Simeulue I Realitas – Malam 4 Desember 2021, Kapolres Simeulue AKBP Pandji Santoso, SIK, M.Si memimpin apel patroli pasukan gabungan Tentara Nasional Indonesia TNI-POLRI dan Satpol PP dihalaman Mapolres Simeulue.
Apel patroli pasukan gabungan tersebut dibuat bertepatan dengan malam milad ke 45 tahun Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah gerakan separatisme bersenjata yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lebih lanjut Kapolres Simeulue AKBP Pandji Santoso dalam amanatnya, kita malam ini, kepada rekan-rekan semua akan melaksanakan patroli gabungan TNI-Polri dan Satpol PP sampai esok hari.
Patroli tersebut, untuk memastikan tidak adanya pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah hukum Simeulue.
Dan juga dalam rangka memastikan Guantibmas (gangguan ketertiban masyarakat) yang aman dan kondusif pada masyarakat Simeulue. ujar Pandji Santoso
Pantauan wartawan mediarealitas.com, saat apel kesiapan pasukan patroli gabungan TNI-POLRI dan Satpol PP hadir Juga Jubir KPA Sarwadi Simeulue.
Sebelum acara apel kesiapan pasukan patroli gabungan TNI-POLRI dan Satpol PP di awali dengan makan bersama kua belangong dengan LSM dan awak media yang hadir di aula joglo Mapolres Simeulue.
Apa itu Gerakan Aceh Merdeka.
Disebut GAM (bahasa Aceh: Geurakan Acèh Meurdèka) adalah sebuah gerakan separatisme bersenjata yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar 15.000 jiwa.
Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF).
GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro selama hampir tiga dekade bermukim di Swedia dan berkewarganegaraan Swedia.
Pada tanggal 2 Juni 2010, ia memperoleh status kewarganegaraan Indonesia, tepat sehari sebelum ia meninggal dunia di Banda Aceh. (Zulfadli)




