IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

IKLAN YARA

Analisis Perbandingan Penduduk Miskin di Dua Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa

oleh -244.579 views
Analisis Perbandingan Penduduk Miskin di Dua Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa
Septari Handayani Maha Siswi IAIN Langsa

 GOOGLE NEWS

Oleh : Septari Handayani Maha Siswi IAIN Langsa

Analisis Perbandingan penduduk miskin di dua Kabupaten Aceh Tamiang Dan kota Langsa Provinsi Aceh.

1. Indeks Persentase PendudukMiskin

Dari grafik diatas, dapat diketahui bahwa kedua garis terssebut menggambarkan bagaimana persentase penduduk miskin selama lima tahun terakhir yaitu tahun 2016 – 2020 yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa yang dijadikan sebagai kota pembanding. Jika dilihat dari tabel sudah terlihat jelas bahwa Kabupaten Aceh Tamiang memiliki indeks persentase.

Aceh Tamiang
Foto : Istimewa

PendudukmiskinyanglebihbanyadibandingkandenganKotaLangsa.Tahun2016 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Aceh Tamiang 3,42% lebih banyak dibandingkan dengan Kota Langsa, tahun 2017 berjumlah 3,45% bahkan tahun 2017 mengalami angka peningkatan kemiskinan 3%. Tahun 2018 persentase kemiskinan kembali seperti pada tahun 2016 yaitu 3,42% lebih banyak dibandingkan dengan Kota Langsa.

Tahun 2019 persentase kemiskinan Kabupaten Aceh Tamiang mengalami penurunan sebesar 2,81% dibandingkan dengan Kota Langsa, dan tahun 2020 jumlah persentase kemiskinan mengalami penurunan kembali sebesar 2,64% dibandingkan dengan Kota Langsa.

Penyebab dari kenaikan dan penurunan angka persentase kemiskinan bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:

a. Jika terjadi perubahan rata-rata upah buruh/ hari. Dalam hal kenaikanupah, maka akan dapat menurunkan tingkat persentasekemiskinan.
b. Nilai tukar petani (NTP)meningkat.
c. Daya beli masyarakatrendah.
d. Penurunan harga eceran yangtinggi.
e. Meningkatkan jumlah orang yang menerimabantuan.

Dampak yang terjadi terhadap masyarakat seperti yang sudah saya wawancarai Ibu Wirdayani yang bertempat tinggal di Kabupaten Aceh Tamiang mengatakan bahwa: “makanan merupakan bahan pokok hari-hari yang harus dikonsumsi manusia, jika dari tingkat bahan pangan memiliki harga-harga yang lebih tinggi dari biasanya, maka mungkin masyarakat miskin tidak akan mampu membelinya,sepertiyangterlihatsekarangbahwahargaminyakgorengmengalami peningkatan yang sangat pesat, sehingga membuat saya khususnya karna saya menjual gorengan untuk mendapatkan penghasilan tambahan mengalami penurunan pendapatan harian”.

Dari wawancara yang saya lakukan dengan Ibu Wirdayani sudah terbukti bahwa kenaikan dan penurunan tingkat kemiskinanyang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang disebabkan oleh faktor-faktor yang telah di uraikandiatas.

Selama masa pandemi COVID-19 masyarakat ada yang mendapatkan bantuanberupaProgramKeluargaHarapan(PKH),bantuandanaUMKM,bantuan sembako yang disalurkan pemerintah perbulannya serta masih banyak lagibantuan yang sudah disalurkan selama masa pandemi ini, keuntungan dari adanya berbagai macam bantuan ini, setidaknya kini mampu memberantas kemiskinan dan memberikansolusiyangdialamimasyarakat.Apalagiuntukmasyarakatyangsudah rentan, kini sudah mampu mendapatkan salah satu bantuan yang di salurkan oleh pemerintah selama masa pandemiini.

2.Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Pengeluaran atas Dasar Harga Konstan.

Aceh Tamiang

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan PDRB menurut pengeluaran atas dasar harga konstan yang menggunakan indikator dari pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk membandingkan antara PDRB di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

Dari tabel saja sudah terlihat jelas perbedaannya bahwa PDRB pengeluaran konsumsi rumah tangga Kota Langsa lebih berjumlah sedikit dibandingkan Kabupaten Aveh Tamiang.

Pada tahun 2016 PDRB Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah 4,17% lebih besar dibandingkan dengan Kota Langsa, tahun 2017 PDRB Kabupaten Aceh Tamiang mengalami penurunan sebesar 3,05% dibandingkan dengan Kota Langsa.

Tahun 2018 – 2020 PDRBKabupatenAcehTamingberjumlah9,13%lebihbesardibandingkandengan Kota Langsa.

PDRB pada pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah suatu pengeluaran atas barang dan jasa oleh rumah tangga residen yang bertujuan untuk konsumsi akhir. Konsumsi akhir yang dimaksud adalah konsumsi barang dan jasa dalam

memenuhi kebutuhan rumah tangga. Konsumsi akhir dalam rumah tangga mencakup:

a. Nilai barang dan jasa yang berasal daripembelian.
b. Perkiraan nilai barang dan jasa berasal dari transaksibarter.
c. Perkiraan nilai barang dan jasa berasal dari pemberikerja.
d. Perkiraan nilai barang dan jasa diproduksi untuk dikonsumsisendiri.

Jika kita melihat kembali dari hasil cakupan konsumsi akhir dalam rumah tangga, maka dapat disimpulkan bahwa komsumsi akhir dalam rumah tangga yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah lebih besar dari Kota Langsa.

Hal ini disebabkan oleh beberapa cakupan yang ada diatas, jika dilihat kembali pada Kabupaten Aceh Tamiang, suda terlihat jelas bahwa point pertama yaitu nilai barang dan jasa yang berasal dari pembelian mengalami kenaikan yang sangat tinggi di Kabupaten Aceh Tamiang, karena kebanyakan dari masyarakat lebih sering melakukanjualpembeliuntukmemenuhikebutuhanrumahtanggadiKotaLangsa. Sehingga menyebabkan penurunan atau kenaikan pada nilai barang danjasa.

Dampak ini terlihat jelas seperti yang dirasakan oleh Ibu Khairani Yusuf yang mengatakan bahwa: “Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, di Kapubaten Aceh Tamiang lebih ramai padahari sabtu/minggu, karena terdapat pasar pekan yang dijual dengan harga murah sehingga menarik masyarakat untuk membeli kebutuhan rumah tangganya ketika ada pasar pekan, tetapi jika tidak ada pasarpekan, makapenghasilan yang kami dapatkan terkadang tidak normal bahkan. juga tidak mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga”.

Dari perkataan Ibu Khairani Yusuf, terlihat jelas bahwa masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang lebih tertarik memenuhi kebutuhan rumah tangganya di Kota Langsa, oleh sebab itu laju perkembangan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang mengalami peningkatan/ penurunan, tingkat konsumsi juga akan menjadi salah satu indikator dari seberapa sulitnya kehidupan masyarakat yang ada.

Penurunan tingkat konsumsi rumah tangga hendaknya mampu untuk menjadi bahan dalam melakukan intropeksi ekonomi nasional dan harus mendapatkan solusi yang tepat.

Solusi dari masalah ini hendaknya ada dilakukan evaluasi terhadap tingkat penurunan konsumsi rumah tangga sehingga dapat dilanjutkan dengan analisis tingkatkerentananpadasektorrumahtanggabaikdarilihatdarisisikeuanganyang dilakukan dengan menggunakan rasio utang sektor rumah tangga terhadap PDRB maupun dilakukan dengan beberapa indikator umum lainnya.