Kuala Simpang | Realitas – Hubungan darat Banda Aceh-Medan belum kunjung normal sejak Kamis (3/11/2022), akibat banjir besar melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Kota Langsa. kebutuhan Sembilan bahan pokok terpaksa didatangkan via jalur laut.
Sejumlah kecamatan di Tiga daerah ini praktis terkurung banjir.
Kepada Wartawan Irfan Furkan Warga Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang mengatakan, keluarganya sudah Empat hari menahan banjir di Rumahnya dan tidak bisa beraktivitas mencari nafkah seperti biasa.
Irfan Juga mengaku pihaknya belum menerima bantuan apapun dari pemerintah setempat, dan posko bencana banjir yang didirikan di Kecamatan Karang Baru tidak berjalan (tidak ada bantuan), ujarnya.

Sementara banjir juga ikut meluas dan merendam rumah warga ke kawasan seberang sungai Kota Langsa persis di bagian Selatan arah hulu, termasuk Sidoarjo, sebut beberapa warga kepada Indonesia mediarealitas.com, Sabtu (5/11/2022) petang.
“Banjir kali ini terparah bang setelah banjir serupa 2006 lalu”, tandas Muhammad Hanafiah.
Kondisinya sangat memprihatikan, tidak terlihat upaya bantuan pencarian korban meninggal dan bantuan bahan pokok, sudah dua hari banjir tak kunjung datang. Mereka tidak memperlihatkan batang hidupnya. Upaya pemerintah membangun dapur tidak terlihat sebelumnya.
Zainudin Amin Kepala Kantor Pusat armada Bus Putra Pelangi Perkasa, dihubungi media ini di Kantornya Jalan Muhammad Jam Banda Aceh, mengatakan pihaknya telah menyetop penjualan tiket bus ke jurusan Medan, Jakarta-Bogor dan Bandung.
Ratusan penumpang bus dari Medan- Banda Aceh pulang pergi masih terjebak di Aceh Tamiang dan Langkat, Sumatera Utara. Di antara mereka banyak yang mengomel meminta busnya memutar haluan ke Medan dan Banda Aceh serta meminta pengembalian ongkosnya. Mereka seperti tak mau tahu dengan kondisi bencana alam ini, yang bukan kesalahan pihak bus.
Pada Sabtu (5/11/22) tim mediarealitas.com terjun langsung ke lapangan dan tim pun sempat terjebak dilakasi banjir kemudian berhasil lolos dari jebakan dengan cara menumpang truck tronton dan intercooler mengataan sejak hari pertama banjir hingga tadi malam tidak terlihat kesibukan para petugas SAR, Badan Penanggulangan Bencana Alam dan aparat di sana.Tidak juga terlihat boat karet yang hilir mudik di sana.
Menurut Hanafiah, SH salah seorang tokoh Bukit Tempurung dan Z.Amin menyebutnya kawasan ini persis seperti “negeri tak bertuan”. Hal ini sangat berbeda dengan penanganan bencana di daerah lain, tim tanggap darurat langsung berada di lapangan.
Tim wartawan Media Realitas yang melakukan observasi, melihat suasana memprihatinkan. Upaya penyeberangan kenderaan roda dua dan empat yang terperangkap dilakukan atas inisiatif pihak swasta, bukan upaya dari instansi pemerintah.
Kenderaan roda dua dan roda empat yang hendak diseberangkan kedua jurusan titik aman ini dipungut biaya Rp.30.000,- perkenderaan, penumpang Rp.10.000,- sedangkan untuk jenis roda empat tarifnya berkisar antara Rp.700.000- 1.000.000,-.Tarif itu sangat tergantung hasil negoisasi dan besar kecilnya kenderaannya.
Burdansyah AL warga Duri, Riau bersama empatnya sedang melakukan Touring Bengkalis-Sabang bersama lima rekannya dengan Motor Gede (Moge) sesampai di Medan Jumat malam terpaksa mengurungkan niatnya. Kini mereka mondok di Pardede Hotel Jalan Juanda.
Sementara Nyonya NRK Gading warga Gampong Cut Meutia Langsa yang akan bertolak ke Kuala Lumpur dalam rangka pengobatan putranya Dawoodsyah Bintang Muda Jumat 11 November mulai galau. Sementara pihaknya telah membeli tiket pesawat pulang pergi.
M.Husein Kadis Kominfo Pemko Langsa kepada Media Realitas membenarkan, untuk mengatasi kekurangan persediaan lonjakan harga kebutuhan pokok di Langsa, pihak pedagang melakukan pasokan kebutuhan pokok dari Pelabuhan Belawan ke Kuala Langsa Sabtu petang.
Rizal salah seorang pengurus Organda Aceh Tamiang mengungkapkan, seiring putusnya hubungan Aceh-Sumut, harga sembako mulai bergerak naik.
Saat dihubungi media ini, Rizal mengaku sedang berada di Masjid Kota Lintang bersama warga mengunsi di sana.Kondisi rumahnya hanya tampak bubungan.
Sejumlah kantor pemerintah ikut terendam, kecuali Kantor Bupati dan Kantor DPRK saja yang tidak terjangkau air. Rumah banjir di kawasan kantor bupati tergenang hingga dua meter. Wajar kawasan ini sejak dulu disebut “rumah banjir”.Tapi dulu justeru tidak pernah terendam karena bangunan konstruksi kayu bertiang tinggi. Sekarang telah berganti dengan rumah beton rendah, uangkapnya.
Fazly salah seorang pensiunan kepada Media Realitas Sabtu tengah malam mengemukakan kondisi keprihatinan dan terkesan kurang cepat tanggap di lapangan karena Bupati Aceh Tamiang Mursil, SH sedang menjalani perawatan kesehatan di negeri jiran Singapure.
Truk pengangkut ayam dan sayur mayur serta buah-buah terpaksa melelang barang dagangannya dengan harga murah daripada terancam busuk, dan ada sebagian dengan seperti sayur-sayuran terpaksa dibuang. (*)




