Langsa | REALITAS – Ketegangan di lingkungan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Langsa memuncak, menyusul demonstrasi yang digelar mahasiswa menuntut pencopotan Dekan Fakultas, ini memang dipicu oleh Dekan Fakukta itu sendiri dan beredar daftar dosanya yang belum ditayangkan oleh media.
Demo ini dilatarbelakangi sejumlah kebijakan yang dinilai memberatkan mahasiswa, salah satunya terkait penyelenggaraan seminar mata kuliah Ilmu Dakwah yang dinilai membebani secara finansial dan tidak transparan dalam penilaian.
Pada Sabtu, 12 Januari 2024, seminar Ilmu Dakwah yang wajib diikuti oleh mahasiswa dari program studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) diselenggarakan sebagai bagian dari syarat kelulusan mata kuliah tersebut.
Mahasiswa diwajibkan menyetor uang sebesar Rp 25.000/orang untuk membiayai seminar, dengan total dana terkumpul sekitar Rp 1.800.000. Sebagian besar dana tersebut diberikan kepada dosen untuk membayar pemateri yang merupakan kenalan dosen pengampu, serta untuk membayar moderator, yang juga dosen pengampu itu sendiri.
Namun, meskipun seminar sudah dilaksanakan, masih ada beberapa mahasiswa, termasuk panitia seminar, yang tidak mendapatkan nilai yang memadai. Bahkan, empat mahasiswa dari program studi KPI tidak lulus mata kuliah tersebut, dengan alasan sering tidak hadir dan tidak menyetor tugas hafalan. Keputusan ini menuai protes dari mahasiswa karena, menurut mereka, kesepakatan awal dengan dosen adalah tugas hafalan bisa diganti dengan meringkas materi seminar.
Mahasiswa mengaku telah menyelesaikan tugas tersebut, namun tidak mendapat tanggapan dari dosen.
Kejadian ini membuat mahasiswa semakin frustrasi, apalagi dosen tersebut adalah Dekan FUAD yang saat ini menjadi sasaran demonstrasi. Mahasiswa merasa dosen pengampu tidak transparan dalam memberikan nilai dan membebani mereka secara finansial.
“Kami sudah kumpulkan uang untuk seminar, tapi yang kami dapat hanya nilai rendah dan ketidakjelasan,” ungkap salah satu mahasiswa yang tidak lulus.
Dalam aksi demo yang berlangsung pada Jumat, 11 Oktober 2024, mahasiswa dari aliansi Ormawa FUAD menuntut pencopotan dekan, yang dianggap tidak becus dalam mengelola fakultas. Mereka menilai bahwa kebijakan akademik, termasuk seminar yang diwajibkan, hanya memberatkan tanpa memberikan manfaat yang sepadan.
“Kami butuh pemimpin yang peduli dengan mahasiswa, bukan hanya sekadar mengurus kegiatan formal tanpa melihat realitas yang terjadi di lapangan,” ujar Muhammad Al Fatih, Koordinator Aliansi Mahasiswa dalam orasi saat demo, terjadi Jumat lalu.
Mahasiswa juga menolak ajakan Rektor untuk berdialog dengan cara informal, seperti duduk ngopi di Edukasi Kopi pada Jumat malam, 11 Oktober 2024. Mereka menilai itu sebagai upaya untuk meredam tuntutan mereka tanpa menyelesaikan permasalahan secara substansial.
“Ini bukan soal ngopi bersama, ini soal kebijakan yang harus diubah. Kami tidak mau ajakan yang hanya bertujuan untuk melunakkan sikap kami,” tambah salah satu anggota aliansi mahasiswa.
Dengan situasi yang semakin memanas, tuntutan mahasiswa agar dekan FUAD dicopot semakin kuat, terutama terkait masalah ketidakadilan dalam penilaian akademik dan kebijakan yang dinilai memberatkan mereka secara finansial. Mahasiswa berharap agar pihak kampus segera merespon tuntutan mereka dengan langkah konkret.
“Kami mintak kepada Pihak Rektor IAIN Langsa, hanya ada pilihan cuma segera copot Dekan FUAD dan aktor aktornya,” sebut Muhammad Al Fatih dalam orasinya.(*)











