Polisi Diminta Tangkap Pelaku Acam Bunuh Wartawan Di Aceh Tengah

oleh -155.579 views
oleh
Polisi Diminta Tangkap Pelaku Acam Bunuh Wartawan Di Aceh Tengah
Sejumlah wartawan dan aktivis di Aceh Tengah menggelar aksi di depan Polres Aceh Tengah, Jum'at (11/2022) Foto Ist

Takengon | Realitas – Massa yang tergabung dalam wadah wartawan, baik IJTI, PWI, dan AJI serta aktivis mahasiswa menggelar aksi tolak kasus ancaman pembunuhan kepada wartawan, di depan Polres Aceh Tengah, Jum’at (11/11/2022).

Massa ini menuntut polisi untuk menangkap pelaku pengancaman hari ini juga. “Tidak ada kata damai, hari ini pelaku pengancaman harus ditangkap oleh Polisi. Hari ini senior kami diancam, besok-besok kita yang diancam,” kata Muhammadin dalam orasinya

Menurut Ketua PWI Aceh Tengah, Wen Yusri Rahman, jika delik pers yang dilanggar bukan malah mengancam wartawannya, melainkan membantah tuduhan yang diberiktakan oleh senior mereka, Jurnalisa.

“Senior kami ini sudah memenuhi unsur, sudah mencoba untuk melakukan klarifikasi lewat telepon, namun tidak diindahkan. Malah mengancam, ini jelas melanggar dan masuk ranah pidana,” kata pria yang kerap disapa Wyra.

Ia juga meminta pihak kepolisian untuk menindaklanjuti laporan yang dilayangkan oleh pelapor. “Kami minta usut sampai tuntas, ini pembunuhan terhadap profesi jurnalis,” kata Wen Rahman.

Sementara itu, Iwan Bahagia, perwakilan AJI Bireuen turut menyampaikan orasi. Ia berharap pihak kepolisian mengusut tuntas, hingga proyek yang diberitakan itu menjadi objek perhatian oleh pihak penyidik.

Kronologi kasus

Tak lama setelah mendapat ancaman bunuh tersebut, Jurnalisa menuju ke Mapolres Aceh Tengah membuat pengaduan.

Berdasarkan Surat Pengaduan Nomor: Reg/78/XI/2022/Aceh/Res Ateng, disebutkan peristiwa itu terjadi Kamis, 10 November 2022 pukul 19.55 WIB di Dusun Kemala Pangkat, Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah.

Korban (Jurnalisa) mengadukan pengancaman yang dialaminya. Saksinya Nur Samsiah (46), pekerjaan PNS, alamat Dusun Kemala Pangkat, Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah yang tak lain adalah istri Jurnalisa.

Pelaku pengancaman yang dilaporkan berinisial Am, laki-laki, warga Kampung Takengon Timur, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah.

Berdasarkan pengaduannya kepada polisi, pada Kamis, 10 November 2022 sekira pukul 15.30 WIB, dalam kapasitasnya sebagai wartawan, Jurnalisa mengecek proses pembangunan Pasar Rejewali, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.

Selanjutnya Jurnalisa membuat berita terkait pembangunan fisik pasar tersebut dan mengirim ke media Harian Rakyat Aceh.

Berita itu sudah tayang di media online kabargayo berjudul, Proyek Pengerjaan Pasar Rejewali Ketol Diduga Dikerjakan Asal Jadi dan Lambat, Anggaran Sangat Fantastis.

Beberapa saat setelah berita itu tayang atau sekira pukul 19.55 WIB, Kamis malam, 10 November 2022, ketika Jurnalisa sedang di rumahnya bersama keluarga, di Dusun Kemala Pangkat, Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen, tiba-tiba terdengar ketukan pintu garasi.

Jurnalisa  langsung keluar membuka pintu dan dia melihat ada dua pria yang dia kenal bernama (inisial) Am dan Rah.

Jurnalisa mempersilakan kedua orang itu masuk namun Am dan Rah berteriak-teriak sambil mengatakan dalam bahasa gayo, gere beteh ko rom sa ko berorosen (nggak tahu kau dengan siapa kau berurusan).

Laki-laki berinisial Am, menurut laporan Jurnalisa kepada polisi sempat mengacungkan tangan hendak memukul dirinya namun Jurnalisa berusaha tenang dengan mengatakan, seber-seber, hanani-hanani Am (sabar, sabar, ada apa ini ada apa ini Am).

Am dilaporkan semakin emosi sehingga dia sempat berulang kali mengeluarkan kata-kata, ku unuhen kase ko (kubunuh nanti kamu).

Di saat itulah, istri Jurnalisa (Nur Samsiah) ke luar dari dalam rumah dan melerai suaminya dengan Am.

Am mengatakan, konfirmasi ko berita a ku unuhen kase ko (kamu konfirmasi berita itu, kubunuh nanti kamu).

Tak lama kemudian, tetangga Jurnalisa juga keluar dan bertanya, hana hana mu kune kam ni? (apa, apa, kenapa kalian ini?).

Setelah ramai-ramai begitu, Am dan Rah langsung pergi dari halaman rumah Jurnalisa.

Menanggapi kasus itu, Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus pengancaman yang dialami wartawan Harian Rakyat Aceh di Takengon, Aceh Tengah bernama Jurnalisa sehingga bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada wartawan yang menjalankan tugas profesinya berdasarkan undang-undang. (*)