Haul ke 4 Abad Lebih, Ulama Besar Simeulue Syekh Khalilullah (Tgk. Diujung) Pertama Diperingati

oleh -858.759 views
Haul
Peringatan Haul Ulama Besar Simeulue Syekh Khalilullah (Tgk. Diujung) yang dilaksanakan di komplek makam Syekh Khalilullah/ Tgk Diujung, desa Latak Ayah Kecamatan Simeulue Cut, Kabupaten Simeulue. Sabtu, 8 Januari 2022. (Foto/Zulfadli/mediarealitas.com)

Simeulue I Realitas – Peringatan haul pertama Teungku Diujung, yang dilaksanakan di komplek makam Syekh Khalilullah/ Tgk Diujung, desa Latak Ayah Kecamatan Simeulue Cut, Kabupaten Simeulue. Sabtu, 8 Januari 2022.

Dimana dalam peringatan haul ini, keluarga keturunan dari Tgk DiUjung tampil diatas panggung menceritakan sejarah singkat awal mula Tgk Diujung datang ke Simeulue.

Dimulai ia mendatangi kerajaan Aceh berniat hendak menunaikan ibadah haji ke Tanah suci, Hingga Sultan Aceh Raja Iskandar Muda menugaskannya ke pulau “U” (sebutan nama pulau Simeulue saat itu) untuk mengislamkan warga pulau Simeulue.

“Petikan Sejarah Singkat yang di bacakan Oleh Ahlul Bait atau keturunan Syekh Khalilullah/ Tgk. Diujung.

Ketika Iskandar Muda berkuasa pada abad ka-16, seorang ulama berasal dari kerajaan Pagaruyling Sumatera Barat yang bernama Teungku Khalilan Mund dan Syeikh Burhanudgin Ulakan.

Syekh Khalilullah tiba di Aceh dan melaporkan kepada Sultan Iskandar Muda dengan maksud akan melaksanakan ibadah Haji ke Baitullah.

Namun Sultan Iskandar Muda mengajukan kepada Syekh Khalilullah. untuk mengurungkan niatnya melaksanakan ibadah haji, dan ia diminta Sultan Iskandar Muda untuk mengislamkan penduduk Pulau ‘U’ (Pulau Sumeulue) yang saat itu penduduknya masih primitif dan belum beragama termasuk yang berkuasa dipulau U saat itu bernama Datuk Makhudum Alam Sati Sonsang Bulu.

Sultan Iskandar Muda terlebih dahulu menikahkan Syekh Khalilullah dengan Putri Melur seorang perempuan cantik, suci, baik tingkahlakunya, sopan dan santun tutur katanya yang tinggal di lingkungan kerajaan Aceh Darussalam.

Putri melur berasal dari Pulau U Desa Borengan sebagai penunjuk arah dan pendamping hidup Syekh Khalilullah dalam menjalankan tugasnya untuk menyiarkan dan menyebarkan Agama Islam di Pulau U.

Sesampainya biluk/ perahu rombongan Syekh Khalilullah di teluk Simeulue, mendapatkan syarat dan tantangan dari penguasa setempat Datuk Makhudum Alam Sati Sonsang Bulu.

Sebagai syarat bagi Syekh Khalilullah dan rombongan supaya bisa naik ke daratan dan tinggal di daerah sang penguasa.

Adapun syarat dan tantangan yang harus dilalui Syekh Khalilullah, ialah;

1. Memasak beras dalam Periuk tanpa api di tengah lautan. (Periuk dan beras di siapkan oleh raja Sonsang Bulu).

2. Masuk kedalam Guci besar yang di benamkan dilaut selama tujuh hari, tujuh malam. (Guci disediakan Sonsang Bulu).

BACA JUGA :  Usai dilantik Kapolda Aceh Kunker Perdana ke Aceh Timur, Terlihat Sangat Akrab dengan Wakil Bupati Aceh Timur

3. Mendatangi sebuah tempat yang telah ditentukan oleh Sonsang Bulu, pada tengah malam gelap gulita.

Tidak boleh membawa kawan, lampu penerang dan lain sebagainya, melainkan hanya pakaian menempel di badan Tengku Khalilullah. (Dalam riwayat cerita nya malam itu terjadi hujan lebat dan petir).

Dan tiba waktunya, Tengku Khalilullah tiba pada tempat yang ditentukan oleh Sonsang Bulu.

Dalam perjalanan ke tempat yang ditentukan, Tengku Khalilullah di ikuti anak buah Sonsang Bulu bahwa mereka nampak ada cahaya yang terang mengikuti nya.

Kemudian Sonsang Bulu menanyakan kepada Teungku Khalilullah tentang cahaya yang mengikuti, dan Syekh Khalilullah menjawab bahwa cahaya yang terang itu berasal dari Kain Sorban putih yang iya gunakan malam itu.

(Kain Sorban Tengku Khalilullah masih ada sampai sekarang kain putih panjang nya 12 Meter dan disimpan oleh turunan Khalilullah)

Setelah berbagai tantangan bisa dilalui Tengku Khalilullah, maka membuahkan hasil yang sangat menggembirakan, akan tetapi beliau seraya berkata kepada Datuk Makhudum Alam Sati Sonsang Bulu ” Saya kemari bukan untuk menjadi penguasa atau raja didaerah pulau ini.

Tetapi saya hanya menjalankan perintah Sultan Iskandar Muda untuk mengislamkan penduduk di daerah ini dan yang menjadi raja secara umum tetap Saudara Datuk Makhudum Alam Sati Songsang Bulu dan pemerintahan bagian hukum Teungku Khalilullah”. Perkataan tersebut menjadi sebuah ikatan janji yang dipegang oleh masing masing.

Pada akhirnya terketuklah hatinya Datuk Makhudum Alam Sati Sonsang Bulu dan mendapat hidayah dari Allah mengucapkan dua kalimah Syahadat di depan Teungku Khalilullah serta mendukung ajaran Islam yang dibawak Teungku Khalilullah

Berjalan seiring waktu semakin lama semakin tua Teungku Khalilullah pada akhirnya ia Wafat diperkirakan pada awal abad ke 17 masehi dan dimakamkan di ujung teluk Simeulue sehingga masyarakat meberinya gelar Makam Teungku Diujung, dan nama gelarnya diabadikan menjadi nama jalan lingkar Simeulue yaitu Jalan Tgk. Diujung,

Nama Aslinya Teungku Khalilullah diabadikan menjadi salah satu nama Masjid Agung kabupaten simeulue yang ada di Air Dingin Sinabang”

Acara haul Pertama ini diprakarsai oleh Gus Nuril Arifin Husein dan Kapolres Simeulue AKBP Pandji Santoso, tampak hadir Dandim 0115 Letkol Inf Yogi Bachtiar, Kasdim 0115/Simeulue Mayor Inf Rivaldi Rachman Abdul Kadir, para PJU Polres Simeulue dan personil, Camat Simcut dan jajaran serta para Kades, Para Kepala SKPK, para Pimpinan Dayah di Simeulue beserta para santrinya, dan masyarakat setempat.

BACA JUGA :  LSM KANA Minta APH Periksa Anggaran Jasa Keamanan Disdikbud Aceh Timur Senilai Rp2,1 Miliar

Saat menyampaikan ceramahnya Gus Nuril menyebutkan, “sungguh sangat besar jasa Tgk Khalilullah di pulau Simeulue, perjuangannya penuh rintangan. Saat pertama masuk dan menyampaikan dakwahnya untuk menyampaikan Islam di Simeulue ia dihadapkan dengan berbagai tantangan dari Raja Simeulue yang berkuasa saat itu, tantangan dari raja bernama Song-Sang Bulu”.

“Begitu juga hingga sampai saat sebelum meninggal dunia pun, Tgk Diujung menitipkan amanahnya agar suatu saat ia meninggal agar dimakamkan di sebuah ujung dekat laut (sesuai tempat makam Tgk Diujung saat ini), ini memberi pesan dan bukti kecintaan nya kepada warga Simeuelue dan tetap menjaga pulau itu selama-lamanya.

Sebagai salah satu bukti saat terjadi Tsunami di Simeulue, Aceh hinga Asia tenggara pada tahun 2004 silam, makamnya yg hampir tidak memiliki jarak dengan laut, menurut penuturan orang sekitar, komplek makam Tgk Diujung tak tersentuh air laut( tsunami) saat itu”.

Menurut Gus Nuril, itu menjadi salah satunya bukti agungnya seorang waliyullah, walaupun jasadnya telah tiada namun sesungguhnya ia masih hidup ditengah-tengah masyarakat, sebagaimana diketahui pada saat terjadi gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember tahun 2024 silam, warga Simeuelue tak ada meninggal karena air tsunami.

Ada yang meninggal karena akibat reruntuhan gempa.

Sementara, Kapolres Simeulue AKBP Pandji Santoso mengatakan ke media dengan pelaksanaan haul ini adalah sebuah bentuk penghargaan kepada Leluhur agar tetap merawat segala peninggalan dan menjaga agar suatu saat tidak ada yang membelokkan sejarah.

“Jasmerah!, Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, bahwa ulama ulama di Indonesia ini Memang ulama ulama yang luar biasa gigih dalam menyebarkan agama Islam”. Kata Kapolres.

AKBP Pandji Santoso juga saat ini sedang menata dan membugar kembali komplek makam Tgk Diujung, merenovasi dan membangun kembali Musholla dikomplek tersebut yang rencananya dengan struktur dan material permanen.

Termasuk juga pembugaran makam anak Tgk Diujung, yakni makam Tgk Arsalan yang ada disebelah sungai.

Penulis : Zulfadli
Editor : Yudi