IKLAN YARA

Hukuman 5 Tahun bagi Orang Tua Lukai Mata Anak Demi Pesugihan, Ini Komentar Psikolog

oleh -63.489 views
Hukuman 5 Tahun bagi Orang Tua Lukai Mata Anak Demi Pesugihan, Ini Komentar Psikolog
Hukuman 5 Tahun bagi Orang Tua Lukai Mata Anak Demi Pesugihan, Ini Komentar Psikolog
UPDATE CORONA

Makassar I Realitas – Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel ikut buka suara menanggapi ramainya kasus orang tua yang melukai mata anak kandungnya berusia 6 tahun demi pesugihan di Tinggimoncong, Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan.

Meski sangat menyayangkan terjadinya kasus tersebut, tetapi Reza menyebut kemurkaannya tidak terwakili secara hukum.

Sebab, menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, ancaman hukuman kepada pelaku hanya berkisar lima tahun penjara.

“Ketika orang tua mencungkil mata anaknya, betapa pun itu mengakibatkan trauma jangka panjang bahkan mungkin sepanjang hayat pada si anak, tapi hukuman bagi pelakunya hanya penjara maksimal lima tahun. Tanpa pemberatan pula.”

“Jadi, walau saya sedih sekaligus marah luar biasa pada para pelaku pencungkilan mata itu, namun kemurkaan saya tidak sungguh-sungguh terwakili oleh hukum (UU Perlindungan Anak) yang ada saat ini.”

“Keinginan saya agar para pelaku kekerasan fisik dan psikis yang mengakibatkan luka ekstrim pada anak dihukum seberat-beratnya, ternyata hanya dipuaskan oleh penjara antara 3,5 hingga 5 tahun,” ungkap Reza, Senin (9/6/2021).

Reza pun mencoba menyoroti ancaman hukuman lain dengan menggunakan pidana eksploitasi anak atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Meski didapat ancaman hukuman 10 tahun penjara, namun Reza menyebut hukuman tersebut tidak sebanding dengan penderitaan korban.

“Karena pesugihan dilakukan lewat ‘pemanfaatan fisik’ anak untuk tujuan ekonomi, maka definisi ‘eksploitasi secara ekonomi’ dalam UU Perlindungan Anak sudah terpenuhi. Ancaman pidananya paling lama 10 tahun penjara.”

BACA JUGA :   Pemkab Atim Tandatangani MOU-MOA Dengan Poltekkes Kemenkes Aceh

“UU Penghapusan KDRT juga memuat sanksi pidana yang sama, yakni penjara maksimal 10 tahun, bagi pelaku kekerasan dalam rumah tangga.”

“Pidana eksploitasi memang lebih berat daripada pidana kekerasan terhadap anak (UU Perlindungan Anak). Juga setara dengan pidana kekerasan dalam UU Penghapusan KDRT. Tapi terus terang, itu tetap belum sebanding dengan penderitaan anak korban pesugihan itu,” jelasnya.

Lantaran hukuman pidana kurang maksimal, Reza berharap masyarakat dapat menemukan hukum adat yang memungkinkan untuk mengganjar para pelaku.

“Semoga masyarakat menemukan hukum adat yang memungkinkan pelaku penyiksaan anak diganjar sanksi jauh lebih berat lagi.”

“Sepanjang sanksi adat dinilai lebih setimpal dengan perbuatan pelaku dan lebih mewakili suasana batin masyarakat, maka terapkan saja,” tegasnya.

Terakhir, Reza juga ikut menanggapi terkait penyebab kematian kakak korban yang diduga dicekoki air garam sebanyak dua liter hingga meninggal dunia.

Namun, menurut Reza, pertambahan jumlah korban tidak tercantum sebagai unsur yang bisa menambah berat hukuman.

Tetapi, jika terbukti penyebab kematian sang kakak karena ulah kedua orang tuanya, maka ada harapan pelaku diganjar hukuman 15 tahun penjara.

BACA JUGA :   Biddokkes Jateng Bersama Unimus Semarang Gelar Vaksinasi Merdeka

“Pada kasus si kakak, mungkin polisi akan menerapkan pasal kekerasan yang mengakibatkan korban tewas.”

“Paling lama 15 tahun penjara. Tambah sepertiga karena pelaku adalah orang tua si anak,” jelasnya.

Orang Tua yang Lukai Mata Anak Demi Pesugihan Terancam 5 Tahun Bui

Sebelumnya diberitakan, Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Boby Rachman, buka suara mengenai perkembangan terbaru kasus orang tua yang melukai mata anak kandungnya berusia 6 tahun demi pesugihan di Tinggimoncong, Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Boby, ada lima pelaku yang diamankan dari kejadian ini, yaitu kedua orang tua korban, kakek, nenek dan pamannya.

Dari lima orang tersebut, dua orang pelaku yakni kedua orang tua korban dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Dadi untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Hal itu lantaran polisi menduga kedua pelaku mengalami gangguan kejiwaan.

Sementara pelaku lainnya yakni kakek dan paman korban saat ini diamankan di Mapolres Gowa.

Meski pelaku tengah menjalani pemeriksaan jiwa, Boby menyebut proses hukum tetap berjalan.

Bahkan, dari hasil penyidikan sementara, kedua orang tua korban terancam hukuman lima tahun penjara.

“Tentu proses hukum tetap berjalan karena tidak ada alasan, kekerasan terhadap anak ini sangat memprihatinkan.”

“Tentu kami dari Polres Gowa dan penyidik tetap melakukan proses hukum terhadap para pelaku.”

BACA JUGA :   Prediksi Istanbul BB vs Rizespor - Liga Turki 26 September 2021

“Untuk Pasal yang menjerat mereka itu Pasal 80 ayat 2 UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” ujar Boby, dikutip dari tayangan Youtube tvOne, Minggu (9/5/2021).

Boby menyebut, dari keterangan warga di sekitar rumah, pelaku memang kerap menggelar ritual-ritual.

Diduga, keluarga tersebut memang mengikuti aliran ilmu hitam atau pesugihan.

Setelah penganiayaan tersebut terungkap, bocah enam tahun berinsial AP pun langsung dibawa ke RSUD Syekh Yusuf, Kota Makassar untuk menjalani perawatan.

Bahkan, Boby menyebut korban akan segera melakukan operasi untuk mengobati mata kanannya yang nyaris buta akibat tindakan keji keluarganya.

“Untuk keadaan korban secara keseluruhan dalam keadaan sehat, ada luka di bagian mata sebelah kanan dan akan dilakukan tindakan operasi oleh dokter,” ungkapnya.

Sementara, Boby menjelaskan, pihaknya juga akan menyelidiki terkait kematian kakak korban, yang meninggal dunia sehari sebelum peristiwa penganiayaan itu terjadi.

Diduga, sang kakak meninggal dunia setelah dicekoki air garam sebanyak dua liter oleh orang tuanya.

“Untuk kakak korban sudah meninggal satu hari sebelum kejadian, penyidik sedang mendalami tentang kejadian tersebut.”

“Dan tim penyidik juga sedang memeriksa saksi-saksi apakah ada kekerasan terhadap kakaknya juga,” terang Boby. (*)

Source:Trb