Dengar Keluhan Pengungsi Banjir Bali, Gibran Tegaskan Rumah dan Fasum Rusak Akan Dibangun Ulang

oleh -16.759 views

Bali | REALITAS —  Wapres Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung lokasi banjir bandang di Bali, menemui para pengungsi, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Gibran menjanjikan pemerintah akan membangun kembali seluruh rumah warga dan fasilitas umum (fasum) yang rusak akibat bencana.

Gibran secara aktif mendengarkan keluhan warga (logistik, trauma anak) dan kehadirannya memberikan harapan baru bagi masyarakat Bali untuk bangkit.

Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada September 2025 menyisakan duka mendalam bagi masyarakat.

Air bah yang datang tiba-tiba menghancurkan rumah-rumah warga, merusak fasilitas umum, serta memaksa ribuan orang mengungsi.

Dalam suasana penuh keprihatinan itu, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka turun langsung meninjau lokasi terdampak dan menemui para korban.

Kunjungan Gibran ke Bali dilakukan pada Jumat (12/9/2025). Didampingi pejabat daerah dan aparat TNI-Polri, ia mendatangi posko-posko pengungsian untuk mendengar langsung keluhan masyarakat, sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya.

Kehadiran Wapres di tengah masyarakat terdampak menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat tidak tinggal diam menghadapi musibah besar ini.

Suasana di Posko Pengungsian: Warga Sambut Hangat

Hendra bersama kedua anaknya di Posko Pengungsian Banjar Tohpati, Denpasar, Kamis (11/9/2025)

Hendra bersama kedua anaknya di Posko Pengungsian Banjar Tohpati, Denpasar, Kamis (11/9/2025)

Setibanya di lokasi, Gibran langsung menyapa para pengungsi yang tampak kelelahan namun berusaha tegar.

Dengan nada menenangkan, ia berkata, “Bapak Ibu, tenang semua. Pemerintah hadir bersama masyarakat untuk melewati masa sulit ini.”

Ucapan itu disambut lega oleh warga yang merasa diperhatikan langsung oleh pemimpin nasional.

Di posko, Gibran berjalan menyusuri tenda-tenda darurat, menyempatkan diri berbincang dengan warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak.

Banyak dari mereka menceritakan pengalaman saat banjir menerjang: air datang sangat cepat, membawa material lumpur dan kayu besar, sehingga mereka tak sempat menyelamatkan harta benda.

Sejumlah warga bahkan kehilangan anggota keluarga mereka.(Agust)