Mengenal dan Melestarikan Tradisi Keunduri Apam di Tengah Era Digital

oleh -177.489 views
Foto: Mahasiswi IAIN Langsa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Khairatil Hisan.

IDUL FITRI

Provinsi Aceh merupakan salah satu wilayah yang berada di bagian ujung Pulau Sumatera. Nanggroe Aceh Darussalam yang dijuluki dengan Seuramo Mekkah/Serambi Makkah ini sangat kaya dengan aneka ragam kebudayaan, adat istiadat, suku, dan bahasa daerah yang berbeda-beda.

Kita sebagai orang Aceh sudah sepantasnya mengenal budaya-budaya yang ada di tanah kita. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, jika kita tidak mengenali budaya kita.

REALITAS TV

Maka kita tidak dapat mengetahui betapa kayanya, betapa indahnya, dan betapa agungnya kebudayaan dan keragaman yang kita miliki. Namun salah satu budaya Aceh yang mulai terkikis oleh perkembangan zaman adalah Keunduri Apam.

Salah satu tradisi yang dilakukan dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam sampai sekarang adalah tradisi Keunduri Apam. Namun sayangnya, tradisi keunduri Apam ini hanya dapat kita jumpai pada beberapa daerah di Aceh salah satunya pada masyarakat Kabupaten Pidie.

Keunduri Apam atau yang biasa kita kenal dengan keunduri serabi ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang biasanya rutin dilakukan pada setiap bulan ketujuh atau biasa dikenal dengan buleun Apam pada kalender Aceh, yang bertepatan dengan bulan Rajab pada kalender Hijriah.

Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam almanak Aceh (kalender Aceh). Jika dalam kalender Masehi bulan pertama diawali dengan bulan Januari.

Sedangkan pada kalender Aceh diawali dengan buleun Hasan-Husen yang bertepatan dengan bulan Muharram dan merujuk kepada peristiwa terbunuhnya Hasan dan Husen cucu Nabi Muhammad SAW.

Bulan kedua disebut buleun Sapha (Safar), bulan ketiga disebut buleun Mulot/Mulot Phon bertepatan dengan Rabiul Awal yang dikenal dengan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW.

BACA JUGA :   Pimpinan Teroris TPNPB-OPM Marah ULMWP Rilis 12 Kabinet/Departemen

Bulan keempat disebut buleun Adoe Mulot/Mulot Teungoh (Rabiul Akhir), buleun Mulot Seuneulheuh/Madika Phon (Jumadil Awal), buleun Keunduri Boh Kayee (bulan kenduri buah-buahan) pada Jumadil Akhir, lalu buleun Keunduri Apam (bulan Rajab), bulan delapan dikenal dengan nama keunduri Bu (Sya’ban), bulan puasa (Ramadhan), bulan Uroe Raya (Syawal), bulan Meuapet/Meurapet (Dzulqaidah) dan terakhir bulan kedua belas (12) adalah buleun Haji (Dzulhijjah).

Apam makanan tradisional Aceh yang biasa dibuat khusus di bulan Rajab untuk memperingati Isra’ Mi’raj

Apam adalah salah satu makanan tradisional khas Aceh yang terbuat dari campuran tepung beras, santan, air kelapa, air putih, gula dan garam. Cara membuat Apam adalah dengan mencampurkan tepung beras dan garam terus diaduk secara kering lalu tambahan santan beserta air putih kemudian diaduk lagi hingga menjadi adonan cair.

Jika adonan telah siap, maka panaskan ceureulop (pinggan yang terbuat dari tanah) di atas tungku. Jika ceureulop sudah mulai panas masukkan garam terlebih dahulu dan ratakan garam menggunakan sabut kulit kelapa.

Garam ini berfungsi untuk mencegah agar Apam tidak lengket di pinggan tanah. Langkah terakhir ialah tuangkan adonan Apam kedalam ceureulop dan tunggu sampai matang, kurang lebih memakan waktu sekitar 5 (lima) menit.

Ketika memasak Apam lebih bagus memakai kayu bakar dan dimakan dengan kuah tuhe (kuah yang terbuat dari santan dan dicampur dengan potongan-potongan buah nangka, pisang, dan gula) ataupun baluran parutan kelapa dan gula.

Apam yang bagus adalah apam yang bentuknya bulat seperti bulan dengan pori-pori kecil di tengahnya dan permukaan bawahnya rata serta tidak hitam. Sebelum apam ini disantap, beberapa apam harus dibagikan terlebih dahulu kepada anak-anak yatim dan tetangga yang tidak dapat hadir pada keunduri apam ini.

BACA JUGA :   4.833 Narapidana di Aceh Dapat Remisi Idul Fitri Tahun Ini

Keunduri Apam yang dilakukan pada bulan Rajab (buleun Rajab) merupakan salah satu adat dalam menyambut bulan Rajab dan memperingati Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW sebagai wujud untuk meningkatkan amalan pada bulan Rajab.

Selain pada bulan Rajab (buleun Apam), keuduri Apam ini juga diadakan pada hari kematian seseorang. Ketika seseorang meninggal dan selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi Apam. Apam pada saat dikuburan ini tidak diberi kuahnya, hanya dimakan dengan kukuran kelapan yang diberi gula.

Jika melihat sejarah dan cerita para orang tua terdahulu keunduri apam sudah berlangsung lama sekali dan berasal dari seorang Sufi yang sangat miskin di Mekkah. Beliau bernama Abdullah Rajab seorang zahid yang sangat taat beragama dan mengamalkan ajaran agama Islam.

Dikarenakan beliau sangat miskin, ketika beliau meninggal tidak ada satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai keunduri selamatan atas kematiannya.

Keadaan yang menyedihkan ini ditambah lagi beliau hidupnya sebatangkara telah menimbulkan rasa kasihan yang teramat dalam pada masyarakat kampungnya.

Sehingga masyarakat pada kampungnya mengadakan sedikit keunduri selamatan di rumah masing-masing dengan memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah dasar dari tradisi Keunduri Apam yang dilakukan oleh masyarakat Aceh.

Keunduri Apam selain merupakan sebuah kebudayaan, tradisi ini juga mengandung nilai yang sangat kental di dalamnya yaitu sebagai sarana saling berbagi dan mempererat tali silaturrahmi serta nilai kebersamaan dalam segala hal bermasyarakat.

BACA JUGA :   Masuk ke Aceh Wajib Ada Surat Swab Antigen, Berlaku Mulai 18 Mei

Namun seiring dengan perkembangan zaman, tidak dipungkiri bahwa tradisi keuduri Apam mulai dilupakan dan bahkan tidak dikenal oleh generasi milenial Aceh.

Karena tradisi keunduri Apam ini hanya dapat kita temui di kampung-kampung dan dilakukan oleh wanita paruh baya, sedangkan para kaum milenial seperti saya hanya dapat menyantapnya saja.

Seharusnya di tengah pesatnya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pemuda milenial dapat memanfaatkan teknologi digital untuk melestarikan budaya Aceh agar keragaman budaya yang kita miliki tidak akan pernah luntur.

Salah satu yang dapat kita lakukan adalah dengan mengajak anggota komunitas yang kita ikuti, teman ataupun para kerabat untuk menyelenggarakan keunduri Apam bertepatan pada bulan Rajab lalu menyajikannya dalam bentuk konten yang kemudian diunggah pada sosial media seperti YouTube, Blog, Facebook, atau Instagram tentang tradisi ini.

Tidak hanya itu, para orang-orang tua terdahulu yang lebih mengetahui tentang tradisi keunduri Apam dan cara memasaknya, diharapkan bisa memberitahukan serta mengajarkan para anak muda untuk terus melakukan tradisi ini. Sehingga dapat kita pastikan kearifan lokal yang mulai terkikis ini dapat kembali dikenal terutama oleh para kaum milenial.

Kebudayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita terdahulu haruslah kita jaga dengan sebaik-baiknya. Karena jika para kaum pemuda bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungannya, maka semua yang kita miliki pasti akan hilang dengan begitu mudahnya. (*)

Oleh: Khairatil Hisan

Mahasiswi IAIN Langsa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

UPDATE CORONA