Misteri Makom Momonggor Ciaruteun Udik

oleh -227.489 views
Misteri

IDUL FITRI

Bogor I Realitas – Kemunculan Syeh Suloyo dan Cakra Samudra Di Ciaruteun Udik mengungkap berbagai tabir kisah masa lalu yang telah terjadi dibogor jawa barat, tepatnya disekitar sampalan badak momonggor desa Ciaruteun Udik Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor.

Tentunya ini semua merupakan satu bukti kebesaran Allah Subhanallah taala Syeh Suloyo sendiri adalaha salah satu panisepuh paranormal kondang diwilayah kalimantan timur dan sahabatnya Cakra Samudra dari merapi Jawa Tengah, adapun kemunculannya dimakom momonggor hasil wawancara wartawan seputarbobar.com dan padjadjaran nusantara menjelaskan.

REALITAS TV

Adalah merupakan panggilan jiwa yang mana menurut penuturannya ada sesuatu misteri masalah yang mana sudah saatnya sejarah yang sebenarnya muncul sebagai bukti bahwa di Ciaruteun Udik.

Sejarah yang harus disampaikan kepada masyarakat sebagai cerminan masyarakat agar dari sejarah tersebut bisa dijadikan motivasi generasi mendatang, yang berahlak dan berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa.

Bersama ki rakean dan tokoh masyarakat lainnya atas petunjuk Allah Subhanallah taala, tim pencari fakta sejarah menuju lokasi makom tua di momonggor, desa Ciaruteun Udik Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor baru baru ini.

Tidak cukup sampai disitu saja guna memperkuat fakta sejarah, tiem media seputarbobar.com dan padjadjaran nusantara menemui seorang pujangga ahli makom momonggor.

Sejarah masa lalu yang tidak mau disebutkan nama aslinya sebut saja aki pi,it cucu dari Ronggo warsito, pujangga zaman kerajaan padjadjaran, majapahit dan mataram, dikediamannya di Ciimanggu Bogor, karena keahliannya dalam berkomunikasi langsung dengan para pendahulu yang berkaitan dengan kejadian masa lalu.

Aki Pi, it menuturkan kepada tim disaksikan Syeh Suloyo, Cakra Samudra dan beberapa tokoh lainnya Dalam penuturannya dan menyampaikan adanya bukti fakta sejarah di makom yang bisa masyarakat sekitar sebut sebagai makom keramat Eyang Rafiudin.

Bahwasanya ditempat itu dahulu kala pada masa kerajaan mataram kejayaan Sultan Agung Hanyokro Kusumo, Mataram ada suatu padukuhan sebagai tempat musawaroh berkumpul dengan nama padukuhan pringgo, disitulah yang dikenal masyarakat mbah/Eyang Rafiudin.

Ternyata adalah putra seorang adipati dengan nama adipati Ukur, sedang ukur sendiri adalah nama aslinya adalah kerta wangsa yuda dan Rafiudin sendiri adalah nama aslinya Pringgo Wongso Yudo. Murid kinasih dari Sultan Yusuf / Sultan Maulana Yusuf Cikaduan Banten.

Karena keprihatinannya pringgo wongso yudo di padukuhan pringgo yang sekarang di wilayah Ciaruteun Udik Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor.

Akibat penjajahan kolonial Belanda masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokro Kusumo, yang mana masyarakat pringgo yang belum terjamah dengan pendidikan agama kala itu.

Sehingga pelanggaran moral akidah begitu memprihatinkan sehingga Rafiudin dari nama Rafi = Merapihkan, Udin = intisari agama Yuda adalah anugrah atau manggala / manggala yuda karna pringgo wongso yudo merapihkan kondisi masyarakat kala itu dengan tatanan tuntunan agama Islam dan sebagai pemuka / pemimpin sehingga dipanggil Rafiudin dipadukuhan pringgo dan sekitarnya.

karna belanda tidak suka adanya syiar agama, sehingga Rapiudin diperintah oleh belanda dan diserang oleh belanda sehingga kalang kabut.

Akibat dari kekalahan itulah padukuhan pringgo dijadikan perkumpulan para ulama, para kiyai, para pendekar termasuk si pitung.

Untuk menyusun kembali kekuatan sehingga para ulama para pendekar sakti yang mana ditempat padukuhan pringgo menurut para pendekar terdapat benda benda antik sebagai pusaka yaitu diantaranya Bambu petuk.

Sebagai simbol bertemunya para ulama dan para pendekar untuk menyerang kembali kekuatan akibat serangan belanda dari Batavia ( Jakarta).

Disiitulah pasukan sultan hanyokro kusumo mataram yang dipimpin Rapiudin ( Pringgo Wongso Yudo ), melakukan penyerangan dan merebut kembali batavia yang disebut agresi pertama, sultan agung meyerang belanda di Batavia.

Harapan pesan dari Mbah Rapiudin hasil ritual syeh suloyo, cakra samudra dan dialah di aki pi, it agar ciri makom ditanami pohon kadu dan di jadikan Padepokan SALAKA SILIWANGI, dikasi nama padukuhan astana Pringgo dan minta dibangunkan tempat ibadah model joglo bangunan masa Mataram dengan nama Al-Amin yang artinya terkabulnya.

Harapan pendahulu terwujudnya keinginan pendahulu, dan minta didirikan sarana pelatihan pertanian dan peternakan, serta didirikan gapura simbul Bambu Petuk.

Tempat tersebut merupakan Situs Tangga Utama, sebagai seribu tangga menuju puncak salak Situs utama tangga menuju Puncak Salak dipadukuhan astana Pringgo.

Padepokan Salaka Siliwangi terbentuk Hari Selasa tanggal 6 April2021, atas dasar musyawarah mupakat para tokoh Masyarakat Desa Ciaruteun Udik Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor.

Agar tercipta menjaga makam penuh misteri, karuhun bah Rapiudin di momonggor Sampalan badak dan membina generasi muda agar menghormati para leluhur jaman dulu, tidak melupakan jasa para pahlawan.

Padepokan Salaka Siliwangi nantinya dijadikan tempat menimba ilmu, penggemblengan mental ahlakul karimah dan mencetak generasi yang benar untuk diterjunkan langsung ke masyarakat. 

Susunan pengurus Padepokan Salaka Siliwangi :
Dewan Pembina : H. Pepen, Budi Siswanto
Penasehat Hukum : Rohmat Selamat, SH. Mkn
Ketua : Rahmat
Sekeretaris : Asep Bunhori, Spdi
Bendahara : Aep Saepudin
Humas : H. Maman Sumantri
Pelaksan Lapangan : Muhlis

Amanat dari sesepuh

Sesepuh Panjalu
Sesepuh Pakuan
Sesepuh Siliwangi

UPDATE CORONA