkan keberhasilan dalam menciptakan kehidupan sosial yang inklusif, di mana umat Islam, Kristen, dan Buddha sering berinteraksi dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, dan agama tanpa merasa terpinggirkan atau terdiskriminasi.

Peran ulama sangat penting dalam membangun toleransi melalui dakwah yang moderat, serta pendidikan yang mendukung keberagaman di lembaga pendidikan, seperti di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa. Melalui pendekatan ini, Langsa berhasil menciptakan lingkungan yang harmonis meskipun dalam keberagaman, menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya tentang menghormati perbedaan, tetapi juga tentang membangun kerja sama dan saling peduli untuk kemajuan bersama.

Syariat Islam di Kota Langsa diterapkan dengan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai moderasi beragama, bukan sebagai penghalang bagi kerukunan antarumat beragama. Sebagai bagian dari Provinsi Aceh yang menerapkan hukum syariat Islam, Langsa tidak hanya mengedepankan aspek spiritual dan religiusitas umat Islam, tetapi juga menekankan pada prinsip keadilan, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

BACA JUGA :  Pelantikan KONI Kota Langsa 2025–2029 Resmi Digelar, Unsam dan KONI Jalin Kerja Sama Strategis

Meskipun hukum syariat Islam diterapkan di Aceh, termasuk di Langsa, hal ini tidak menghalangi hubungan yang harmonis antara umat Islam dengan umat beragama lainnya. Sebaliknya, syariat Islam di Langsa lebih dipahami sebagai pedoman moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari yang mendukung nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Dalam konteks ini, syariat tidak dipandang sebagai alat untuk memisahkan atau mengisolasi kelompok-kelompok agama yang berbeda, tetapi sebagai sarana untuk membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan saling menghormati.

Ulama di Langsa memegang peranan penting dalam membangun dan mempertahankan toleransi antarumat beragama, melalui dakwah yang inklusif, pendidikan agama, serta mengadakan dialog antarumat beragama. Mereka tidak hanya berfokus pada penyampaian ajaran agama Islam, tetapi juga berupaya menanamkan nilai-nilai moderasi beragama yang menekankan pada pentingnya hidup berdampingan dalam keragaman. Pendekatan yang dilakukan oleh para ulama di Langsa berfokus pada pendidikan yang mengedepankan pemahaman agama yang moderat dan toleran, yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.

Salah satu bentuk konkret dari upaya ini adalah melalui kerja sama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa, yang aktif menyelenggarakan dialog kerukunan umat beragama. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai agama, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya toleransi dan memperdalam praktik hidup bersama yang harmonis dalam keberagaman. Dengan demikian, ulama dan pendidikan di Langsa berperan sangat besar dalam menciptakan lingkungan sosial yang penuh rasa hormat dan saling pengertian antarumat beragama, yang menjadi fondasi kuat bagi kehidupan yang rukun dan damai.

BACA JUGA :  Pelantikan KONI Kota Langsa 2025–2029 Resmi Digelar, Unsam dan KONI Jalin Kerja Sama Strategis

Kehidupan sosial di Langsa mencerminkan suasana yang inklusif, di mana mahasiswa non-Muslim, seperti yang berasal dari Papua, merasa diterima dengan baik oleh masyarakat setempat tanpa mengalami diskriminasi. Hal ini menunjukkan bahwa Langsa berhasil menciptakan lingkungan sosial yang mendukung interaksi antarumat beragama secara harmonis.

Masyarakat di Langsa mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, sehingga menciptakan rasa aman dan nyaman bagi setiap individu, terlepas dari latar belakang agama atau etnis mereka. Selain itu, lembaga pendidikan di Langsa, baik di tingkat perguruan tinggi maupun sekolah, berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda. Melalui kurikulum yang mengedepankan keberagaman dan kegiatan ekstrakurikuler yang mendorong interaksi antaragama, pendidikan di Langsa turut memperkuat rasa saling pengertian dan menghormati.

Kegiatan-kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa dan mahasiswa untuk memahami perbedaan, bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama dalam masyarakat yang plural.

 

Penulis : Early Ridho Kismawadi
Dosen IAIN Langsa
Ketua Program Studi Magister (S2) Hukum Ekonomi Syariah