Polisi Amankan Pemilik Toko Yang Jual Obat Tanpa Resep Dokter

oleh -81.489 views
Polisi
Kapolres Blitar AKBP Yudhi Hery Setiawan

IDUL FITRI

Blitar I Realitas – Polisi di Blitar menangkap S, warga Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, yang diduga meracik obat-obat lalu menjualnya ke warga tanpa izin dan resep dokter.

S mengaku belajar meracik obat-obatan saat bekerja di tempat praktik dokter di wilayah Lodoyo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

REALITAS TV

Lalu, selama menjalankan bisnis ilegalnya itu, S menceritakan, tidak ada komplain dari masyarakat yang telah membeli obat racikan miliknya.

“Selama ini tidak ada yang komplain,” katanya saat gelar perkara di Polres Blitar.

Sementara itu, dari penelusuran oleh awak media, salah satu warga yang juga pelanggan toko obat milik S, mengaku obat racikan S tergolong murah.

BACA JUGA :   Danrem 102/ Pjg Berikan Motivasi Kepada Calon Taruna Akmil

Warga asal Desa Kemloko bernama Imron (32) itu mengaku obat milik S juga manjur menyembuhkan gangguan asam urat yang dideritanya.

“Pekan lalu saya beli dua ‘stel’ (paket). Saya baru minum satu ‘stel’ sudah sembuh,” katanya sambil menunjukkan obat yang dia beli.

Obat-obatan itu lalu diracik untuk dijual kembali kepada masyarakat.

“Pembelinya mayoritas masyarakat sekitar toko. Obatnya saya jual Rp 2.500 per bungkus,” ujarnya.

Menurut Kepala Unit Pidana Khusus Polres Blitar Kota Ipda Puspa Anggita Sanjaya menjelaskan, toko obat milik S cukup terkenal di desa sekitar.

BACA JUGA :   DPC AKSI Muara Enim Mempertanyakan Terkait Pemalsuan Tanda Tangan

Salah satu daya tarik toko obat milik S adalah harganya yang murah dan lokasinya yang jauh dari pusat kota.

Terkadang, saat tertentu, kata Puspa, antrian warga di toko obat milik S bisa mencapai puluhan orang.

“Di saat ramai, S akan memanggil antrean 3 hingga 5 orang sekaligus kemudian ditanya keluhannya apa. Dia catat, kemudian dia ke belakang untuk mengambil obatnya,” ujarnya.

Namun, menurut polisi, S lulusan sarjana ilmu pendidikan agama Islam tersebut diduga telah melanggar Undang-Undang tentang kesehatan dan tenaga kesehatan.

Menurut Kapolres Blitar Kota AKBP Yudhi Hery Setiawan mengatakan, omzet penjualan toko obat milik S berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta setiap hari.

BACA JUGA :   Jelang Hari Bhayangkara, Polda Banten Bagikan Paket Sembako

Hal ini sempat dibantah S yang mengaku hanya memiliki omzet sekitar Rp 200.000.

“Saya cuma jual obat mas, Rp 2.500. Saya hanya jual obat,” ujarnya kepada wartawan yang menanyainya.

Namun, menurut polisi, S lulusan sarjana ilmu pendidikan agama Islam tersebut diduga telah melanggar Undang-Undang tentang kesehatan dan tenaga kesehatan.

S saat ini telah ditangkap dan polisi mengamankan 99 barang bukti berupa obat-obatan dan alat kesehatan. (*)

Sumber: Kps

UPDATE CORONA