Jakarta | Realitas – Ketaqwaan bagi seorang hamba adalah benteng utama untuk melindungi dari azab Ilahirabi baik semasa di dunia maupun menghadapi hari akhir kelak di Yaumil Mahsyar, ungkap ustadz Nur Ihsan, Jumat (03/02/2023).
Memberikan khutbah pada Masjid At-tabayyun kompleks, Villa Meueya, Ustad Ihsan mengatakan, sesungguhnya ketaqwaan seorang hamba kepada sang khaliqnya bisa dilakukan di manapun dan kapan pun, tanpa pengecualiannya.
Selain sebagai benteng pertahanan, taqwa juga sebagai simbolik rasa takut seorang hamba kepada Allah Sang Maha Pencipta, sebutnya.
Selain itu katanya, taqwa juga merupakan langkah untuk mempersiapkan diri menghadapi hari akhir nanti.Karena itu, waktu dan umur berserta jiwa dan raganya merupakan bagian modal besar mempersiapkan diri kita.
Andai umur, waktu, jiwa serta raga kita digunakan mengikuti hawa nafsu semata, bukan untuk bertaqwa, maka tunggulah datangnya azab daripada Allah SWt.Sebaliknya jika komponen ini digunakan untuk hal kebaikan, walau sekecil apapun nilainya, Allah berjanji akan membalas setimpal.
Orang berakal yang mempersiapkan diri menghadapi hari akhir, maka Allah juga akan persiapkan balasan Husnul khatimah sesaat ajak menjemputnya.
Menurut Ustadz Ihsan, suatu ibadah dan aqidah yang baik itu hanya bisa diperoleh dengan proses belajar yang benar.Dalam beribadah kita senantiada diminta untuk selalu membaca saful istigfar, berbuat baik kepada orang lain selain Allah dan tidak berburuk sangka kepadaNya.
Selama hidup di dunia kita selalu diminta untuk mengingat datangnya maut ketimbang memikirkan alam fana. Kita harus selalu berdoa agar syaithan laknatullah itu tidak berhasil menggoda kita serta menjauhi penyakit hati yang selalu dibisikkan untuk menjerumus kita ke neraka, sebagaimana janji syaithan itu, ujar ustadz mengakhiri.
Sementara dalam safari kemasjidan sebelumnya, di Masjid Atta’wun, Puncak Bogor Jumat lalu, Kiyai H.Pepen mengingat tentang ketakutan Nabi SAW pada akhir zaman.
Kekuatiran nabi kita sebut Kiyai Pepen ini, akhir zaman di muka bumi kelak tidak ada lagi ahli agama, maka ummatnya akan kehilangan akhlak, berbuat sesuatu seperti binatang tanpa unsur kasih sayang.Bertindak sesuka hatinya tanpa pandang buludan sayang lagi, tanpa pula merujuk lagi pada pedoman agama Islam.
Kekuwatiran berikutnya, suatu ketika manusia ini dalam berperilaku senaniasa mengedepankan hawa nafsu ketimbang akal sehatnya, maka tunggulah timpaan azab Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Hal serupa yang mengkhawatirkan Nabi kita yaitu di mana suatu masa di akhir zaman terjadi suatu tindakan penzaliman dan penghakiman sesama anak manusia bukan lagi berdasarkan hukum dan syariatnya lagi, melainkan dilakukan tindakan kesewenangan terhadap ummatnya tanpa ada yang mampu mencegahnya.


