Selamat Jalan Wartawan Panutan, Dedikasi Akmal Piliang Tetap Dikenang

oleh -55.579 views
oleh
Selamat Jalan Wartawan Tulen Akmal AZ, Dedikasimu Selalu Dikenang
Almarhum Akmal AZ semasa hidup dan istrinya Fatmawati. (Foto Adnan NS)

“Innalillahiwainnailaihirajiun.” Selamat jalan menuju syurga Jannatunnaim wahai kolega baik kami. Guru kami, teman diskusi kami, teman senda gurau dan redaktur berdedikasi, berdisiplin tinggi dan loyalis surat kabar Waspada.

Oleh Adnan NS

SENIN 24 hingga Jumat 28 Juni 2024 Saya berada di kampung halaman, Kruengsabe, Aceh Jaya.

Tiga petang dan pagi berturut-turut pucuk durian tinggi di atas bukit belakang rumah Saya itu terbusing.dengan suara lengkingan burung elang.Apakah ini tanda- tanda alam. Saya agak galau lalu hati bergumam? Ada apa gerangan dan siapa lagi teman dekat atau anggota keluarga bakal berduka?

Ini tak boleh dipercaya, tapi kadang kala simbol alam dari lengkingan burung elang sering menjadi kenyataan dalam kehidupan. Hal ini sempat Ku pertanyakan pada Novi Meliyanti putri sulung Saya, meski Dia diam membisu Wallahualambissawab??

Siang itu Saya sedang menunggu jemputan bus EL-300 menuju Banda Aceh.Setiap Jumat petang tugas rutinitas Saya mengajar di Fisipol Unida.Hape agak berputar terus di meja makan akibat getaran masuknya Weawan.

Kala itu jarum arloji di rumah menunjukkan angka 10.38 Wib. Hari itu Saya baru menyentuh hand phone android agak sedikit kesiangan. Sebelum membuka grup WhatsApp Forum Wartawan Waspada, mata Saya langsung menangkap sebuah notifikasi aslinya menempel di layar luar bertuliskan:”Alfatihah… Innalillahiwainnailaihirojiun, almarhum orang baik, wartawan berdedikasi tinggi, kritis demi kebenaran dan keadilan menegakkan kebenaran amar makruf nahi mungkar, srmoga Husnul khatimah, Kel yg ditinggal diberi ketabahan”. Sumber tulisannya dari sosok tak asing H.Sofyan Harahap sang Wapemred Waspada.

Message di atas masih blind.Pesan itu belum menjelaskan siapa gerangan yang dimaksudkan sudah sudah menghadap sang khalik itu?Boleh jadi Sofyan rekan seangkatannya mengalami shock atau keterkejutannya. Lalu buru-buru mengetik pesan duka atas kepergian sahabat kentalnya itu sehingga terketik Alfatimah(bukan Alfatihah).Kedua terketik srmoga, semestinya semoga.

Keingintahuan Saya semakin menggebu. Secara intra personal hati Saya bertanya.Siapa gerangan dimaksudkan itu?Saya geser lagi layar android ke atas.Alangkah terperanjatnya, melihat nama jelas H.Akmal Ali Zaini telah pergi untuk selamanya.Tentu ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kegalauan Saya yang mendengar lengkingan si burung elang itu.

Akmal AZ panggilan akrapnya, adalah suami Fatmawati dan ayah dari empat putra serta Atok dar 10 cucunya, kini telah menghadap sang khalik.
Waktu ajal menjemputnya tepat pukul 09.50 WIB. Padahal sebelumnya tidak ada firasat buruk dan tidak ada pula berita tentang kondisi kesehatannya itu.

Akmal selama lima hari belakangan agak kurang selera makan, kondisi badannya sedikit melemah.Malam harinya menjelang kepergiannya, kondisinya kembali membaik dan sempat menonton bola di televisi. Pagi sebelum meninggal sempat makan lontong sayur beberapa potong, lalu tiba-tiba badannya menggigil berat dan langsung dilarikan ke RSUP Adam Malik. Diduga almarhum meninggal dunia dalam antrian panjang sebelum disentuh tangan dokter, sebut isterinya Fatmawati kepada penulis di rumah duka Selasa, 2 Juli 2024 petang.

Katanya, sehari sebelumnya almarhum sempat dibawa berobat jalan ke RSU Malahayati, akibat menderita menceret.

“Innalillahiwainnailaihirajiun”. Selamat jalan menuju syurga jannatunnaim wahai kolega baik kami. Guru kami, teman diskusi kami, teman senda gurau dan redaktur berdedikasi, berdisiplin tinggi dan loyalis surat kabar Waspada Medan

Kepergian Akmal AZ ini, bukan saja kehilangan bagi keluarga dan kerabat dekatnya saja. Tapi juga kehilangan seorang sosok Redaktur Senior Media Online Indonesia Global Net di bawah naungan PT Indonusa Global Media.

Tak disangka kalau Akmal dan isterinya Fatmawati ikut datang menghadiri milad ke tiga IndonesiaGlobal Net dipusatkan di Pulau Weh Sabang tahun lalu.Di luar dugaan, kehadirannya ke Sabang itu pada peringatan media ini untuk pertama dan terakhir pula. Selamat jalan wahai sahabat setia kami.

“Engkau sangat berjasa dan luas pemikiran dan sangat toleran serta berlapang dada sesama wartawan di mana pun dan kapan pun suka berbagi ilmu sesama tak terkecuali dalam membimbing unior atau kadernya”. Semoga Allah SWT akan membalas kelapangan hati Mu selama ini dengan kelapangan hamparan kuburan Mu. Amin.

Engkau juga telah meletakkan dasar-dasar “keredaksian kecil” di Aceh tempo hari.Untuk menjadi daya tarik dan rasa memiliki surat kabar bernuansa ke-Aceh-an kami dulu sepakat membukaan kolom sintilan “Cutiet Bacut”(cubit sedikit). Kolom “Boh Rom-Rom Buleuen Puasa (Onde- Onde Bulan Puasa), serta kolom Aceh Singkat.

Kebaikan dan jasa baik Mu tetap kami kenang sepanjang masa dan ilmu yang Engkau bagikan kepada para wartawan menjadi sadaqah jariah yang akan terus mengalir sepanjang masih berguna untuk orang lain. Kita boleh sudah tak bisa bertatap muka lagi, namun kenangan masa hidupnya sulit kami lupakan.

Akmal A Z kelahiran Medan 20 Oktober 1955 berkerja di Surat Kabar Harian Wspada sejak 1977. Setamat STM Medan dari job paling rendahan sebagai corector, layouter, hingga menjadi redaktur rubrik Daerah Istimewa Aceh, redaktur siang dan malam secara silih berganti Anda tekuni.Usia almarhum dengan Saya betaut kisaran dua bulanan. Saya lahir Ahad 14 Agustus 1955 diterima kerja di Harian Waspada 29 September 1980. Begitu pun kami sering kesamaan sudut pandang hingga akhir hayat di kandung badan.

Kami sering berpartner dalam tugas liputan dan pengembangan pemasaran.Terutama ketika Saya dipercayakan menduduki job Staff Khusus Pemimpin Umum(PU) Waspada 2010-2022.Kami menerobos hutan belantara dengan Grand Max hingga harus bermalam di hutan akibat pecah ban. Bersamanya kami mengitari lingkaran nol Aceh-Medan dengan mengitari ruas jalan mirip sirip ikan.

Itu kami lakukan persis setahun pasca tsunami.Kondisi jalan buruk dan setiap sungai harus diseberangi dengan rakit pelayangan terbuat dari kayu.

Akmal A Z ini merupakan sosok wartawan low profile, wartawan tulen yang tak pandai berneko- neko. Sifat membimbing, mengedukasi dan memotivasi para uniornya tanpa pilih kasih dilakukan dengan kesabaran.Makanya rekan-rekan wartawan waspada di Aceh dan Sumut sangat merasa kehilangan begitu mendapat berita kepergian sosok sang redaktur ini.

Konon, meninggalnya tergolong tiba-tiba tanpa didahului masa kesakitan panjang. “Ayah tidak sakit om, cuma mengalami tekanan asam lambung sekitar Kamis malam dan pada Jumat paginya mengalami kedinginan luar biasa, hingga akhirnya menghembus nafas terakhir tanpa pesan”, tulis Mursal Alfa Iswara via Weawannya.

Keharuman nama Ayah empat orang putra(Imran Faisal, Iskandar Muda, Mursal Alfa Iswara dan Afriandy)tidak hanya di kalangan wartawan Waspada saja.Bagi Wartawan lainnya di Aceh namanya sangat tidak asing tentang sosok almarhum ini.

Selain murah senyum, Akmal Ali Zaini Piliang ini pernah menjadi Kepala Perwakilan Harian Waspada Banda Aceh 1983-1986.Almarhum menggantikan Zainal Arifin alias Papa finpin. Jabatan ditinggalkan almarhum diisi Zulfan Idris.

Seiring keakraban dan keterpautan rasa emosional ke-Aceh- annya, nama Sultan Aceh pun ditambalkan untuk putra keduanya.Putra ketiganya Mursal Alfa Iswara juga kelahiran Banda Aceh.
Ibarat reuni, Akmal dan keluarga besarnya termasuk para menantu, cucu sering diboyong berkeliling Aceh.

Bagi Akmal dan keluarganya, selain menikmati keindahan alam Aceh sekaligus bernostalgia sambil makan dan mencemplung diri dalam kebiruan air laut Ulee Lheue, Ujong Batee, Lhoknga dan Lampuuk.
Ketiga lokasi di atas hampir saban pekan dikunjunginya selama tiga tahun stay di Tanah Rencong.

Pada masa Almarhum memimpin, Perwakilan Waspada, kantor surat kabar tertua di Sumatera ini mulai bersinar dan sering ramai dikunjungi wartawan lainnya. Halaman kantor di Jalan Cut’ Nyak Dhien (Muhammad Daudsyah) belakang SMEP(Sekolah Menengah Ekononomi Pertama) kala itu, bak bursa seluruh surat kabar dan majalah terbitan Jakarta dan medan.

Atas usulannya hasil rapat kami, Management Kantor Pusat Jalan Soeprapto 1 Medan ikut tmemfasilitasi kenderaan khusus roda empat jenis Colt 2-T untuk keperluan antar jemput koran dari Bandara Blang Bintang -Banda Aceh.Kenderaan mini bus cilik dan ramping merek Honda eks dr.Rayati Safrin sebelumnya, menggunakan penggerak geer rantai besar, tak mampu mengangkut koran dalam jumlah besar.

Dari pojok China Town, Peunyong ini, media massa cetak didistribusikan ke berbagai sudut kota Banda Aceh dan Aceh Besar hinggga ke Kota Jantho. Ini semua berkat peran besar para sub agen dan ankor(Anak Koran). Surat kabar bertiras terbesar di Aceh masa itu.Surat kabar lokal Serambi Indonesia, baru terbit perdana 9 Februari 1989.Pangsa pasarnya merajai hingga pelosok desa seseantero Aceh ketika itu.

Masih di bawah kepemimpinan Piliang ini kami(Akmal AZ, M.Yusuf USA, Ismail M.Syah dan Saya)pada 1986 sepakat mengusulkan pembelian Ruko untuk kantor redaksi kecil dan kantor pemasaran Waspada Aceh.

Kebetulan Asrama panggung Gajah Putih Kodam Iskandar Muda kontruksi kayu sedang berproses tukar guling assets dengan pihak swasta.Harga ruko masa realisasi 1987 itu jika tak salah, kisaran Rp.165 jutaan atau sekitar 1.000 mayam atau 3.300 gram emas masa itu.Ini dinego dan dihandle langsung agen tunggalnya M.Yusuf USA, dengan sapaan akrapnya Mayu.

MelIhat besarnya pasar koran ini, Surat kabar Sinar Pagi terbitan Jakarta mencoba berekspansi menjadi Sinar Pagi versi Aceh. Artinya surat kabar dengan lay out dan isi materi yang sama diicetak ulang di Medan pada sore harinya. Hari dan tanggalnya dirubah untuk keesokan harinya.Seolah-olah itu koran pagi di Aceh. Bukan hasil manipulir hari dan tanggalnya. Malamnya dari Medan-Aceh diabgkut dengan Bus PMTOH. Persis pagi harinya telah beredar di Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. Sementara Waspada diangkut siangnya dengan maskapai Garuda Air Ways siang (GIA).

Tentu Akmal berang dan menugaskan Saya untuk menyelidiknya bagaimana proses masuknya surat kabar jalur tikus ini.Muhammad Said, Tokoh Pers dan Pendiri Waspada ikut mencela praktik jahat ini dan melayangkan protes keras kepada pihak SPS Pusat, hingga peredaran koran via “lorong gelap”itu harus dhentikan seketika itu juga.

Suami Fatmawati ini adalah putra dari tujuh bersaudara pasangan Ali Zaini Asmah. Tak banyak yang tahu kalau mereka berasal Koto Pilliang, Singkarak, Sumatera Barat.Di antara tujuh bersaudara ini dan ortunya tak satu pun menambalkan gelar Pilliang. “Entah lah, pokoknya tidak ada yang menggunakan gelar itu”, sebut Akmal begitu mengetahui Saya baru kembali dari perbukitan Desa Suliak Ayi 2019 lalu. Akmal dan Saya merencanakan perjalanan Travelling khusus dua tahun mendatang ke Balai Gadang Adat si Mawang Perdamaian Koto Piliang Langgam Nan Tujuah, Sumbar. Cita-cita terakhir ini yang belum sempat terkabulkan. Kini Dia telah tiada.