Gumarang: Politik Sensasi Atau Prestasi Lagi Ngetren Sekarang

oleh -144.489 views
Sekarang

IDUL FITRI

Kalteng | Realitas – Sekarang ini sering kita temui fenomena yang tak lazim dilihat yang dilakukan Kepala Daerah khususnya saat melaksanakan tugasnya sebagai pimpinan daerah.

Mereka selalu mencuri perhatian Publik dalam bersikap yang bersifat hingar-bingar.

Guna mengundang kuli tinta yang haus dengan berita tidak mau melewatkan sekedip pun atas kejadian tersebut lepas dari liputan wartawan.

Para jurnalis memandang fenomena kejadian langka yang berdimensi tidak setiap orang bisa memahami hakikat permasalahan tersebut, lantaran yang terlihat hanya permukaannya saja.

Kejadian fenomena tersebut bisa kita temui misalnya pada gaya kepemimpinan Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Tri. R), berbeda pula dengan gaya kepemimpinan Bupati Bolaang Mongondow Timur.

Sehan Salim Landjar yang pernah marah-marah memaki-maki Menteri Kesejahteraan Sosial berkaitan masalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dinilai Bupati Bolaang Mongondow Timur berbelit-belit dan menyusahkan masyarakat.

Mungkin sekarang banyak Kepala Daerah terobsesi gaya kepemimpinan mantan Walikota Surabaya Tri yang terkenal dengan gaya Inspeksi mendadak (Sidak).

Dengan gaya komunikasinya menimbulkan hingar-bingar membuat para jurnalis menjadikan kejadian tersebut sebagai objek atau bahan berita bernilai tinggi dari perspektif pemberitaan.

Hal ini membuat Tri semakin terkenal se-Indonesia walaupun hanya sebatas seorang Walikota, hingga sekarang menjadi Menteri Kesejahteraan Sosial.

Trennya gaya kepemimpinan Kepala Daerah dengan gaya sidak yang diwarnai dengan gaya komunikasi membuat hingar-bingar dan mengundang kuli tinta untuk meliput. Seakan-akan kuli tinta tak peduli dengan berita lain.

Ini namanya seperti mencuri perhatian publik yang sedang terlelap tidur, kemudian tersentak bangun seakan mendengar berita menggembirakan yang dinanti-nanti masyarakat seakan terjawab sudah.

Kejadian atau sikap Kepala Daerah seperti itu memang sulit masyarakat awam membedakannya, apakah sikap atau tindakan tersebut Prestasi atau Politik Sensasi.

Hal ini bisa di analisis bagi yang punya kemampuan, karena kejadian yang dilihat baru permukaan saja. Masyarakat akan mengetahui hakikat sebenarnya setelah bagaimana kelanjutan akhir dari cerita tersebut.

Masyarakat pun setelah tahu dari akhir cerita tersebut bisa saja tersentak, kaget, kecewa, tertipu, marah, pokoknya bercampur aduk di dalam hati masyarakat.

Untuk mengetahui sikap dan tindakan yang membedakan apakah Prestasi atau Sensasi Politik, maka perlu dilihat unsur kualitas tindakan, komunikasi, apakah sudah memenuhi aturan, memiliki kecukupan kompetensi melibatkan semua pemangku kepentingan terhadap objek tersebut.

Dan melibatkan pihak penegak hukum kalo misalnya mengandung unsur kejahatan atau tindak pidana.

Maka melibatkan pihak kepolisian, Polisi Militer bila dipandang perlu dan/atau selain itu pula berisiko tinggi terhadap keamanan Kepala Daerah yang melakukan sidak yang berkaitan dengan kejahatan tanpa melibatkan kepolisian.

Resiko tidak melibatkan pihak kepolisian saat kepala daerah melakukan sidak bilamana yang berkaitan diduga adanya kejahatan yang merupakan sudah masuk ranah polisi, maka nanti polisi sulit menemukan barang bukti dan tersangka, hal tersebut cukup beralasan bagi pihak kepolisian untuk tidak memproses hukumnya karena tidak cukup bukti.

Sehingga nanti masalahnya (kasusnya) tak berujung dan tak bertepi, dan hal ini harus menjadi pertanyaan dalam benak publik yang cerdas apakah kejadian tersebut adalah antara fakta dan dusta diantara kita atau antara prestasi dan politik sensasi. (Misnato)

UPDATE CORONA