Gigieng Pidie Sebagai Pusat Pedagang Islam Abad Ke-14 Masehi

oleh -1,041.759 views

Oleh Dr. Usman Ibrahim, M.Pd,./ Dr.Bachtiar Akob, M.Pd,. Dosen Sejarah, Universitas Samudra Langsa.

Kajian Historis

: Makam ulama asal Gujarat India di Gigieng mesjid Tuha, Polo Gang, Kecamatan Simpang Lhee-Kabupaten Pidie belumlah termasuk ke dalam Situs Cagar Budaya bangsa.

Tetapi konstribusi Gigieng dan peran penting ulama asal Gujarat India, boleh dikatakan mempunyai andil besar dalam usaha memajukan perniagaan di Kuala Gigieng/Peukan Lheue dan penyebaran Islam di Pidie pada abad ke-14 Masehi.

Akan tetapi Kuala Gigieng/Lheue sebelum adanya pengaruh Islam di daerah tersebut, diperkirakan sudah menjadi pusat transaksi perdagangan “Peukan Lheue dan Gigieng” sebagai tempat transit kapal-kapal (tongkang) pedagang Arab, India, dan Cina. Karena kuala tersebut letaknya sangat strategis dan berada di pesisir Selat Malaka.

Sewaktu Islam melakukan eksvansi ke Eropah dan Asia, sebagian besar pedagang-pedagang Arab, Persia, Turkistan, Gujarat/India dan Cina melakukan pelayaran laut terutama melalui Samudra Hindia dan Selat Malaka sejak abad ke-9 sampai 14 Masehi.

Mereka giat melakukan perdagangan, dan disamping itu aktif memperkenalkan agama dan kebudayaan Islam pada penduduk setempat.

Di antara wilayah-wilayah yang mereka lewati menjadi pusat transaksi barang-barang dan kegiatan Islam, diantaranya Kuala Gigieng/Lheue, Nyong, Meureudu, Samalanga sampai Samudra Pasai pada abad ke-14 Masehi (Zainuddin (1961: 19).

Berdasarkan rute-rute yang dilewati oleh pedagang atau saudagar Arab, Gujarat dan Canton/Cina di kawasan Selat Malaka, telah ada orang-orang Islam di pesisir pantai dan berdomisili di mana mereka tinggal dewasa itu.

Hal ini dapat dibuktikan bahwa daerah-daerah yang terletak dipesisir pantai utara Pidie sebagian besar didomisili oleh orang-orang berasal dari India Kalingga, misalnya Gajah Aye, Pidie, Ribee, Gigieng, Ie Leubeue, Pante Raja, Nyong sampai Meureudu (Zainuddin, 1961: 18).

Lokasi-lokasi tersebut bahwa penduduknya mirif dengan orang-orang muslim dari Gujarat India dan Kalingga. Menurut Husaini Ibrahim (2014: 5) dikemukakan bahwa “para pedagang merupakan golongan yang membawa Islam pertama masuk ke Aceh. Mereka membawa agama Islam ke Aceh sambil berdagang”.

Pedagang-pedagang tersebut, selain melakukan transaksi barang dagangan disetiap kuala di pesisir Aceh, juga mereka menyebarkan agama Islam dengan cara perkawinan, membuka pusat-pusat peribatan Islam di sekitar kota/peukan dan dakwah ke perkampungan penduduk.

Salah seorang mubaligh Islam bernama Lahuda (Teungku Chik Abdul Kadir/Tuan Besar), asal Gujarat India yang sudah lama menetap di Gigieng dan membangun sebuah mesjid sebagai pusat peribadatan pada abad ke-14 Masehi, dan beliau disamping saudagar Islam terkenal serta sudah menikah dengan seorang wanita, tetapi tidak mempunyaiketuurunan. Bahkan beliau mangkat di Gigieng dengan makam atau jeuratnya berada di komplek mesjid Tuha Gigieng Polo Gang, Simpang Lhee Pidie.

Penyebaran Islam di Pidie Situs Cagar Budaya di wilayah hukum Kabupaten Pidie, pasca tsunami tahun 2006, banyak sekali penemuan-penemuan lokasi objek sejarah yang sudah direnovasi oleh Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dengan bekerjasama antara Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Pidie dan merupakan bagian dari peninggalan atau aset historis serta benda-benda arkeologi Islam diantaranya berupa batu nisan dari para ulama dan sultan.

Terutama lokasi-lokasi pesisir pantai utara Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatra sebagai pintu masuk yang sangat penting “Jalur Internasional”, yang menghubungkan Persia, Gujarat India dan Tiongkok melalui rute Selat Malaka saat itu (Soekmono, 1973: 44).

Walaupun Samudra Pasai sudah bangkit Kerajaan Islam pertama di Sumatera dan nusantara, Gigieng Pidie termasuk daerah yang mula-mula sekali melewati oleh pedagang-pedagang dan pembesar Islam sebelum menuju Pasai.

Sehingga di daerah tersebut, tentu banyak ditemukan batu nisan/makam ulama penyiar Islam disekitar pesisir Pidie. Para pedagang/pembesar muslim, yang melewati rute Selat Malaka, termasuk daerah pesisir pantai utara Pidie merupakan bagian dari salah satu kawasan masuk dan penyebaran Islam sejak abad ke-11 M hingga abad ke-14 M. Dalam kajian inilah HM. Zainuddin (1961: 19) menjelaskan bahwa “dalam akhir XI M/ 1075 Masehi,oleh orang Persi/Arab, Agama dan kebudajaan Islam telah mengalir/menyebar di daerah keradjaan Peureulak dan Pasai, kemudian terus penyebaran ke Pidie jaitu meliputi negeri Meureudu, Njong, Gigieng, Ribee, sampai Padang Tidji sekalipun belum merata; hanja tempat-tempat tertentu dan kemudian barulah pada permulaan abad ke-14 Masehi Islam resmi dipeluk oleh orang diseluruh Atjeh besar”.

Rute-rute tersebut dibuktikan adanya bekas-bekas kuburan/makam ulama dan sultan, yang memang dulu sebagai pusat penyiaran agama Islam secara historis yang dibuktikan bangunan-bangunan arkeologi berupa makam kuno bertulisan kaligrafi Arab, yang di impor melalui pedagang Gujarat (India) ke Pulau Sumatera (Aceh) dewasa itu. Misalnya makam kuno di Gigieng Polo Gang, makam kuno Putroe Balee dan Makam raja di Sanggeue dan Garot Pidie (Hasil Obsevasi, 11 Juni 2019).

Selain keterangan HM. Zainuddin, selanjutnya dapat ditelusuri tentang penyebaran Islam di Aceh yang mula-mula sekali ialah catatan dari Marco Polo, asal Venesia yang menyebutkan bahwa penduduk Peureulak telah di Islamkan oleh pedagang-pedagang Islam (Zakaria Ahmad, 1972: 20).

Besar kemungkinan bahwa tidak hanya di pantai timur Aceh melainkan Islam sudah disebarkan oleh pedagang-pedagang Islam ke pusat pergiagaan; Nyong dan Gigieng bagian dari pantai utara Aceh dikawasan Selat Malaka, yang menghubungkan Arab/Persia dan India dengan negeri Cina (Tiongkok)pada abad ke-13 Masehi.

Dalam perkembangannya, lokasi awal Islam berdasarkan seminar-seminar yang diadakan di Medan tahun1963, di Banda Aceh tahun 1978 dan Rantau Kuala Simpang tahun 1980, agendanya bahwa Peureulak di Aceh Timur merupakan jejak awal dan kerajaan Islam pertama di Aceh (Husaini Ibrahim, 2014: 2).

Mengenai agama Islam yang masuk ke Aceh dibawa oleh pedagang Gujarat India, karena sejak zaman sebelum Islam, Pidie (Gigieng/Nyong/Leung Putu), erat hubungannya dengan perniagaan (lada, Pinang, keumenyan, dan kapur barus) dengan India, sehingga ketika Islam datang dari Gujarat/India, dengan mudah Islam itu turut disiarkan ke Pidie dan kawasan-kawasan Aceh serta nusantara.

Hal ini dibuktikan bahwa sebagian besar gampong-gampong yang terletak sangat strategis dipesisir pantai utara Pidie sebagian besar didomisili oleh orang-orang berasal dari India Kalingga, misalnya Gajah Aye, Pidie, Ribee, Gigieng, Ie Leubeue, Pante Raja, Nyong sampai Meureudu (Zainuddin, 1961: 18).

Gampong-gampong tersebut, penduduknya mirif dengan orang-orang muslim asal dari orang-orang Gujarat dan Kalingga-India.

BACA JUGA :  Pengeboran Minyak Ilegal Marak di Aceh Timur LSM KANA: Siapa yang Melegalkan

Pendapat berikutnya bahwa dalam seminar di Rantau Kuala Simpang tahun 1981 bahwa agama Islam pertama kali masuk ke Aceh disebarkan melalui dakwah secara langsung dari Arab ke berbagai kawasan di nusantara termasuk Pidie (Nyong, Gigieng dan Ribee) (Husaini Ibrahim, 2014: 4).

Menurut kajian dari Zakaria Ahmad (1972: 21) diterangkan bahwa seorang muballigh jang bernama Sjech Isma’il telah datang dari Mekkah sengadja menudju ke Samudra untuk mengislamkan penduduk di sana.

Kemudian ia singgah di Pidir (Poli), dan Lamuri untuk mengislamkan penduduk negeri tersebut. Tidak hanya mubaligh Arab tetapi saudagar-saudagar muslim asal Persia, Gujarat dan Cina ikut ambil bagian disamping melakukan transaksi perdagangan dan mengembangkan Islam terhadap penduduk di pesisir pantai Pidie abadke-14 M.

Gigieng sebagai Kota Perdagangan Seperti sudah dikemukakan di atas bahwa kawasan Kuala Gigieng/Peukan Lheue salah satu pesisir pantai utara di Pidie sejak abad ke-13 M sudah ramainya di singgahi oleh pedagang-pedagang Islam diantaranya dengan sebutan“Lahuda” (Teungku Chik Abdul Kadir) merupakan kelompok Tuan Besar dalam melakukan transaksi barang-barang dagangan.

Bahwasanya nama Gigieng artinya tempat kegiatan transaksi perdagangan (Peukan Gigieng) berasal dari bahasa India yang berarti “Kota Perdagangan” (Reza Fahlevi, 2016: 2).

Sehingga Gigieng dikenal menjadi pusat perniagaan/ bandar para saudagar-saudagar Islam asal Gujarat/India. Di samping kota perdagangan, Gigieng juga sebagai pusat kegiatan penyiaran Islam di Pidie, sejak menjadi obor Islam dunia pada abad ke-9 sampai 14 Masehi yaitu saat orang-orang Arab menguasai Gibraltar Spanyol dalam bukunya “Penaklukan Muslim Yang mengubah Dunia” (Kennedy, 2015: 394).

Secara umum perdagangan yang dilakukan pedagang muslim dapat digambarkan; mereka mula-mula berdatangan di tempat-tempat pusat perdagangan, lalu diantaranya ada yang bertempat tinggal di pusat transaksi barang, baik sementara untuk menetap.

Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan (Fahzian Aldevan,2014: 1). Termasuk di Peukan Gigieng (Keudee Gigieng) merupakan salah satu teluk lalu lalang kapal-kapal tongkang ataupara pedagang-pedagang Islam asal Gujarat India serta Canton/Cina dewasa itu (Reza Fahlevi, 4 Juni 2016).

Munculnya Gigieng Pidie dalam kancah perdagangan di Selat Malaka pada awal abad ke 14 M, tidak terlepas dari faktor geografis,bahwa Gigieng sangat mendukung faktor lalulitas pelayaran para pedagang Muslim dari Arab, India, dan Cina, yang berkaitan erat dengan banyaknya kapal-kapal saudagar asing tersebut yang berniaga di pelabuhan Kuala Lheue/Gigieng dan nusantara kala itu.

GAMBAR. 1

PETA PELAYARAN DAN KAPAL NIAGA ISLAM ABAD KE-14 M

Sumber: http://chaeroriezal.blogspot.com dan Wikipedia.com. Rute Pelayaran dan Perdagangan Kapal Dagang Arab dan India di Aceh dan Nusantara, menghubungan barat dan timur.

Berdasarkan konstektual historis dan arkeologi yang ditemukan (lempingan pecah belah dan makam kuno Lahuda/Teungku Chik Abdul Kadir, besar dugaan bahwa Kuala Gigieng/Lheue pada abad ke-14 M terkenal pusat aktifitas perdagangan Islam dari bangsaArab, Gujarat, Benggala (India), dan Cina yang datang ke Gigieng untuk melakukan transaksi jual beli atau bongkar muat barang dewasa itu.

Sumber wawancara (H. M. Jamil, 14 Agustus 2019) dengan mengutip sumber dari Abdul Jalil seorang penjual kain di Gigieng disampaikan bahwa “di Gigieng Polo Gang ada satu makam Lahuda (Nahkoda/Teungku Chik Abdul Kadir) seorang pedagang terkaya asal Gujarat, profesinya di bidang transaksi barang-barang dagangan”. H.M. Jamil, juga memperoleh keterangan dari Teungku Ibrahim Khatib Gigieng bahwa “Lahuda di Gigieng sebagai pedagang dan penjual pecah-belah serta pengusaha emas.

Lokasinya di depan SDN 2 Gigieng sekarang, dahulu ada toko-toko besar terbuat dari bangunan kayu.Bangunan toko-toko itu penjualnya milik pengusaha Arab, India dan Cina; mulai dari Gigieng sampai ke Kuala PeukanLheue. Selain di pusat Gigieng Pola Gang sampai ke Peukan Lheue dan Ie Leubueu, Pante Raja, Meureudu dan Samalanga berderetan di pesisir pantai Pidie.

Selanjutnya H.M. Jamil mengemukakan bahwa untuk wilayah Gigieng-Peukan Tuha, kala itu juga tersedia rute keluar-masuk armada tongkang ke Gudang untuk bongkar muat barang-barang di dermaga Jembatan Keuranji. Sehingga nama gudang tersebut lahir satu kampung namanya “Geudeueng Peukan Tuha”.

Di lokasi inilah Gigieng dijadikan pusat penyimpanan barang-barang dagangan, yang dipasok dari negeri Arab, India dan Cina.

Disini pula tersedia tempat penginapan khusus saudagar-saudagar besar atau Tuan Besar, asal Gujarat/India. Menurut keterangannya di kampung Geudeung dan Blang Pantee, ada bekas Tongkang tenggelam di lokasi jalur Jembatan Keuranji” yaitu sewaktu masih jayanya Gigieng bahwa Jembatan Keuranji, bisa menghubungkan antara Geudeung PeukanTuha, dengan Lampoih Weng/Polo Raya, terus menghubungkan ke Gigieng Polo Gang sebagai pusat transaksi perdagangan hingga ke Kuala Peukan Lheue dewasa itu (Sumber, H.M. Jamil; 14 Agustus 2019).

Gigieng sebagai Pusat Kegiatan Islam

Gigieng/Kuala Peukan Lheue Pidie, selain pusat transaksi perdagangan dan pusat aktifitas penyiaran Islam di Aceh. Di samping Faktor diatas, munculnya Gigieng sebagai pusat pengembangan Islam adalah dilatar belakangi oleh faktor persuasife (cara damai) dalam penyiaran Islam.

Dalam perkembangannya Islam secara umum ada beberapa factor yang dapat menyebabkannya, antara lain: Datangnya agama baru (Islam) tidak merubah struktur masyarakat yang ada, serta Islam tidak memaksakan penduduk setempat untuk memeluknya (Alamsyah, 1980:3).

Salah satu pendapat bahwa Islam datang melalui Gujarat ini didapatkan pada unsur-unsur Islam di Gigieng Pidie yang menunjukkan persamaannya dengan di India.

Hasil kajian arkeologi mengenai nisan makam “Lahuda/Teungku Chik Abdul Kadir” Gigieng Polo Gang” menunjukkan bahwa batu nisannya berasal dari Cambay dan Gujarat. Nama Gujarat menjadi salah satu bahasa di Aceh, yang bearti “Batu asal dari Gujarat menjadi Batee Jeurat”.

Yang berarti pula bahwa Islam berkembang di Aceh sebelum abad ke-14 Masehi di bawa oleh orang Muslim dari Arab, Persia dan India (Gujarat dan Benggala), yang melewati rute Selat Malaka saat itu (Soekmono, 1973: 44).
Secara historis dan arkeologi, ditemukan sebuah makam di Gigieng Pidie tetapi tanpa tulisan di batu nisan Lahuda/Teungku Chik Abdul Kadir (Tuan Besar).

Beliau adalah seorang saudagar kaya dan mubaligh Islam, berasal dari Gujarat (India). Selama transaksi barang dagangan di Gigieng, pernah menikah (kawin) dengan seorang gadis setempat.

Namun tidak mewariskanketurunannya dan makam disamping suaminya. Menurut teori Gujarat bahwa kegiatan Islam salah satunya melalui perkawinan antara pedagang atau saudagar dengan wanita setempat yang memiliki jalinan baik, lalu diteruskan denganperkawinan antara penduduk setempat dengan para pedagang Islam yang kemudian wanita tersebut masuk Islam (FahzianAldevan, 2014: 1).

BACA JUGA :  LSM KANA Soroti Ketimpangan Anggaran di Disdikbud Aceh Timur: PPPK Paruh Waktu Digaji Rp 200 Ribu Anggaran Outsourcing Miliaran

Seperti halnya Lahuda/Teungku Chik Abdul Kadir (pedagang besar) salah seorang dari golongan pembawa Islam ke Aceh (Gigieng) dengan melalui jalan perdagangan.

Menurut kajian Husaini Ibrahim (2014: 5) dijelaskan bahwa “Mereka (dia) membawa Islam ke Aceh sambil berdagang dan mendakwahkan Islam sambil menunggu musim angin yang baik melalui hubungan perdagangan, yang kebanyakan pedagangan-pedagangan itu berasal dari India yang datang berniaga ke Aceh dankawasan lainnya di Asia Tenggara”.

Hal ini dapat juga dihubungkan dengan perkembangan hubungan antara Gujarat,Gigieng Pidie, Samudra Pasai dan kawasan Asia Tenggara yang sudah merupakan daerah sibuk pada saat itu.

Kemajuan pedagang Muslim yang didukung oleh mubaligh berkaitan erat dengan perkembangan perdagangan internasional lewat Selat Malaka sejak abad ke-7 dan ke-8 M, sehingga sejumlah tempat di Nusantara boleh jadi telah dikunjungi olehpedagang-pedagang Muslim (Uka Tjandasasmita, 2009: 17).

Hubungan antara Muslim Gujarat di pantai utara Aceh danKepulauan Nusantara sebagai poros India dan Tiongkok yang telah memainkan peranan penting dan mencapai puncakpada abad ke-14 M. Dari hasil kajian ini dapat dibuktikan oleh adanya sebuah penemuan makam atau batu nisan/jeurat diGigieng Pidie, dari salah seorang Lahuda Muslim, asal Gujarat.

Gambar: 2

MAKAM LAHUDA, ASAL GUJARAT INDIA ABAD KE-14 MASEHI


Sumber: Hasil Observasi, bulan Juni 2019

 

Di komplek mesjid Gigieng Polo Gang, Simpang Lhee Pidie terdapat sebuah makam/jeurat seorang saudagar besar (Lahuda) Islam, yang batu nisan bersurat dalam bahasa dan huruf Arab. Di samping makam itu, juga ada tiga kuburan atau jeurat lainnya, yaitu dua buah makam jenisnya terbuat dari batu andesit (suami-isteri) dan satu makam lainya adalah terbuat dari batu alam.

Khususnya makam Lahuda (Teungku Chik Abdul Kadir), setelah penulis teliti bahwa panjang makam: 262 cm, lebar makam: 46 cm, dan tebal makam: 14 cm. Sedang batu nisan tingginya yaitu 151 cm. Selain pengukuran makamnya, dihitung juga jumlah mahkota atau kubah batu nisan. Bahwasanya batu nisan ini terdiri dari 5 (lima) kubah, dan bentuknya sama persis dengan gaya menara mesjidil Haram di Mekah, Saudi Arabia.

Namun batunisannya di import dari Gujarat (India).Analisis batu nisan tersebut bahwa dihiasi dengan gaya kaligrafi bertulisan Arab, namun tulisan belum mampuuntuk menerjemahkan huruf dan tulisan serta arti dari rangkaian tulisan tersebut.

Hanya peneliti mampu melihat secara dekat bahwa batu nisan dan badan kubur terdiri dari satu kesatuan. Jenis batu nisan Lahuda diperkirakan telah berusiaratusan tahun dari sejak abad ke-14 Masehi.

Juga batu nisan itu beda sekali dengan batuan nisan di Pasai yaitumakam sultan Malik al-Shalih mempunyai tulisan yang dilukis dengan gaya nastalit bersama dengan huruf-huruf yangindah (Husaini Ibrahim, 2014: 134).

Secara arkeologi bentuknya sangat istimewa bahwa batu nisan di Gigienggayanya, tegak menjulang bagaikan menara dan kubah mesjidil haram, dan mempunyai tingkatan-tingkatan kubahnya. Bahkan batu nisan itu salah satu batu nisan andesit bercorak dari Gujarat itu dilukis di sana atau bahan mentah yangdibawa dari sana.

Dampak Unsur Sosial dalam Masyarakat

Konon dari hal tersebut di atas bahwa pedagang-pedagang Islam, asal dari Gujarat (India) sudah mewarnai unsur budaya dan bahasa di sekitar Gigieng, Pidie, Gajah Aye, Laweueng sampai Aceh Besar.

Misalnya sampai dewasa ini namanama warga dan tempat di Gigieng Pidie masih mewarnai unsur dari bahasa Gujarat, Benggala asal India, seperti sebutanorang dagang, orang keling, juga ada gelar Habib dan Sab. Warga Gigieng dan Pidie umumnya suka memakai pakaian merah dan kuning serta hitam. Suka makan sirih dan main Ripa’i. Masakan juga mirif sekali resep gulai-gulai India banyakmemakai kunyit, cabe dan ketumbar (Miala, 1970: 6).

Aktifitasnya yang digemari adalah “Berdagang dan Berjualan”.Dimana mereka bermukim tentu akan membuka usahanya atau rumah makan dengan masakan khas yaitu kari alaHindustan dan rumah-rumah makan diabadikan adalah “Warung Gigieng dan Warung Mantak”.

Selain itu bahwa warga Gigieng suka sekali berjualan rempah-rempah, tidak hanya di Sigli, tetapi disejumlah kota-kota di Aceh; Banda Aceh, Bireuen, Lhokseumawe dan Langsa

PENUTUP
Kuala Gigieng/Lheue abad ke-14, selain pusat transaksi perdagangan dan kegiatan Islam di Pidie. Dewasa itu para mubaligh dari Arab/Persia, Gujarat/India dan Cina disamping berdagang dan giat menyiarkan Islam di pesisir pantai Pidie sampai Selat Malaka.

Peninggalan kuno salah warisan budaya Gujarat (India) dan menjadi aset kebudayaan Islam di derah ini, yaitu makam Lahuda/Teungku Chik Abdul Kadir (bangunan kuno/arkeologi) di Gigieng, dapat dijadikan bukti historis Islam dan Cagar Budaya dapat dijadikan peradaban bangsa.

REFERENSI

Alamsyah, 1980. Masuk dan Berkembangnya Islam di Kodya Banda Aceh. Makalah Seminar. Aceh Timur tanggal 25-30 September 1980.

Alfian, Teuku Ibrahim, 1973. Kronika Pasai Sebuah Tinjauan Sejarah. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.

Amin, M. Arifin, 1985. Monisa Dalam Lintasan Sejarah Bangsa. Langsa: Yayasan Monisa Kab. Aceh Timur.

Bangun, Pieter, 1988. Peninggalan Kebudayaan Islam di Aceh. Banda Aceh: Depdikbud Proyek Pengembangan Persemeuman.

Dudung Abdurrahman. 1999. Metodologi Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu ottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia. Graha Ilmu.

Fahzian Aldevan, Desy Nazia Putri, 2014. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh. Bunga Rampai Aceh.
Hadari Nawawi. 1993. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: UGM.

Jamil, H.M, 2019. Sumber Informan. Umur, 76 tahun. Pekerjaan: Pernah Pengusaha Kontraktor dan Tokoh Masyarakat Gigieng-Simpang Tiga di perantauan. Tinggal di Blang Seunibong-Langsa.

Kennedy, Hugh, 2015. Penaklukan Muslim Yang Mengubah Dunia. Tangerang: PT. Pustaka Alvabet.

Khalifurrahman Fath, Muhammad Muhammad Muchson Anasy, 2009. Risalah Ibnu Bathuthah Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan. Jakarta Timur: Pustaka al-Kausar.

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Miala, A, 1970. Leburnja Keraton Atjeh. Medan: Toko Buku Sarkawi.

Sartono Kartodirdjo, 1991, Sejarah Perkebunan di Indonesia, Kajian Sosial Ekonomi Yogyakarta: Adtya Media.

Said, J. Teruna, 1986. Ny. Aquino Tumbangkan Marcos Suatu Revolusi Rakyat di Filipina. Medan: PT. Harian Waspada.

Surakhmad, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metoda Teknik. Bandung: Tarsito. (*)