IKLAN YARA

Remaja di Berau Campur Hand Sanitizer ke Minuman Temannya , 5 Orang Tewas

oleh -35.489 views
Remaja di Berau Campur Hand Sanitizer ke Minuman Temannya , 5 Orang Tewas
Ilustrasi
UPDATE CORONA

Berau I Realitas  – Masyarakat Berau, Kalimantan Timur dihebohkan tewasnya 5 remaja akibat menenggak hand sanitizer yang dikira merupakan minuman keras (miras) oplosan atau Ciu.

Belakangan diketahui pelaku berinisial HK pemberi hand sanitizer merupakan rekan korban sendiri.

Disinyalir pelaku menyimpan dendam kepada para korban lantaran sering dipalak oleh para korban selama ini.

Saat ini pelaku telah diamankan polisi dan mendekam di sel.

Dari keterangan pelaku, ia mengibuli korban dengan mengatakan air yang pelaku kasih adalah miras oplosan yang biasa diminum.

Padahal apa yang diminum pelaku adalah hand sanitizer dicampur air.

Akibatnya, seluruh yang menenggak minuman tersebut tewas.

Ada yang tewas di tempat, juga ada yang menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit.

Lima remaja menemui ajal akibat menenggak minuman yang dicampur hand sanitizer yang disodorkan oleh HK.

Kapolres Berau AKBP Anggoro Wicaksono mengatakan, peristiwa itu berawal dari ketika ada sekumpulan remaja sedang berpesta minuman keras (miras) di sebuah rumah kos di Jalan Tanjung Baru, Kelurahan Sambaliung, pada Jumat (10/9/2021) lalu sekitar pukul 14.00 Wita.

BACA JUGA :   Polisi Tangkap 3 Orang Diduga Terlibat Jual Beli Judi Online Chip

Pesta miras itu kembali dilakukan pada pukul 20.00 Wita di hari dan tempat yang sama.

“Jadi mereka minum miras ini secara bersama-sama.

Dampak dari mereka minum itu akibatnya ada yang meninggal.

Awalnya yang meninggal dua orang. Kemudian bertambah terus. Hingga sampai kemarin, Senin (13/9/2021), sudah lima orang yang meninggal,” ucapnya kepada awak media.

Setelah dilakukan penyelidikan, miras yang diminum itu ternyata hand sanitizer ( HS), yang berasal dari HK.

Akan tetapi, ia mengaku kepada para korban tersebut bahwa minuman itu adalah Ciu (sejenis mimuman keras asal Jawa Tengah), bukan hand sanitizer.

“Korban percaya. Mungkin karena sudah merasa dekat, jadi percaya saja kalau ( miras) itu Ciu, bukan cairan pembersih tangan,” ungkapnya.

Ia memberikan cairan pembersih tangan kepada temannya.

Motifnya untuk balas dendam.

BACA JUGA :   Tengkorak Yang Ditemukan di Kebun Karet, Korban Adalah Warga Gedubang Aceh

Hal itu dilatarbelakangi oleh rasa sakit hati HK, yang selalu dipalak atau dimintai uang oleh kelima temannya tersebut.

“Kejadiannya (HK dipalak) sudah berlangsung sekitar 5 bulan. Apabila tidak memberikan uang, HK diancam tidak akan ditemani lagi oleh mereka,” ujar Kapolres Berau.

Dari pengakuan tersangka, mayoritas yang sering memalaknya, adalah yang meninggal dunia tersebut.

Awalnya, pelaku berniat ingin membuat sakit perut teman-temannya.

“Tapi kebablasan sampai dengan meninggal,” beber Kapolres.

Dikatakannya, hand sanitizer itu HK dapatkan dari tempatnya bekerja.

Hand sanitizer itu kemudian dicampur dengan air putih, kemudian disajikan kepada para korban tadi.

“Akibat meminum cairan pembersih tangan itu, satu orang yakni S (18) meninggal di tempat. Sementara 5 orang lainnya segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Nahas, 4 orang di antaranya meninggal. Sementara satu orang, yakni PT (20) masih menjalani perawatan,” jelas Kapolres.

HK pun akhirnya mengakui perbuatannya.

Didukung dengan alat bukti serta kesaksian dari saksi yang melihat, HK disebut sudah merencanakan aksinya itu.

BACA JUGA :   Mahasiswa Cilegon Apresiasi Polri Dalam Cegah Penyebaran Covid-19

Namun, saat ini polisi belum bisa menetapkan kasus ini sebagai pembunuhan berencana.

“Karena niat awalnya hanya ingin membuat sakit perut, serta pada saat kejadian pelaku juga sempat meminum juga,” tutur Kapolres.

Saat ini, lanjut mantan Koorspripim Polda Jawa Barat ini, pihaknya masih melakukan penyidikan lebih mendalam.

Pelaku disangkakan pasal 204 ayat (2) KUHP karena perbuatannya menyebabkan orang mati atau meninggal dunia.

“Diancam dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama 20 tahun,” ucapnya.

Namun, karena pelaku masih di bawah umur, pihaknya akan menerapkan aturan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum sehingga, proses hukumnya beda dengan pelaku yang berusia dewasa.

Ada aturan perundang-undangan untuk proses pemidanaannya, ada aturan khusus dalam menghadapi pelaku yang merupakan anak di bawah umur. (*)

Source