IKLAN YARA

Rohmat Selamat : Pejabat Harus Memahami Etika Komunikasi Public

oleh -37.489 views
Rohmat Selamat Pejabat Harus Memahami Etika Komunikasi Public
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Pengamat kebijakan public Rohmat Selamat, SH, M.Kn, mengatakan pejabat harus memahami etika komunikasi public.

Sebelumnya Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyesalkan sikap Menteri Sosial Tri Rismaharini yang marah-marah sembari menunjuk warganya menggunakan pena.

Sikap Risma tersebut, membuat Rusli Habibie tersinggung.

Menurut Rusli sikap marah-marah Risma tersebut dinilai memberikan contoh buruk soal bagaimana pejabat sekelas Menteri bersikap.

“ Saya saat melihat video itu sangat prihatin.

Saya tidak memprediksi seorang ibu menter, sosial lagi, memperlakukan seperti itu.

Contoh yang tidak baik,” kata Rusli Habibie, dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi Gorontalo, pada hari Sabtu (2/10/2021).

Terkait peristiwa tersebut, Rusli mengingatkan, agar Risma lebih untuk menjaga sikapnya di depan rakyat, apalagi saat berkunjung ke kampung orang.

“ Pangkat dan jabatan harus kita jaga.

Tidak ada artinya pangkat ini semua kita tinggalkan.

Kalaupun toh dia salah ya dikoreksi, di depan umum lagi,” ucap Rusli Habibie.

Sikap dan perilaku Risma tersebut, juga mendapat sorotan dari berbagai pihak.

Pengamat kebijakan public Rohmat Selamat, SH, M.Kn, mengatakan menjadi pejabat publik memang tidak mudah, setiap sikap dan perilakunya, akan menjadi panutan masyarakat luas.

BACA JUGA :   Ganjil Genap Normal Kembali, Polisi Siapkan Personil di Tiga Kawasan

“ Harus berhati-hati dalam bersikap maupun berucap.

Sebagai pejabat publik, ibu Risma seharusnya memperlihatkan sikap yang teduh, kebiasaan marah-marah seharusnya dihilangkan.

Berilah masyarakat pengayoman, jika salah, tegur dengan baik, tidak kemudian mempermalukan di harapan publik.

Ini menjadi preseden buruk, betapa pentingnya pejabat memahami etika komunikasi publik,” kata Rohmat Selamat, yang juga Ketua DPC PWRI Kabupaten Bogor ini mengingatkan.

Bu Risma, kata Rohmat, adalah seorang pejabat publik dan public figure.

Tentu saja yang dia perbuat akan menjadi sorotan dan dinilai oleh publik.

“ Pejabat ditempatkan masyarakat pada posisi terhormat, seharusnya hal ini dijaga betul, jangan sampai malah membuat masyarakat itu tersinggung karena sikap dan ucapannya.

BACA JUGA :   Libur Maulid Digeser Jadi Rabu 20 Oktober Serta Larangan Cuti ASN

Sikap dan perilaku yang tidak pada semestinya, akan tetap diingat masyarakat, meski sudah minta maaf sekalipun,” ungkapnya.

“ Ke depan, pejabat hendaknya lebih berhati-hati dalam berucap dan bersikap.

Sebab pejabat publik paling disorot dan layak menjadi sasaran kritik.

Benar atau salah, sikap atau pernyataan pejabat publik akan menjadi sorotan masyarakat.

Apalagi atmosfer politik Indonesia saat ini kian memanas,” ungkapnya. (Deddy Karim)