IKLAN YARA

Peternak di Blitar Diundang Jokowi Usai Aksi Nekat Bentangkan Poster

oleh -50.489 views
Peternak di Blitar Suroto Diundang Jokowi Usai Aksi Nekat Bentangkan Poster
Peternak di Blitar Suroto Diundang Jokowi Usai Aksi Nekat Bentangkan Poster
UPDATE CORONA

Surabaya I Realitas – Sosoknya pendiam dan dikenal pekerja keras. Namun siapa sangka di balik itu semua, Suroto (50) berbuat nekat dengan membentangkan poster saat Presiden Jokowi kunker ke Blitar.

Poster itu berisi: “Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar Telur Murah”. Atas aksi demo solonya itu, warga Desa Suruhwadang Kecamatan Kademangan itu diamankan. Meski sempat diamankan beberapa jam dan akhirnya dilepas, aksi Suroto akhirnya viral dan ramai jadi pemberitaan.

Bagi para peternak, Suroto dianggap pahlawan. Karena kenekatannya berhasil menyuarakan nasib peternak ayam petelur di ujung kebangkrutan. Peternak mengeluhkan harga jagung makin mahal di harga Rp 6.500/kg.

Sementara harga telur anjlok di kisaran Rp 13.700/kg. Dengan harga jagung sebagai bahan utama pakan ayam dibatas Rp 5.000/kg, peternak bisa menutup biaya operasional jika harga telur di kisaran Rp 18.000/kg.

Kondisi kepepet inilah yang membuat sosok pendiam seperti Suroto berani bertindak nekat. Dia membentangkan kertas karton sebagai penyaluran aspirasi dan keluhan peternak Blitar yang ingin disampaikan langsung ke pemimpin di negeri ini.

BACA JUGA :   Jadi Korban Tindak Asusila Kapolsek Parimo, LPSK Beri Perlindungan

Dan kedatangan Presiden Jokowi ke Blitar menjadi momentum para peternak untuk mengadukan nasibnya. Namun harapan mereka untuk bisa bertemu dan menyampaikan keluh kesah ke Jokowi seperti hal yang mustahil dilakukan. Apalagi, para peternak Blitar sangat menyadari, protokol keamanan akan diterapkan sepanjang jalur yang dilalui rombongan Presiden RI.

Aksi Suroto menbentangkan tulisan saat mobil Jokowi melintas keluar PIPP pada awalnya berlangsung aman. Usai mobil Jokowi melintas, tiba-tiba seorang koordinator tukang becak PIPP berteriak mengundang perhatian aparat kepolisian.

Seorang polisi kemudian merebut kertas itu. Meremas-remasnya dan kemudian Suroto diamankan menjauh dari kerumunan. Sedangkan satu peternak lain yang mendampinginya di lokasi kejadian, berusaha menjauh pergi untuk menginformasikan jika Suroso ditangkap polisi.

Warga Desa Suruhwadang Kecamatan Kademangan dikenal peternak ayam petelur sejak puluhan tahun lalu di desanya. Kecamatan Kademangan sisi selatan, memang merupakan sentral produsen telur.

BACA JUGA :   Polisi Ringkus Pelaku Investasi Bodong, Kerugian Capai 1 Miliar

Suroto punya populasi ayam layer di atas 10.000 ekor. Namun sejak harga pakan dan jagung yang fluktuatif di tahun 2016, secara bertahap Suroto mengurangi jumlah populasi ternaknya.

“Saya dengar kabar terakhir itu ayamnya tinggal 5.000. Kami semua mengurangi populasi juga soalnya gak nyucuk (Tidak nututi) antara harga pakan dengan harga telur,” tutur Suryono, kawan sesama peternak layer, saat dihubungi detikcom, Rabu (15/9/2021).

Kondisi terpuruknya peternak layer, akan membaik saat harga telur di atas Rp 18.000/kg. Namun petaka muncul saat harga telur di bawah angka itu. Setidaknya ada 4.500 peternak layer bernasib sama dengan Suroto. Para peternak Blitar pun beramai-ramai mendatangi bank menggadaikan sertifikat aset mereka untuk mendapatkan pinjaman modal.

“Makin parah sejak tahun kedua pandemi. Kalau awal pandemi, telur produksi kami terserap untuk bansos. Dari kandang dapat harga Rp 18.000 itu gak untung, tapi bisa menutup ongkos produksi dan pakan. Tapi sejak 2021, ada BTS. Telur kami tidak terserap bikin harganya anjlok Rp 13.200/kg dari kandang,” jelasnya.

BACA JUGA :   Safari PMKS di Riau, Irjen Ajak Jajaran Untuk Mewujudkan Keagungan Kemenkumham

Anjloknya harga telur berbanding terbalik dengan harga pakan sentrat dan jagung. Jika tahun 2020, harga sekarung sentrat masih di harga Rp 320.000/sak. Namun sejak tahun 2021 naik menjadi Rp 410.000/sak. Sedangkan jagung yang menjadi bahan utama campuran sentrat, harganya pelan tapi pasti terus menanjak. Dari semula di kisaran Rp 4.500/kg, saat ini mencapai Rp 6.500/kg.

“Kondisi Pak Suroto dan kami semua makin parah. Semua yang kami punya sudah dipatok ayam. Kalau lama dibiarkan tanpa campur tangan pemerintah, ayam akan makan ayam,” tandasnya. (*)

Sumber: Dtc