IKLAN YARA

Lunturnya Warisan Budaya Leluhur di Bandar Pulau

oleh -421.489 views
Bandar Pulau
UPDATE CORONA

Oleh: Nurhayati Marpaung, Mahasiswi UIN SU Medan Fak Ilmu Sosial Jurusan Ilmu Komunikasi Semester 6

Dalam kehidupan di zaman yang maju seperti sekarang ini, modernisasi merupakan hal yang sulit untuk dihindari. Namun, itu bukanlah menjadi alasan untuk meninggalkan kearifan lokal. Hal ini karena kearifan lokal menyimpan banyak nilai yang sudah berakar dimasyarakat luas.

Secara umum istilah dari kearifan lokal terbentuk dari dua kata yaitu kearifan dan lokal. Jadi dapat dimengerti sebagai gagasan lokal setempat yang bersifat bijaksana, bernilai baik yang tertanam , penuh kearifan, dan yang diikuti oleh banyak anggota masyarakat.

Sehingga kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai hasil dari proses adaptasi turun temurun dalam waktu yang lama terhadap suatu lingkungan alam tempat tinggal mereka dan menjadi tata nilai kehidupan yang terwarisi antar generasi.

Kearifan lokal ada dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sseperti kegiatan religi, adat istiadat, dan budaya. Etika masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai luhur yang sudah membudaya bisa menjadi suatu bentuk kearifan lokal.

Contohnya seperti Desa Gunung Berkat merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bandar Pulau Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Sesuai dengan namanya desa ini terletak di pegunungan Dengan penduduk yang kurang lebih 800 jiwa.

Desa ini pimpin oleh Kepala Desa, dan desa ini pun terbagi menjadi 4 dusun, yang setiap dusunnya dipimpin oleh Kepala Dusun. Dahulu desa ini dianggap sebagai desa yang cukup tertinggal diantara desa-desa lainnya. Hal ini dikarena pembangunan di desa ini terbilang cukup lambat. Namun saat ini kata ketertinggalan tersebut berangsur-angsur mulai memudar.

Desa ini bahkan terbilang desa yang paling maju diantara desa-desa lain yang ada di wilayah Bandar Pulau.

Banyak pembangunan telah dilakukan di desa ini, mulai dari berbagai infrastruktur bahkan juga pemanfaatan wisata alam yang ada.

Dikarenakan letak desa Gunung Berkat ini berada dipegunungan menjadikan desa ini memiliki beberapa wisata air seperti air terjun, sungai, dan ada pula penatapan pegunungan.

Desa Gunung Berkat sendiri pertama kali dibuka oleh para pembuka agama (Ulama) dan dulunya sempat diberi julukan sebagai “Kampungnya Para Ulama”.

Di desa ini terdapat sebuah pondok yang dijadikan sebagai tempat menimba ilmu agama.

Pondok tersebut dinamakan “Rumah Suluk”. Rumah suluk sendiri berdiri sejak desa ini mulai dihuni. Para pembuka agama terdahulu sepakat menjadikan desa Gunung Berkat sebagai desa yang memiliki banyak paraulama.

Segala jenis tradisi keagamaan pun dulunya rutin dilakukan masyarakat desa Gunung berkat seperti tulak bala (tolak bencana), pengajian, kegiatan-kegiatan penyambutan ramadhan,
dan lain sebagainya.

Namun seiring berjalannya waktu tradisi-tradisi tersebut memudar bahkan sampai ada yang hilang. Seperti Rumah Suluk yang telah lama berhenti beroperasi.

Sudah lebih 15 tahun tidak ada kegiatan di pondok tersebut. bahkan pondok tersebut pun sudah mengalami beberapa kerusakan seperti atapnya yang bocor, dan dinding-dinding yang sudah kropos.

Sampai saat ini desa Gunung Berkat telah mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun.

Banyak perkembangan yang terjadi yang menjadikan desa ini semakin maju, namun pada bidang keagamaan desa ini semakin menurun. Bahkan julukan Kampungnya Para Ulama pun sudah
tidak adalagi untuk desa ini.

Untuk mempertahankan atau mewarisi kearifan local ini adalah Memperkaya khazanah kereligiusan.

Mempertahankan keorisinilan suatu masyarakat Kebudayaan daerah menjadi aset bagi bangsa khususnya kabupaten daerah itu sendiri dan menjadikan Kebudayaan menjadi objek kajian dari budayawan dan peneliti kedepannya. (*)