36419 KALI DIBACA

Ilmu, Keulamaan Dan Tipu Daya Setan

Ilmu, Keulamaan Dan Tipu Daya Setan
example banner

Jakarta | Realitas – Ustad Achmad Maimun, salah seorang lulusan S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan saat ini tercatat sebagai salah seorang dosen IAIN Salatiga, menceritakan bahwa ada tiga maqam akal menurut Imam al-Ghazali, Kamis (25/04/2019).

Agar dapat menggunakan ilmu yang tersimpan dalam memorinya maka orang berilmu tidak cukup mengandalkan kekuatan akalnya semata.

Karena di samping memiliki kekuatan, akal manusia juga memiliki keterbatasan dan kelemahan.

Di sinilah pentingnya orang alim, senantiasa bermohon kepada Sang Pencipta Ilmu agar ilmunya bermanfaat dan tidak menyesatkan.

Para ulama terdahulu, jika menulis sebuah karya biasanya didahuli dengan penyandaran diri kepada Allah agar bisa meraih manfaat dan terhindar dari mafsadat.

Misalnya, seperti ini,
Maksudnya: Saya telah susun buku ini seraya menghindari berbagai fitnahnya, juga takut akan ujian-cobaannya, seraya mengungkap hal-hal yang tersembunyi darinya, mengungkap kebatilannya yang masih tersembunyi, dan Allahlah yang memberikan pertolongan dengan kemurahan-Nya kepada setiap orang dengan tujuan yang benar.

Ada (banyak versi) kisah yang layak dijadikan renungan bagi orang-orang yang berilmu, bahwa sehebat apapun orang berilmu, dia pasti memiliki kelemahan yang dapat menyeret pada jurang kenistaan.

Kisah tersebut menceritakan tentang keterlibatan setan dalam menggoda seorang Rahib (Bani Israil) dahulu kala, yang dititipi seroang gadis sakit agar diobati.

Mungkin karena sakitnya yang kronis maka ditinggallah gadis syantik itu di rumah Rahib tersebut. Hla, karena tergoda oleh kesyantikannya mandanganumu suatu ketika terjadilah anu, Berikut ini petikan kisah tersebut, Maksudnya: Zaman dahulu kala ada seorang Rahib (dari kalangan Bani Israil) yang digoda oleh setan lewat seorang gadis, jadi begini, gadis ini dibuat sakit oleh setan (kemudian keluarganya kan ingin gadis ini segera sembuh), nah setan mandanganu membisiki anggota keluarganya bahwa obat gadis itu hanyalah ada di tempat Rahib, kemudian keluarganya mendatangi Rahib dan memintanya untuk bisa mengobatinya, rahib kemudian menolaknya, akan tetapi keluarganya selalu mendesaknya untuk mau mengobatinya, karena terpaksa kemudian Rahib mau menerima gadis ini selanjutnya untuk diobati dan tinggal di rumahnya, dengan berjalannya waktu, mandanganumu setan menggoda Rahib untuk melakukan perbuatan anu, dan akhirnya hamillah gadis tersebut.

Setan kemudian datang ke Rahib dan berkata; “Nah sekarang akan terbuka aibmu, karena keluarganya akan datang kepadamu, maka bunuh sajalah gadis itu, jika mereka datang dan tanya tentang anak gadisnya itu, bilang saja dia telah meninggal dunia, mandanganu ia bunuh dan ia kuburkan gadis itu.

Selanjutnya setan mendatangi keluarga gadis tersebut, dan membisikkannya bahwa anak gadisnya telah dianu oleh Rahib hingga hamil dan sekarang sudah dibunuh dan dikubur di suatu tempat tertentu.

Mendapat bisikan itu mereka mendatangi Rahib dan menanyakan tentang anak gadisnya, Rahib pun menjawab bahwa ia telah meninggal dunia.

Akhirnya keluarganya (tidak percaya dan tidak terima) dan kemudian menghukumnya.

Nah, di tengah-tengah keterpurukan hukuman itu setan mendatangi Rahib, dan berkata: ”Saya yang memukul dan yang mencekik gadis itu, saya pula yang mendatangi keluarganya dan membisikkan mereka tentang peristiwa ini, dan saya pula yang membuat kamu terlibat dalam skenario ini, sekarang, sujudlah kepadaku sebanyak dua kali niscaya kamu akan selamat, maka Rahib itupun menuruti perintah setan untuk bersujud dua kali kepadanya.

Nah, setelah bersujud beneran, setan tidak mau bertanggung jawab atas kekufurannya, setan cuci tangan dari ajakan busuknya, hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. al-Hasyr [59]:16 Artinya: (bujukan mereka itu) Seperti (bujukan) setan ketika membisikkan kepada manusia; ”kafirlah kamu”, maka ketika (manusia) telah menjadi kafir dia (setan) berkata: ”saya berlepas tangan dari kamu, sesungguhnya saya takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Setan tidak pernah akan ikut bertanggung jawab atas perbuatan manusia, dia akan lepas tangan dari kejelekan yang dilakukan oleh manusia, meskipun hal itu atas bujuk rayuannya, perbuatan baik dan buruk semua akan kembali kepada para pelakunya masing-masing.

Kelakuan setan yang direkam oleh al-Qur’an itu, sepertinya juga sudah dilaksanakan oleh manusia.

Di saat -misalnya- melakukan korupsi, jual-beli jabatan (umpamanya: kamu tak jadikan anu, tapi kamu harus mbayar sekian, dengan dalih *hla wong kencing di terminal saja mbayar kok), sogok-menyogok, pungli (umpamanya: bagi siapa yang diterima jadi anu, harus setor uang sebesar sekian) pas dapat enaknya biasanya masih bersama-sama.

Tapi ketika sudah ada yang tertangkap KPK, maka pelakunya akan saling seret dan juga akan saling melepaskan diri dari tanggung jawab, meskipun sebelumnya hubungannya akrab sekali.

Teman-temannya akan bilang wah saya ndak kenal , kalo kenal ya hanya kenal begitu saja, ndak ada hubungan apa-apa, kalau diseret-seret ke suatu kasus, temannya pasti bilang ndak tahu saya, itu pitnah (baca: fitnah) saja itu.

Intinya ingin melepaskan diri dari keterlibatan dosa orang lain, meskipun sejatinya juga terlibat dan ikut makan ”rotinya”.

Yang semacam itu ternyata pas banget dengan kelakuan setan yang diceritakan oleh al-Qur’an tadi.

Apa yang bisa dipetik dari kisah dan uraian di atas adalah bahwa, setiap orang berilmu sehebat apapun ia, pasti ada titik kelemahannya.

Titik kelemahan itulah yang akan menistakannya pada jurang kenistaan sedalam-dalamnya. Karena itu memohon perlindungan agar senantiasa diberikan ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, seyogyanya perlu selalu kita panjatkan kepada Allah. Seperti sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah berikut ini, artinya: Ya Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusus’ dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari do’a yang tidak terkabulkan.(Zoni Jamil)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS