HAM Jadi Sorotan Biden, Amerika Janji Ubah Total Hubungan dengan Arab Saudi

oleh -130.489 views

IDUL FITRI

Jakarta I Realitas – Pemerintahan Trump, menurut tim kampanye Presiden Biden, “memberikan cek kosong kepada Arab Saudi”.

Tim kampanye Biden menuduh pemerintah Presiden Trump menutup mata terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan mengulur-ulur waktu perang yang menimbulkan malapetaka di Yaman. Perang selama enam tahun itu telah menewaskan puluhan ribu orang.

REALITAS TV

Tim baru di Gedung Putih telah berjanji untuk mengubah total hubungannya dengan Arab Saudi dengan mengedepankan hak asasi manusia.

Presiden Biden mengisyaratkan ia akan mengakhiri bantuan militer Amerika Serikat (AS) untuk perang pimpinan Arab Saudi di Yaman.

Baru satu pekan Presiden Biden menjabat, AS telah membekukan penjualan senjata miliaran dolar ke Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab sambil menunggu peninjauan ulang.

Tetapi apakah memang akan ada perubahan besar dalam jangka panjang? Apakah niat pemerintahan Biden yang telah digembar-gemborkan memang akan berdampak praktis terhadap masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Saudi atau terhadap perang di negara tetangganya, Yaman?

Bagaimanapun juga, Arab Saudi adalah mitra keamanan paling dekat AS di kalangan negara-negara Arab, sekutu strategis penting dalam menghadapi perluasan milisi dukungan Iran di wilayah Timur Tengah, dan juga pembeli besar untuk senjata AS.

Citra umum

Menurut Stockholm Institute of Peace Research Institute (Sipri), Arab Saudi tercatat sebagai importir senjata terbesar selama periode 2015-2019, sebagian besar berasal dari AS. Persenjataan Barat, termasuk dari Inggris, telah digunakan untuk mengebom berbagai sasaran di Yaman.

Seperti dikatakan Andrew Smith dari Campaign Against the Arms Trade (CAAT) yang berbasis di Inggris, “akan diperlukan sikap yang lebih tegas dibandingkan sikap Biden sebagai wapres di masa pemerintahan Obama” untuk membuahkan perubahan.

BACA JUGA :   Lewat Konferensi Pers PP Permikomnas Minta Dirut BPJS Kesehatan Segera Dicopot

“Banyak penjualan senjata dimulai di bawah kekuasaan Obama.”

Mengenai HAM di Arab Saudi, pihak berwenang negara itu menggarisbawahi data terbaru tentang penurunan tajam jumlah pelaksanaan hukuman mati.

Jajaran tinggi di sekitar Putra Mahkota Mohammed Bin Salman, (yang biasa disingkat MBS) jelas sadar akan dampak buruk dari berita-berita HAM pada citra negara itu di mata dunia.

“MBS”, menurut anggota parlemen Inggris Crispin Blunt, “mendapat nasihat saling berlawanan dari orang-orang di sekitarnya tetapi (penekanan HAM oleh Joe Biden) ini memberikan peluang lagi kepada orang-orang pragmatis yang menasihati MBS bahwa citra umum Arab Saudi itu penting.”

Seorang pengunjuk rasa mengenakan topeng pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salmen yang dituding berada di balik kematian jurnalis Jamal Khasoggi (AFP)

Sejak MBS melejit ke kekuasaan pada 2017, Arab Saudi mengalami paradoks ganjil. Putra mahkota melakukan perombakan revolusi sosial, mencabut larangan mengemudi bagi perempuan, mengizinkan hiburan di tempat umum dan perbauran warga tanpa memandang jenis kelamin, dan memangkas kewenangan ulama.

BACA JUGA :   Pantau Operasi Yustisi, Kapolda Metro Jaya Minta Warga Taati Prokes

Arab Saudi sekarang terasa sebagai negara yang jauh lebih normal dan menyenangkan dibandingkan lima tahun lalu.

Kendati demikian, putra mahkota – yang, tidak seperti anggota senior kerajaan lainnya, tidak pernah tinggal di Barat – telah memerintahkan pemberangusan terhadap kebebasan berekspresi. Sebelumnya warga Arab Saudi bisa mengungkapkan keluhan-keluhan mereka secara daring, selama mereka tidak berunjuk rasa di jalan-jalan.

Sekarang mereka tak dapat melakukan keduanya. Ribuan orang ditangkap dan dipenjara, tanpa banyak kata permintaan maaf dari putra mahkota, yang menganggap kritikan konstruktif dan damai sekalipun sebagai rintangan bagi rencananya untuk menciptakan kemajuan.

UPDATE CORONA