Banda Aceh | Realitas – Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Safarudin, S.H mendesak Kapolda Aceh untuk serius mengusut serta mengambil tindakan tegas oknum yang terlibat dalam penganiyaan hingga meninggal dunia tersangka Saifullah (44) Warga Aceh Utara, oleh anggota polres Bener Meriah beberapa waktu lalu.
Menurut Safarudin apalagi kasus yang mencuat tersebut sudah dilaporan secara resmi ke Polda Aceh, pihak YARA Aceh menilai masyarakat telah resah dan marah atas kejadian ini.
Pihaknya tidak ingin rakyat bertindak main hakim sendiri terhadap pelakunya”, jelas Safarudin melalui humasnya kepada Wartawan, Minggu (05/12/2021).
“Kami mendesak, Kapolda Aceh menyampaikan secara terbuka pengusutan kasus ini seperti atensi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terhadap kematian seorang gadis di kuburan ayahnya, kasus ini juga sudah saya laporkan ke Kapolri dan Komisi III melalui akun Twitter Kapolri juga Ust Nasir Jamil,” jelas Safarudin.
Lanjut Safarudin, kasus penganiyaan terhadap tahanan sampai meninggal bukan hanya ini saja terjadi di Aceh, beberapa bulan lalu pihak YARA Aceh juga mendapat laporan dari masyarakat di Idi, Aceh Timur, bahwa warga Aceh Timur saat ditangkap di Banda Aceh dalam kondisi sehat, tapi berselang jam kemudian juga sudah jadi mayat.
“Dulu Kasat Narkoba Polres Aceh Timur, Darkasyi juga menganiaya tahanan sampai meninggal bahkan mayatnya di buang ke sungai untuk menghilangkan jejak, tapi kemudian terbukti bahwa tewas dianiaya di Mapolres Aceh Timur, saat itu oleh Kapolda Rio Septianda Djambak, Kasat tersebut di proses dan di hukum 8 tahun penjara, tapi apakah di pecat atau tidak saya tidak ikuti lagi,” ungkap Safar.
Masih Safarudin menyampaikan rakyat Aceh gelisah dan geram atas tindakan arogan oknum di kepolisian dan tindakannya seakan mendapatkan legitimasi dari instansi dengan tidak ditindaknya mereka.
“Saya sendiri sebenarnya marah dengan tindakan oknum yang jahat, karena tindakan mereka itu telah membuat rakyat apatis terhadap penegak hukum, juga secara langsung melecehkan anggota polisi lain yang memang melindungi dan mengayomi rakyat, karena tindakan mereka semua polisi dianggap sama, oleh karena itu, saya meminta Kapolda memberikan atensi khusus terhadap kasus ini,”ujar Safarudin.
Sebelumnya, Kapolres Bener Meriah, AKBP Agung Surya Prabowo meminta maaf terkait ulah anak buahnya yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Saifullah, warga Aceh Utara saat dilakukan penangkapan terkait kasus penadahan, beberapa waktu lalu.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Agung kepada keluarga korban saat melakukan silaturahmi ke rumah duka di Kabupaten Aceh Utara, Minggu (5/12/2021). Silaturahmi ini juga didampingi sejumlah personel Polres Bener Meriah dan Polres Aceh Utara.
“Saya menjamin bahwa oknum polisi tersebut sudah diproses hukum oleh Propam Polda Aceh dan saya akan melakukan pengawasan melekat dan berjenjang agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi,” katanya dalam keterangan Minggu (5/12/2021) malam.
Sebelumnya diberitakan, warga Kabupaten Aceh Utara, Saifullah meninggal dunia usai ditangkap personel Satuan Reskrim Polres Bener Meriah. Dia meninggal diduga akibat dianiaya oleh oknum kepolisian setempat.
Perkara ini sudah dilaporkan oleh istri korban, Nilawati ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Aceh pada 2 Desember 2021 lalu.
Nilawati menyampaikan, penganiayaan tersebut bermula saat Satreskrim Polres Bener Meriah melakukan penangkapan terhadap suaminya pada Senin (22/11/2021), di sebuah SPBU di Sumatera Utara dengan dugaan kasus penadahan.
Dari informasi diterima, kata Nilawati, suaminya dipukuli oleh oknum kepolisian saat dilakukan penangkapan. Usai ditangkap, suaminya kemudian dibawa ke Mapolres Bener Meriah.
“Pada 26 November, saya ke Polres Bener Meriah untuk menjenguk suami saya, kemudian diberi tahu kalau suami saya sedang koma di RS Munyang Kute,” kata Nilawati dalam keterangannya, Minggu (5/12/2021).
Saat tiba di RS Munyang Kute, Bener Meriah, Nilawati menyaksikan suaminya terbaring di ruangan ICU rumah sakit setempat dalam keadaan koma. Wajah suaminya juga dalam keadaan babak belur diduga akibat pukulan.
“Suami saya kemudian dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh, hingga akhirnya meninggal dunia pada 2 Desember,” ucap Nilawati.
Editor : Yudi
Reporter : Bunga

