Setampuk Harapan Pada Rumpunan Serai

oleh -179.489 views
Setampuk
Potret Muda-mudi saat bergorong royong

IDUL FITRI

Oleh : Jihan Sari Fiana Mahasiswi IAIN Langsa

Dataran itu ceruk. Warnanya kuning. Kala hujan menitikkan air. Permukaannya menjadi licin. Jika sudah demikian. Langkah kaki jadi terhenti.

REALITAS TV

Begitulah kalimat yang dirasa tepat untuk menggambarkan kondisi sebahagian jalanan yang ada di Kel. Beras Basah tepatnya di Gg. Baru Lingk. VI sejak awal Desember 2020.

Ya, dataran yang biasa dilalui warga untuk datang ke ladangnya atau pergi ke kota untuk mencari kebutuhan mereka baik primer ataupun sekunder, menjadi hal yang tak biasa dan mudah setelah Excavator Hidrolis (beko) mengeruk dataran itu pada awal November 2020.

Memperluas jalan agar bisa dijajal oleh kendaraan roda empat dan menaikkan harga jual tanah menjadi alasan salah satu orang bakir di dareah itu.

Tak butuh waktu lama dalam sekejap alat berat itu berhasil menggali dan meratakan permukaan tanah tersebut.

Dan benar saja akses untuk keluar dan masuk ke daerah itu menjadi mudah serta roda empat juga bisa mengangkut hasil panen warga seperti sawit, sayur, ikan, udang, dll.

Sehingga warga di sana tidak perlu bolak-balik dan kesulitan untuk mengangkut hasil panen mereka ke tepian jalan raya untuk di jual ke agen.

Namun sayang hal itu tidak berlangsung lama, setelah memasuki awal desember 2020 kisah sulit nan terjal itu dimulai.

Karena hujan terus saja mengguyur daerah tempat kami tinggal, dataran yang sebelumnya memberi kemudahan bagi warga berubah.

Mengapa tidak, dataran itu berubahan menjadi ceruk, benyek dan licin yang mengakibatkan seluruh aktivitas warga terhambat bahkan terhenti.

Bukan hanya petani yang di buat susah, anak-anak yang ingin bersekolah juga harus melewati jalan yang benyek dan licin itu yang mana jika mereka tidak berhati-hati bisa-bisa mereka terperosok dalam ceruk itu.

Walaupun ada jalan yang bisa dijadikan alternatif, namun mereka harus memutar arah dan melewati jalan yang lebih jauh untuk bisa sampai ke jalan raya.

Sejalan dengan itu, tidak sedikit warga yang mengeluh akan hal tersebut.

Keluhan demi keluhan terlontar dari mulut-mulut warga setempat. Hal ini, membuat Kepala Lingkungan (Kepling) VI Bpk. Arie Dayat tidak tinggal diam.

Walau beliau baru saja menjabat sebagai Kepling di lingkungan VI, beliau telah bergerak cepat dengan menjalankan program kerja untuk menyelesaikan masalah jalan ceruk yang biasa dilalui warganya.

Bukan dengan mengajukan proposal kepada pemerintah atau pejabat tinggi, melainkan Pak Are Dayat  memutuskan untuk membuat suatu pergerakan bersama warga serta pemuda-pemudi di lingkungan VI.

Dengan mempertimbangankan segala potensi yang ada baik dari Sumber  Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM)-nya.

Progam yang akan dijalankan adalah menanam pohon serai di sepanjang jalan yang menjadi ceruk ketika hujan turun.

Beliau memupuk semangat warganya untuk bisa mensukseskan program ini.

Hal ini pastinya tidak semata-mata keputusan Pak Are Dayat sendiri, beliau telah melakukan observasi tentang bagaimana serai itu tumbuh dan apakah terdapat trik-trik khusus untuk menjadikan setangkai serai menjadi rumpunan serai yang natinya bisa berubah menjadi rupiah, dan lain sebagainya- pada petani-petani yang memang sudah lama berkecimpung dalam urusan bercocok tanam serai.

Dan Pak Are Dayat semakin yakin bahwa hal ini nantinya bisa menjadi solusi untuk kondisi jalanan yang ada di sebahagian lingkungannya serta permasalahan-permasalahan yang sekiranya akan muncul kedepannya.

Tumbuhan serai yang tidak membutuhkan perawatan yang ekstra, tidak memiliki batas produksi hasil serai, serta harga jualnya yang kian stabil menjadi pilihan yang sangat tepat, tuturnya.

Pada hari Minggu tepatnya 28 Maret 2021 program tersebut mulai di jalankan.

Dengan 1000 bibit  batang serai yang biasa digunakan untuk bumbu masakan menjadi modal awal kami.

Dengan harapan dari 1000 bibit batang serai itu bisa mengahasilkan pundi-pundi rupiah yang nantinya dapat di pergunakan untuk memperbaiki jalanan yang rusak akibat penggalian alat berat.

Berbekalkan setampuk harapan, cangkul, mesin pemotong rumput (babat), dan pisau.

Para warga dan muda-mudi saling bekerjasama dengan tujuan yang satu.

Dari matahari menyembungikan diri hingga sinarnya menyeka mata, kami terus membersihkan lahan untuk di tanami bibit serai dan  menanam satu demi satu setapak demi setapak hingga bibit serai itu habis.

Dan ketika lelah, kami duduk bersama hanya untuk menghilangkan dahaga dan membakar semangat kami untuk terus berkobar.

Benar saja rasanya semakin hebat ketika kita bisa berdiri di kaki sendiri untuk menggapai mimpi banyak orang.

Bukan hanya itu, dengan adanya program menanam bibit serai ini membuat generasi milenial lebih produktif dan tidak apatis terhadap keadaan sekitar.

Dan hal ini bisa menjadi cerita serta sejarah yang nantinya bisa diceritakan pada anak cucu kami.

Karena inilah kali pertamanya selama lingkungan ini berdiri, warganya di pecut untuk bisa berusaha dengan tangan dan kakinya sendiri untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Gotong royong menjadi landasan utama dari kegiatan ini, karena jika kita membuat sesuatu atau menciptakan suatu hal bersama-sama maka akan tercipta rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya hingga ia mampu mewujudkan apa yang menjadi tujuan dan dambaan kita bersama.

 Akan tetapi terdapat satu hal yang unik dalam penanaman bibit serai, di mana  batang serai ditanam dalam ke adaan miring dan bonggolnya ditutup oleh tanah yang kemudian diinjak.

Hal ini berdasarkan pengalaman dari salah satu petani serai sebut saja Buk Nur bahwa batang serai itu akan banyak cabangnya dan lebat rumpunnnya jika di tanam dengan posisi miring dan tanahnya yang padat karena diinjak.

Terdengar hebat bukan, bibit yang di tanam kemudian diinjak malah menghasilkan banyak cabang dengan rumpun yang kian lebat.

Filosofi serai ini yang harusnya tertanam pada diri kita semua, kenapa? Karena ketika kita melakukan sesuatu kemudian orang-orang disekeliling kita memandang sebelah mata, meremehkan, bahkan menjatuhkan maka yang harus kita lakukan adalah keep growing, berdiri tegak jika memang yang sedang kita lakukan adalah benar.

Dan oleh karena itu, diharapkan program ini bisa menjadi jawaban untuk setiap keluhan demi keluhan yang di rasakan oleh warga Lingk. VI atas dataran yang dikeruk oleh alat berat sehingga menyebabkan jalanan menjadi rusak ketika hujan turun terlebih ketika musim hujan tiba.

UPDATE CORONA