IKLAN YARA

Efikasi Diri Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menghadapi Fase Quarter Life Crisis

oleh -379.579 views
Efikasi Dari Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menghadapi Fase Quarter Life Crisis.
Siti Nur Hafizah, Mahasiswi IAIN Langsa

Langsa I Realitas – Efikasi Dari Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menghadapi Fase Quarter Life Crisis.

Fase Quarter Life Crisis, sebuah tahap seseorang mengalami perubahan emosional yang terjadi pada masa perkembangan (transisi) dari remaja menuju dewasa yang menimbulkan perasaan cemas, khawatir yang mulai pada usia 20-an .

Pada fase ini individu lebih sering mengalami ketidakstabilan dalam menghadapi realita kehidupan, terdapat beragam pilihan serta muncullnya kepanikan serta merasa tidak berdaya yang ditandai dengan berbagai macam reaksi seperti frustasi, emosi, panik, dan reaksi lainnya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh The Guardian, ditemukan fakta bahwa 86% dari 1.100 anak muda mengalami Quarter Life Crisis.

Mereka mengaku merasa tertekan untuk bisa sukses dalam semua aspek dengan target waktu tertentu. Hubungan, keuangan, dan pekerjaan diharapkan berhasil sebelum mencapai usia 30 tahun.

Menurut Azri Agusti, M.Psi seorang Priskolog Klinik Fakultas Psikologi Univertitas Gajah Mada, ciri seseorang yang sedang dalam fase Quarter Life Crisis yakni Pertama, mulai muncul keraguan atas kemampuan diri sendiri dan bertanya “apakah aku bisa?, jangan-jangan akan gagal lagi.”

Kedua, tidak adanya motivasi dan mulai ada kekhawatiran atau cemas terhadap masa depan.

Ketiga, mulai merasa kecewa dengan pencapaian yang sudah didapat. Terakhir, mulai mmempertanyakan tujuan dari lahirnya diri di dunia ini.

Beliau berujar, fase ini harus segera ditangani agar tidak mengganggu kesehatan mental yang lebih berat seperti cemas anxiety, terlalu khawatir dan takut.

Jika kita menilai diri sendiri tidak mampu, tidak berharga, maka ini merupakan indikasi bahwa orang tersebut memiliki depresi, tak terkecuali yang dialami oleh para mahasiswa tingkat akhir.

Mahasiswa tingkat akhir adalah mahasiswa yang sedang menjalankan semester delapan atau lebih yang sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir baik dalam perguruan tinggi Akademik, Politeknik, Institut, dan Universitas.

Dalam menghadapi semester akhir, banyak mahasiswa yang mengalami keraguan akan kompetensi yang dimiliki, merasa stagnan dan bingung dengan arah tujuan hidup, serta membandingkan diri dengan teman lain yang pencapaiannya sudah melebihi dirinya.

Masa-masa sulit dimana dengan adanya desakan dari lingkungan serta diri sendiri yang dituntut untuk menjadi seseorang yang mandiri. Beragam.

kesulitan yang harus dihadapi seperti mencari judul skripsi, keterbatasan dana dalam percetakan maupun transportasi, kecemasan dalam berhadapan dengan dosen pembimbing, revisi terus menerus, tuntutan untuk wisuda tepat waktu, kekhawatiran karier, dan rentetan hal-hal yang harus dicapai dalam waktu yang bersamaan.

Bukan hanya itu, setelah lulus mahasiswa juga diberatkan dengan berbagai pilihan antara melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, mencari pekerjaan, menikah, serta problematika lainnya yang dapat menurunkan kepercayaan diri seorang mahasiswa.

Dalam menghadapi fase quarter life crisis pada mahasiswa semester akhir dibutuhkan keyakinan diri atau Self Efficacy yang tinggi, hal ini ditujukan agar mencegah terjadinya berbagai persoalan psikologis khususnya burnout, stress, depresi, dan kehilangan arah tujuan hidup.

Mahasiswa tingkat akhir perlu meningkatkan efikasi diri atau kepercayaan diri mengenai kemampuannya untuk melakukan serta mencapai suatu tujuan tertentu.

Dengan meningkatkan efikasi diri,mahasiswa akan lebih bersemangat, tekun dalam menjalankan aktivitas, tidak cemas dalam menghadapi tantangan baru, tidak pantang menyerah, berkomitmen dalam menyelesaikan segala hal yang dilakukannya, serta dengan meningkatkan efikasi diri dapat membantu mahasiswa dalam progres pengembangan diri.

Efikasi diri dapat ditingkatkan dengan cara :

1.Kognitif, dengan memikirkan cara atau metode yang digunakan dalam mencapai tujuan atau goals yang kita harapkan serta mengembangkan keterampilan atau keahlian diri.

2.Motivasi, dengan membentuk ambisi atau tekad yang digunakan sebagai motivasi untuk dirinya agar bersemangat dalam mencapai hasil yang diharapkan.

3.Afeksi, dengan mengelola atau manajemen emosi agar tidak pantang menyerah ketika mendapatkan hasil yang diluar dugaan.

4.Seleksi, dengan memfilter atau menyaring lingkungan hidup serta tingkah laku yang positif agar memudahkan kita meraih tujuan.

Hindari situasi penuh tekanan yang dapat memperburuk kondisi mental serta bangun circle yang positif.

Penulis : Siti Nur Hafizah, Mahasiswi IAIN Langsa