MEDIAREALITAS.COM – Isma’I adalah seorang ulama besar di Mesir. Suatu ketika beliau duduk diatas batu dan melihat suatu sya’ir yang artinya :
Ada cinta pada hati pemuda * Apa yang harus dilkukan olehnya
Dibalas oleh syekh Isma’i dengan tulisan yang berbentuk sya’ir pula yang artinya :
Hendaklah ia memendam rasa * Pendamlah rasa hingga orang lain tak tahu*
Setelah itu dekatkan diri kepada Allah SWT.
Besoknya syekh Isma’i datanglagi ketempat yang sama, dan ternyata dibalas oleh pemuda yang penulis syair itu, yang artinya :
Bila hati tak bisa hati ini menyembunyikan * Apa yang yang harus pemuda itu lakukan *
Karena semakin menyembunyikan rasa ini * Semakin pula teriris hati ini.
Kemudian syekh Isma’i membalas lagi lagi sya’ir pemuda itu, yang artinya :
Bila hati tak bisa lagi memendam * Maka matilah yang dapat menghilangkannya.
Besoknya syekh Isma’i datang lagi ketempat yang sama, dan melihat seorang pemuda yang tersungkur dan terbujur kaku disamping batu, dan setelah dilihat pemuda itu telah meninggal. Sebelum meninggal ia menulis sebuah sya’ir yang artinya :
Aku terima nasehat mu * Dan sampaikan nasehatmu kepada pemuda * Pemuda yang merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.
Orang yang mati dengan memendam rasa, dia mati mendapatkan pahala syahid, sama seperti halnya orang mati dalam keadaan terbakar. Karna ia mati terbakar memendam rasa cinta.
(Diambil Dari kisah nyata yang tejadi di Mesir)
Penulis : Muhammad Fachri Aziz




