172 Geuchik Sekabupaten Aceh Jaya Lakukan Studi Contoh Di Bandung

oleh -127.579 views
oleh
172 Geuchik Sekabupaten Aceh Jaya Lakukan Studi Contoh Di Bandung
Para geuchik sedang sedang mendengar wejangan

Bandung | Realitas – 172 Geuchik Sekabupaten Aceh Jaya melakukan studi contoh ke berbagai desa di Kabupaten Bandung Barat dan Bandung Selatan selama tiga hari.

Rombongan bertolak dari Aceh Jaya, Senin (06/06/2022) dengan jalan darat hingga ke Medan.

Dari Medan Selasa, (07/06/2022) terbang langsung ke Bandung.

Hari ini Rabu, 08/06/2022 delegasi Aceh Jaya yang tergabung Asosiasi Pemerintahan  Desa Seluruh Indonesia (APDESI) di bawah pimpinan Teuku Ali Munir  melakukan Studi Contoh di Desa Lembang, Bandung Barat.

Ketua APDESI Aceh Aceh Jaya  Teuku Ali Munir mengatakan, perjalan panjang dari Aceh Jaya ke Bandung via darat dan udara  yang melelahkan ini ingin memperoleh suatu hal baru.Apa yang ada hal baru di sini kelak bisa dikembangkan di sana.

Tanpa dicontoh lebih dahulu tidak mungkin apa yang bakal  dikembangkan di sana. Karena itu studi contoh sangat diperlukan untuk kemajuan desa kami, katanya lagi.

Kadis DPMPKB Dra. Salbiah, MM mengatakan para geuchik/kades se Aceh Jaya didampingi para camatnya sangat antius melakukan studi contoh ini untuk kemajuan desanya masing-masing.

172 Geuchik Sekabupaten Aceh Jaya Lakukan Studi Contoh Di Bandung
Kades Lembang, Kadis DPMPKB Bersama BUMDES

Apalagi kondisi mereka di belahan Barsela, Samudera Indonesia selama didera covid 19 praktis terbelenggu.

Selama masa Covid hampir tiga tahun, para keuchik sangat letih menangani keharusan vaksin bersama POLRI dan TNI.

Kades Lembang Yono Maryono dalam memimpin desa antara pihaknya dengan warga menerapkan manajemen curhatan.Warga harus mendengar arahan sang kades, begitu  juga sebaliknya kadesnya harus menampung uneg-uneg warganya.

Kades bukanlah seseorang bertahta ke rajaan, tapi adalah seorang presiden kecil yang disumbangkan suara oleh warga berdasarkan hasil urukan.

Dalam praktiknya kades bukan seorang politik praktis, tapi kades itu tidak sebagai politik sosial yang selalu berkomunikasi secara sosial dan selalu melihat sesuatu dari segi kacamata sosial semata, katanya.

Peran kades itu unik, kalau bagus dan ada prestasi dalam berkerja, seumur masa dipuja, tapi andai tanpa reputasi, apalagi tidak kurang diterima masyarakat, pasti akan selalu menerima cemoohan.

Yono mengaku menjadi kades sejak 2006 di desa ini masih serba minim, bangunan kantor bertingkat juga belum ada. Ketika awal membangun kantor terpaksa melelang gelang emas milik sang isteri dulu.

Terakhir warga menilai sendiri dan akhirnya Dia terpilih selama tiga periode.

Dalam kepemimpinan di tingkat desa jangan menganut filosofi patah arang.

Namun polanya harus lentur dalam kebijakan, sebaliknya dalam menjalan tugas dan mekanisme administrasi serta keuangannya sedikitpun jangan melenceng dari peraturan dan perundang-undangannya.

Jika tidak, maka akan ruwet tidak mustahil harus  masuk kerangkeng.

Pola pembangunan yang diterapkan di Desa Lembang tidak saja bergantung pada sumber anggaran negara semata, melainkan bisa melobi sumber dari pihak ketiga atau luar negeri  seperti emiral Arab, dalam pembangunan untuk pembangunan rumah ibadah.

Kelancaran dalam pengelolaan administrasi dan keuangan desa itu tergantung pada peran jitu seorang Sekdes  dan kaurnya.

Dalam pengelolaan keuangan negara  hati-hati lho, sekarang penyalah gunaan dana desa itu langsung bisa diperiksa dan diciduk KPK, ujar kades teladan yang pernah menerima penghargaan se Provinsi Jawa Barat ini mengingatkan.

Untuk itu berikan wewenang penuh kepada sekdes dan Kasi Urusan(Kaur) keuanganr. Kalau para kades ikut mengurus adminitrasi-keuangan, kapan melayani problema masyarakat? Apalagi kalau seorang kades harus mengurus Surat Perintah Jalan(SPJ) segala.

Tapi perankan semua pihak dan seluruh unsur hingga para Kepala Dusun (Kadus). (*)