IKLAN YARA

Stunting Hambat Bonus Demografi

oleh -141.489 views
Stunting Hambat Bonus Demografi
UPDATE CORONA

Stunting Bonus demografi di Indonesia diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2030, namun pada kenyatannya banyak sekali tantangan dan hambatan jelang bonus demografi, salah satunya kejadian stunting di Indonesia, Berdasarkan data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 27,7%.

Menurut World Health Organization (WHO), masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap buruk jika prevalensi stunting lebih dari 20 persen, Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis.

Stunting menjadi salah satu isu kesehatan yang menjadi perhatian penting pemerintah karena menyangkut masalah gizi balita yang paling tinggi pada saat ini, pada Awal tahun 2021, Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024.

BACA JUGA :   Manisnya Kopi Menemani Damainya Desa Baling Karang

Stunting menyebabkan pertumbuhan fisik anak terganggu sehingga memiliki tubuh yang lebih pendek dari anak-anak seusianya, stunting juga memiliki manifestasi jangka panjang.

Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kemampuan kognitif dan akademis yang rendah dan memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit gizi lebih saat dewasa.

Menurut kemenkes factor Penyebab dari stunting adalah rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan atau pada masa Golden Age, yakni sejak janin hingga bayi umur dua tahun.

Selain itu, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting.
Berikut 4 program pemerintah untuk mencegah stunting:

1. Peningkatan Gizi Masyarakat melalui program Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk meningkatkan status gizi anak.

BACA JUGA :   Manisnya Kopi Menemani Damainya Desa Baling Karang

Kementerian Kesehatan merilis, 725 ribu ibu hamil yang mendapatkan PMT untuk ibu hamil dan balita kurus di Papua dan Papua Barat, Surveilans Gizi pada 514 Kabupaten/Kota dan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada 514 Kabupaten/Kota.

2. Sanitasi berbasis Lingkungan melalui peningkatan kualitas sanitas lingkungan di 250 desa pada 60 Kabupaten/Kota, dengan target prioritas pada desa yang tingkat prevalensi stuntingnya tinggi.

3. Anggaran setiap desa dalam program ini sebesar 100 juta, dengan target minimal 20 KK terlayani jamban individu sehat dan cuci tangan pakai sabun dan kebijakan yang menyasar kepada warga miskin agar ada perubahan perilaku.

4. Pembangunan infastruktur. Pemerintah membangun infrastruktur air minum dan sanitasi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, salah satunya mencegah stunting.

BACA JUGA :   Manisnya Kopi Menemani Damainya Desa Baling Karang

Dalam empat tahun telah membangun Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Tempat Pengolahan Air (TPA), dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS).

Dari program-program diatas, masih banyak pekerjaan rumah pemerintah dalam menurunkan angka stunting dengan pencegahan-pencegahan yang berfokus pada penurunan tingkat kemiskinan di masyarakat, peningkatan fasiltas pelayanan kesehatan di daerah-daerah, dan memberikan pendidikan kepada calon ibu pada masa kehamilan dalam memenuhi gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), karena Dampak pada masa periode emas akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang buah hati hingga dewasanya.

Penulis : Riza Maryani