Langsa | REALITAS – Rumah dinas rektor IAIN Langsa di Cot Kala yang telah dikontrakkan selama beberapa tahun dengan anggaran negara hingga mencapai puluhan juta rupiah kini menjadi sorotan.
Berdasarkan pantauan masyarakat sekitar dan sejumlah wartawan media online, rumah yang berada di samping lorong Hotel Remilie tersebut tampak tak berpenghuni dan dianggap menjadi “sarang hantu” sebut sejumlah warga sekitar, kepada Media ini Kamis 14 November 2024.
Menurut informasi yang dihimpun oleh beberapa seorang narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa rumah dinas yang disewa dengan biaya sekitar Rp35.000.000 per tahun ini tidak digunakan sepenuhnya oleh rektor. “Rumah dinas yang seharusnya ditempati oleh rektor kini malah dibiarkan kosong dan dihuni oleh ‘penghuni gaib’,” ucap sumber tersebut kepada media ini secara terpisah.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, salah seorang staf kampus IAIN Langsa, menyatakan bahwa rumah dinas tersebut memang disewa untuk tempat tinggal rektor dan tamu jika ada kegiatan tertentu.
“Iya, benar itu rumah yang disewa untuk rumah dinas rektor, juga untuk tamu jika ada kegiatan. Dan masih digunakan,” ujar salah seorang pejabat di IAIN Langsa kepada Wartawan.
Namun, jawaban ini menimbulkan dugaan adanya upaya menutup-nutupi kondisi rumah tersebut yang dianggap tidak sepenuhnya berfungsi sebagai rumah dinas yang disewa untuk tempat tinggal pejabat IAIN Langsa.
Penyewaan rumah dinas rektor yang tidak digunakan secara optimal ini mengundang pertanyaan mengenai pengelolaan anggaran kampus dalam situasi di mana keuangan kampus sedang tidak stabil, keputusan untuk mengalokasikan dana hingga puluhan juta rupiah per tahun pada aset yang kurang dimanfaatkan tampaknya kurang bijak dan terkesan pemborosan.
Jika rumah dinas ini memang tidak digunakan secara aktif oleh rektor atau pejabat terkait, perlu dipertimbangkan alternatif penggunaan yang lebih efisien, atau bahkan penghentian kontrak.
Ketidakjelasan dalam pemanfaatan rumah dinas di tengah kondisi keuangan yang sulit dapat menjadi masalah serius dalam hal akuntabilitas pengelolaan dana publik. Mengingat anggaran kampus berasal dari uang negara, publik berhak mengetahui kejelasan penggunaan dana tersebut, termasuk transparansi mengenai keputusan penyewaan aset yang tampak mubazir.
Hal ini juga menjadi refleksi bagi pihak kampus agar mempertimbangkan ulang kebijakan terkait anggaran, sehingga setiap pengeluaran benar-benar memberikan manfaat yang signifikan dan tepat sasaran.

Bukan hanya rumah dinas saja yang menghabiskan uang Negara bersumber dari APBN ada hal lain lagi yang sedang dilakukan investigasi, penyewaan mobil dinas yang juga dilakukan dengan salah satu perusahaan di Pontianak.

Ada apa dengan kontrak 11 unit mobil dinas untuk pejabat kampus IAIN harus keluar Aceh sementara kampus IAIN Langsa, lokasi nya di Aceh ini yang harus segera dilakukan penyidikan oleh penegak hukum di Langsa. Sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari pejabat terkait di IAIN Langsa, bersambung…..(Tim media grup)












