IKLAN YARA

Geliat Usaha Terasi Ditengah Badai Pandemi Covid-19

oleh -37.489 views
Geliat Usaha Terasi Ditengah Badai Pandemi Covid-19
Tampak terasi sedang dijemur dibawah terik matahari oleh para pekerja setempat, Sabtu (04/09/2021)
UPDATE CORONA

Langsa | Realitas – Geliat Usaha Terasi Ditengah Badai Pandemi Covid-19.

Siang itu matahari begitu terik menyinari seantero jagat raya, anginpun enggan meniupkan udara segarnya, suasana gerahpun menghampiri langkah yang goyah.

Sesekali langkah itupun terhenti untuk melihat sebuah usaha masyarakat pinggiran Kota Langsa itu.

Ada cerita menarik disebuah Desa/Gampong Lhok Banie, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa – Provinsi Aceh itu, dimana sebuah tempat yang terbilang daerah pinggiran itu warganya disibukan dengan mengolah terasi atau yang sering disebut belacan.

Terasi merupakan salah satu produk perikanan yang pembuatannya dilakukan dengan proses fermentasi.

Terasi umumnya berbahan dasar utama udang kecil yang sering disebut juga dengan udang rebon. Selain udang rebon, bahan baku dalam pembuatan terasi berasal dari ikan segar.

Terasi (belacan) merupakan bumbu masak yang di buat dari ikan kecil/ udang rebon (udang yang berukuran kecil,sebesar lidi/ udeung sabee dalam bahasa Aceh) yang difermentasikan, berbentuk seperti adonan yang berwarna hitam atau ditambah bahan pewarna sehingga menjadi cokelat merah.

Terasi merupakan bumbu penting dikawasan asia tenggara dan china selatan.

Terasi memiliki bau yang tajam dan biasanya digunakan untuk membuat sambal terasi, tapi juga ditemukan dalam berbagai resep makanan di Indonesia.

Ada beberapa daerah penghasil terasi di Kota Langsa seperti Simpang Lhee, Seuriget dan Lhok Banie dan daerah lainnya.

Gampong Lhok Banie , Kecamatan Langsa Barat, Kota langsa.

BACA JUGA :   Ditpolairud Polda Aceh Gelar Vaksinasi Merdeka

Berikut salah satu kawasan penghasil terasi terbesar dan terkenal di kota langsa maupun di luar daerah. Dan menjadi buruan oleh masyarakat di Kota Langsa maupun luar daerah sebagai oleh-oleh khas dari kota Langsa.

Terasi di Gampong Lhok Banie memiliki berbagai macam bentuk dan kemasan sehingga berbeda dengan terasi didaerah lainnya, namun ada juga yang menjual dalam bentuk kiloan.

Harga terasi ini juga bervariasi ada yang menjual Rp. 40.000/kg dan ada yang menjual Rp. 50.000/kg. Harga bahan baku terasi tersebut yang akan menjadi penentu harga terasi yang akan datang, apakah harga terasi akan tetap sama atau lebih murah/mahal.

Akan tetapi kita dapat sesuai dengan keinginan kita.

Demikian juga dampak ekonominya, karena semakin luasnya orang mengenal terasi di Kota Langsa, prospek peningkatan juga terbuka dan membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat, bukan hanya pengrajin, tapi juga nelayan dan mata rantai ekonomi terkait lainnya.

Produksi terasi di kawasan Lhok Banie termasuk keunggulan gampong yang menjadi ikon pengembangan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat yang didukung oleh ketersediaan bahan baku.

Dikeranakan terasi di kota Langsa merupakan terasi yang enak dan banyak di like di berbagai daerah dan mampu memproduksi ratusan kilogram terasi per bulan.

Sehingga pemerintah membangun rumah produksi terasi di gampong Lhok banie, karena sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang telah diberikan oleh Kotaku.

BACA JUGA :   CPO Cemari Jalan Negara Lintas Subulussalam-Aceh Selatan

Geuchik Gampong Lhok Banie, Yusri, yang didampingi Ketua Kelompok Usaha Terasi SINAR BAHARI, Saiful Bahri, yang ditemui wartawan, Sabtu (04/09/2021), mengatakan bahwa usaha warganya bergeliat meskipun saat ini badai Covid 19 masih saja mendera Negara kita.

Menurutnya, saat ini masyarakat yang memiliki usaha terasi tergabung dalam kelompok usaha SINAR BAHARI sudah mengunakan Gedung Rumah Terasi yang telah dibangun tahun lalu dan sebagai tempat mencari nafkah bagi keluarga mereka.

Sementara itu ketua kelompok usaha terasi SINAR BAHARI Saiful Bahri menyebutkan, saat ini sebanyak 20 orang baik dari kaum ibu rumah tangga maupun para pekerja dari masyarakat setempat telah memanfaatkan gedung tersebut untuk mengolah terasi.

“Sekarang sebanyak 20 orang yang bekerja mengolah terasi dengan cara tradisional,” terang Saiful.

Lebih lanjut dikatakan, untuk pengadaan bahan baku lokal yang hanya sebatas musiman harus dibantu dari luar daerah agar produksi dapat berkesinambungan.

“Bahan baku harus di datangkan dari luar daerah agar produksi tetap berlanjut, udang rebon tersebut adanya disaat musim penghujan,” ujar Saiful.

Di samping itu, ia berharap kepada Pemerintah Kota Langsa melalui Dinas terkait untuk membantu alat alat/mesin produksi.

“Sebelumnya, meski tradisional dalam proses produksinya, sebulan dapat menghasilkan 6 sampai 10 ton, bayangkan bila sudah mengunakan mesin pasti hasil hasil produksi dapat ditingkatkan lagi,” pintanya.

BACA JUGA :   Kapolda Aceh Kunjungi Dayah di Atim, Minta Ulama Dukung Tugas Polri dan Vaksinasi

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Perindagkop dan UKM kota Langsa, Mahlil, SH, mengatakan pihaknya akan terus berupaya untuk mendorong usaha masyarakat di bidang UKM.

“Kita akan terus berupaya untuk membantu mengembangkan usaha masyarakat termasuk usaha terasi, hal ini diperlukan untuk meningkatkan sumber pendapatan mereka terlebih dimasa pandemi Covid 19 saat ini,” ungkap Mahlil.

Menurutnya, untuk rumah terasi, Disperindagkop dan UKM Kota Langsa sudah mengusulkan di perubahan anggaran. Yakni pengadaan open pengering.

“Mudah mudahan anggaran mencukupi, kalau tidak open pengering akan kita usul kembali di murni 2022 karena di murni 2022 kemungkinan besar akan tersedia anggaran karena open pengering sangat di perlukan dalam pengeringan terasi, apalagi pada musim hujan dengan adanya open pengering tidak ada kendala dalam produksi terasi Kota Langsa,” kata Mahlil.

Seorang warga yang menjadi pekerja, Maryam, menyatakan bahwa dengan bekerja di usaha terasi ini dapat menghidupi keluarganya, dimana saat ini kondisi sangat pelik karena wabah Corona juga tak kunjung reda.

Semoga saja, usaha terasi kami ini masih bisa eksis dan bisa berkembang pesat serta diterima dipangsa pasar baik lokal maupun manca negara.

Karena harumnya belacan Gampong Lhok Banie ini hingga ke seantero mancanegara sebagai oleh-oleh khas dari Kota Langsa…semoga saja. (Rapian)