Ustadz Gondrong Hidupkan Pengobatan Ala Leluhur, Rawat Anak Yatim, dan Layani Pasien dari Berbagai Daerah

oleh -57.759 views

Bekasi | REALITAS  —
Di tengah mahalnya biaya kesehatan dan terbatasnya akses masyarakat kecil terhadap pelayanan medis, sosok Syamsudin—atau yang akrab disapa Abah Gondrong—muncul sebagai tumpuan harapan baru. Ia tidak hanya dikenal sebagai praktisi pengobatan tradisional, tetapi juga pengasuh pondok pesantren Nurul Hikmah. Pesantren ini digratiskan khusus anak yatim piatu, yang berlokasi di Kampung Jarakosta, Desa Karangmukti, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi.

Setiap hari Minggu pukul 08.00 hingga selesai, halaman rumah dan area pesantren tampak dipenuhi warga yang datang membawa berbagai keluhan. Pasien yang datang bukan hanya dari Bekasi, tetapi juga dari Karawang, Jakarta, dan wilayah lain. Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan layanan pengobatan yang dinilai ikhlas, sederhana, dan terjangkau.

Metode pengobatan Abah Gondrong menghidupkan kembali tradisi leluhur. Ia menggunakan pijat tradisional, doa, serta ramuan herbal dari daun dan akar-akaran. Untuk kasus tertentu seperti amandel, ia hanya menggunakan air putih sebagai media terapi spiritual. Berbagai keluhan seperti maag, bisul, sakit mata, pegal-pinggang, hingga stroke ringan menjadi bagian dari ikhtiar penyembuhannya.

BACA JUGA :  Pembangunan Masjid Baitut Thalibin Di MAN 1 Tangerang Terus Berlanjut.

Tidak sedikit pasien yang mengaku merasakan manfaatnya. Ibu Rukmini, warga Karawang yang membawa anaknya berobat amandel, mengatakan:
“Alhamdulillah setelah dua kali datang, pakai air putih doa dari Abah, anak saya mulai enakan. Yang penting beliau ikhlas bantu, kami sebagai warga kecil merasa terbantu sekali.”

Pasien lainnya, Pak Rahmat dari Bekasi Utara, juga merasakan perubahan setelah lama menderita sakit pinggang.
“Setelah dipijat dan dikasih ramuan daun, badan saya jauh lebih ringan. Yang bikin saya terharu, Abah tidak pernah pasang tarif,” ungkapnya.

Sementara itu Siti Nurhayati, warga Jakarta Timur yang jauh-jauh datang ke lokasi, mengatakan Abah Gondrong melayani dengan ketulusan.
“Abah itu orangnya sabar, ramah, dan tidak pilih-pilih pasien. Saya merasa seperti dilayani keluarga sendiri.”

Kesan serupa disampaikan Dedi, warga Cikampek yang mengalami gejala stroke ringan.
“Yang bikin saya kaget, uang seikhlasnya pun tidak dipatok. Abah bilang sebagian buat santri yatim. Saya jadi makin percaya ini bukan soal bisnis, tapi ibadah,” ujarnya.

BACA JUGA :  Peringati Hari Hakordia Kasatgas Ungkap Tahun 2025, 500 Perkara Dari Swasta.

Di balik aktivitas pengobatan ini, Abah Gondrong memikul tanggung jawab besar lainnya: mengasuh dan mendidik puluhan anak yatim piatu di pesantrennya. Seluruh biaya, mulai dari makan hingga kebutuhan harian para santri, ditanggung tanpa memungut bayaran. Keberlangsungan pesantren pun bergantung pada sedekah dari pasien dan donatur yang kadang datang, kadang tidak.

“Kadang ada yang ngirim beras, kadang tidak. Ya kita jalan saja dengan yang ada,” tutur Abah dalam kesempatan terpisah.

Meski menjalankan pengobatan alternatif, Abah Gondrong selalu menekankan bahwa usahanya bukanlah pengganti layanan medis modern. Ia kerap menyarankan pasien untuk tetap memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila kondisi tergolong berat. “Pengobatan ini ikhtiar. Yang menyembuhkan tetap Allah,” ujarnya merendah.

Kehadiran Abah Gondrong di tengah masyarakat menjadi cermin bahwa ketulusan dan kepedulian tidak selalu lahir dari kaum berada. Dari kampung kecil di Bekasi, ia membuktikan bahwa kerja kemanusiaan bisa berjalan berdampingan: menyehatkan masyarakat sekaligus membuka masa depan bagi anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan.(Zey/Pay)