Pembaruan Timpan Ubi Ungu Sebagai Daya Tarik Masyarakat Untuk Melestarikan Khas Daerah Aceh

oleh -168.489 views
Aceh
Foto : Merry Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri IAIN Langsa

IDUL FITRI

Oleh : Merry Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri IAIN Langsa Prodi FTIK

Aceh adalah provinsi yang ibu kota nya terletak di Banda Aceh. Aceh merupakan provinsi yang mendapat gelar daerah Istimewa, seperti Jogyakarta dan juga diberi kewenangan otonomi khusus. Provinsi Aceh yang berlokasi di ujung Utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi yang paling barat di Indonesia.

REALITAS TV

Aceh juga dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran islam di Indonesia dan posisi peran yang paling penting dalam penyebaran islam di Asia Tenggara.

Provinsi aceh memiliki adat dan budaya yang terkenal di penjuru Indonesia,bukan hanya adat dan budayanya saja tetapi juga terkenal makanan khas aceh dan keunikannya.

Daerah aceh banyak memiliki beberapa kabupaten salah satunya adalah Aceh Tamiang Kecamatan karang baru, kecamatan Tamiang Hulu, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kecamatan Kejuruan Muda, Kecamatan Bendahara dan Kecamatan seruway.

 Dan banyak juga makanan yang bisa ditawarkan oleh wisatawan. Mayoritas penduduknya merupakan suku Tamiang atau suku Melayu tamiang tetapi banyak juga Mayoritas tamiang yang berpenduduk jawa, Cina dan batak tidak hanya Melayu tamiang saja.

Sebagai besar masyarakat tamiang ini miliki mata pencarian sebagai petani yakni melakukan perkerjaan bercocok tanam diladang atau pun disawah. Namun masyarakat yang tinggal diddekat pantai mata pencarian mereka adalah nelayan yang menciduk ikan lalu dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Makanan khas Aceh Tamiang yaitu bubur pedas, kue rasyidah, Timpan, Rujak aceh, Mie aceh, Kue Markek dan Temuling.

Aceh tamiang jugu merupakan kabupaten yang memiliki beraneka ragam kue Tradisonal yaitu salah satunya adalah Kue Timpan yang sangat melekat di daerah Aceh Tamiang ini, Kue Timpan tersebut banyak kita jumpai di saat-saat acara perkawanan atau di acara lainnya.

Kue Timpan tersebut bahan-bahannya adalah ketan putih dan pisang yang dicampurkan, dan ada juga yang menggunakan labu tanah sebagai pengganti pisang dan sebagai warna pada adosan tersebut. Perpaduan bahan tersebut menghasilakan rasa yang sangat unik dan sangat khas untuk didaerah aceh.

Selain itu kue Timpan tersebut di dukung dengan isian parutan kelapan yang agak muda ataau bisa diganti dengan srikaya tentunya dengan isian tersebut membuar rasa Timpang menjadi jauh lebih sempurna dan  lezat. Kue timpan ini sering juga disajikan pada saat hari lebaran tiba.

Kue timpan ini juga banyak dijumpai pada saat acaran hajatan perkawinan, pengajian ibu-ibu hingga sunatan atau acra lainnya. Timpan ini sudah menjadi makanan yang sangat lengendaris dikalangan masyarakat aceh tamiang sendiri.

Namun di daerah aceh taming tindak hanya dengan labu tanan dan campuran pisang saja, bisa juga diganti dengan ubi jalar ungu, dengan ubi jalar ungu memiliki warna yang sangat pekat dan sangat menarik.

Pada saat sekarang ini walaupun masyarakat aceh tamiang sudah cukup banyak mengenal banyak kue di indonesia, tetapi perkembangan kue-kue tradusional tersebut sedikit ditutupi oleh perkembangan kue modern yang sangat pesat sehingga popularitas kue-kue tradisional masih sedikit ketersampingkan terutama di dalam usaha kuliner indonesia.

disini saya mengajak masyarakat untuk Melestarikan makanan khas aceh tersebut, pada masa kini dengan menggunakan ubi jalar ungu. Sebagai pengganti pisang dan labu tanah.

Kenapa disini saya menggunakan ubar jalar ungu?  Jawabannya Tidak lain karena meliki warna yang sangat menarik dan cantik, dan menikatkan daya tarik masyarakat untuk membuatnya.

Apa lagi di era sekarang ini warna ungu dari si ubi ralar tersebut membuat masyarakat tertarik untuk membuatnya karena lagi trending pada saat ini dikalangan masyarakat.

Proses perubahan ubi ungu ini di harapkan kepada masyarakat sekitar untuk tertarik dan daya pikat masyarakat untuk membuat ubi jalar ini, untuk membantu perekonomian masyarakat sangat ini.

Disalah satu desa saya temukan seorang ibu yang memang menjual beraneka ragam kue, yaitu salah satunya adalah kue timpan, yang dimana ibu tersebut berjualan setiap hari tetapi tidak terlalu banyak seperti jika ada penasan untuk acara- acara tertentu,untuk menambah perokonomian saya iya berkata.

Biasanya ibu ini menjual kuenya dengan harga Rp.1000 rupiah untuk satunya, dengan harga senigi menurut ibu tersebut tidak terlalu mahal, karena agak besar ukurannya.

Selain menjual timpan ibu ini, mengajak anak melenial untuk mengembangkan dan melestarikan kue timpan tersebut dan modal usaha nantinya, dikarenakan kue timpang tersebut sudah jarang di jumpai pada saat ini.

Kami sebagai Masasiswa KPM IAIN LANGSA memberikan tambahan atau edukasi kepada ibu tersebut agar membuat timpan dari bahan ubi ungu tersebut, sebelumnya beliau menggukan labu tanah saja, dikarenakan ubi jalan ungu tersebut kaya manfaatnya seperti :

Menjaga imunitas tubuh, Mencegah pembekuan darah, Mencegah penuan dini, Mencegah kangker, dan Mengobati diabetes dan masih banyak lagi manfaat yang terdapat didalam ubi ungu  tersebut.

Kue tradisional ini juga ikit berkembang nantinya di kalangan nasional, dikarenakan kue ini memang sudah sangat di kenal dikalangan masarakat.

Karena saat ini juga persaingan kue sangat lah besar di kala modern saat ini sehingga kue tradisonal timpan hampir dilupakan oleh masyarat kerna ketatnya persangaan di dunia kuliner.

Kami sebagai Mahasiswa memnta izin kepada beliau untuk membantu kami membuat kue timpang dengan ubi jalau ungun untuk memenuhi kegiatan KPM yang sedang kami laksanakan saat ini, beliau bersedia membantu kami untuk membuat kue timpan dengan bahan ubi jalar ungu.

Cara membuatnya pun terlihat sangat mudah, ubi yang sudah kita kupas lalu di cuci hingga bersih lalu dipotong-potong seperti dadu, lalu dikukus setelah ubi sudah lembek atau empuk, lalu di taruk diwadah yang sudah disediakan.

Lalu hancurkan ubi jalar ungu tersebut sampai betul- betul hancur lalu setelah itu di campurkan dengan tepung ketan yang sudah di sediakan, setelah itu tambahkan air atau bisa juga diganti dengan santan. kalau semua bahan tersebut sudah tercampur rata, kemudian bentuk bulat-bulat lalu, di masukan kedalam minyak goreng agar nntiknya ketika di kukus, tidak lengket.

Untuk isian ubi jalar ungu tersebut yaitu kelapa yang sedikit muda,lalu dilampurkan dengan gula pasir dan garam sedit agar rasa isiannya terasa nikmat, bisa juga gula pasir di ganti dengan gula aren atau gula merah. Tergantung lelera kita saja.

Lalu cara membuatnya adonan yang sudah kita bulatkan tadi, di pipihkan dan isian tintinya kita taruk ditengah,lalu gulung secara perlahan dengan daun pisang yang muda.lalu di kukus selama 20 sampai 35 menit agar matangnya sempurna.

Selain itu juga timpan ubi jalar ungu ini sangat cocok menjadi pelengkap penyambutan para tamu yang berkunjung yang disajikan dengan tea hangat. Diharapkan kepada masarakat sekitar untuk daya tarik masyarakat serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Dan juga dapat menyadarkan masyarakat bahwa banyak hasil bumi yang bisa dilestarikan saat ini. Sudah sepantasnya kita sebagai generasi melenial ini melestarikan makan-makan yang sudah hampir ditingkalkan di aceh tamiang ini. Sepatutnya kita harus bangga dengan daerah kita ini yang masih banyak memiliki beragam macam kuliner yang sangat lezat.

Dan kita harus melestarikan kuliner daerah yang masih ada pada saat ini. Meskipun dizaman sekarang ini persangin kuliner sangatlah ketat dan canggih,namun kita sebagai genertasi penerus harus mencintai produk hasil dari daerah kita sendiri yaitu Negeri Indonesia yang Kaya.

UPDATE CORONA