IKLAN YARA

Hindari Taliban, Walkot Wanita Pertama di Afghanistan Kabur ke Jerman Penuh Pilu

oleh -59.489 views
Hindari Taliban, Walkot Wanita Pertama di Afghanistan Kabur ke Jerman Penuh Pilu
Wali kota wanita pertama di Afghanistan Zarifa Ghafari
UPDATE CORONA

Kabul I Realitas  – Wali kota wanita pertama di Afghanistan Zarifa Ghafari sempat mengaku pasrah apabila suatu saat akan dibunuh Taliban.

Sikap Zarifa itu muncul setelah Taliban akhirnya menguasai Afghanistan.

Zarifa Ghafari adalah Wali Kota di Maidan Shahr, Provinsi Wardak, Afghanistan.

Sebuah kota yang terletak di sebelah barat Kabul, Ibu Kota Negara Afghanistan.

Awalnya dia pasrah terhadap Taliban yang akan membunuhnya karena Taliban tidak menyukai pemimpin perempuan.

“Saya duduk di sini menunggu mereka datang. Tidak ada yang membantu saya atau keluarga saya. Saya hanya duduk bersama mereka dan suami saya. Dan mereka akan datang untuk orang-orang seperti saya dan membunuh saya,” kata Ghafari.

“Saya tidak bisa meninggalkan keluarga saya. Lagi pula, ke mana saya akan pergi?” ketika Taliban baru saja wilayah itu.

Wali kota wanita Afghanistan, Zarifa Ghafari.

Namun beberapa hari kemudian, ternyata Zarifa Ghafari dan keluarganya berhasil kabur ke Jerman.

Zarifa Ghafari tiba di Jerman, Senin 23 Agustus 2021 malam.

Kanselir Negara Bagian Rhine-Westphalia Utara (NRW), mengatakan Zarifa Ghafari mendarat bersama anggota keluarganya di Bandara Cologne.

Dia kemudian bertemu Perdana Menteri NRW dan kandidat Kanselir Serikat Armin Laschet (CDU) di Düsseldorf.

Zarifa Ghafari beruntung bisa kabur ke Istanbul Turki melalui Islamabad,  Pakistan.

Berjuang dari Pengasingan

Zarifa Ghafari berterima kasih kepada pemerintah dan rakyat Jerman karena “menyelamatkan” hidupnya dan keluarganya.

“Saya di sini hanya untuk menyuarakan harapan 99% orang di Afghanistan yang tidak bisa keluar dari rumah mereka, para wanita yang tidak mampu bekerja, para wanita yang tidak mampu berbicara,” kata Zarifa Ghafari kepada kantor berita ANI melalui konferensi video.

Dia mengungkap pasukan Taliban mendatangi rumahnya untuk menemukan dirinya.

Pasukan Taliban juga memukuli penjaga rumahnya.

“Taliban datang ke rumah saya di Afghanistan, mereka mencari saya dan mereka juga memukuli penjaga rumah saya,” kata Zarifa Ghafari.

Zarifa Ghafari mengungkapkan bahwa Taliban memiliki daftar orang-orang yang berpandangan moderat seperti dirinya.

BACA JUGA :   Biddokkes Jateng Bersama Unimus Semarang Gelar Vaksinasi Merdeka

“Afghanistan adalah milik kita dan akan tetap menjadi milik kita tidak peduli siapa yang datang. Jika wanita seperti saya sekarang tidak ada, itu karena… Sama seperti harimau yang mundur dua langkah untuk kembali dengan kekuatan lebih. Kita harus menunjukkan kepada dunia wajah asli Taliban di Afghanistan,” tambahnya.

Dia juga mengatakan telah berjanji untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di pengasingan.

“Tujuan saya adalah untuk bertemu dengan pejabat tinggi, politisi dan wanita dari berbagai negara untuk membuat mereka sadar akan situasi nyata di Afghanistan, dan meminta mereka untuk bergabung dengan saya untuk memulai sebuah gerakan.”

Zarifa Ghafari mengatakan penduduk setempat sama-sama bertanggung jawab atas kembalinya Taliban ke kekuasaan di Afghanistan karena mereka “tidak pernah mengangkat suara mereka secara bersatu” melawan Taliban.

“Apa pun yang dihadapi Afghanistan hari ini, semua orang harus disalahkan, termasuk masyarakat lokal, politisi, anak-anak, dan komunitas internasional. Masyarakat lokal tidak pernah bersatu padu melawan semua yang salah termasuk terorisme,” kata Zarifa Ghafari seperti dikutip ANI.

Zarifa Ghafari mengatakan dia tidak bisa memaafkan siapa pun karena semua pencapaian selama 20 tahun terakhir di Afghanistan sekarang hilang.

Tentang Taliban yang berjanji untuk membentuk pemerintahan reformasi, Zarifa Ghafari, “Saya tidak peduli apakah Taliban berperilaku sendiri atau tidak karena kami (Afghanistan) tak terbendung. Berapa banyak orang yang bisa dibunuh Taliban?”

Zarifa Ghafari juga mengklaim bahwa Pakistan memiliki peran penting di belakang Taliban yang menguasai negara yang dilanda perang itu.

“Peran Pakistan sangat jelas, setiap anak Afghanistan tahu ini,” katanya.

Zarifa Ghafari lahir di Kabul sebagai putri seorang tentara dan fisikawan.

Dia belajar ekonomi di Pakistan.

Di Afghanistan Zarifa Ghafari mendirikan organisasi Assistance and Promotion of Afghan Women (APAW).

Zarifa Ghafari jauh lebih beruntung dibanding gubernur wanita pertama di Afghanistan, Salima Mazari, yang kini ditangkap Taliban.

BACA JUGA :   Pemkab Atim Tandatangani MOU-MOA Dengan Poltekkes Kemenkes Aceh

Namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi Taliban soal penangkapan Salima Mazari yang pernah mengangkat senjata melawan Taliban.

Hingga musim gugur yang terakhir, Chahar Kint adalah satu-satunya wilayah di bawah kendali seorang wanita yang tidak termasuk dalam kelompok teror mana pun di wilayah tersebut.

Menurut The Guardian, Salima Mazari berhasil menegosiasikan penyerahan 100 pejuang Taliban tahun lalu.

Wanita Mulai Dilecehkan

Sejumlah guru dan staf perempuan lain yang dipekerjakan oleh sekolah-sekolah di dua provinsi di Afghanistan, Selasa (24/8/2021), melaporkan terjadinya pelecehan yang dilakukan militan Taliban.

Hal tersebut terjadi meskipun juru bicara Taliban berjanji kelompok itu akan menetapkan kebijakan yang melindungi keamanan perempuan.

Perempuan di Provinsi Takhar, di timur laut negara itu, dan di Provinsi Kabul, mengatakan kepada VOA bahwa ada pembatasan baru mengenai cara mereka berpakaian dan bekerja.

“Taliban sangat agresif dengan perempuan di sini. Mereka ingin perempuan memakai chadari,” ujar seorang guru perempuan pada VOA.

“Chadari” adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh perempuan, dan hanya memiliki lubang sangat kecil di bagian wajah agar pemakai dapat melihat.

Selain itu Taliban mengharuskan perempuan hanya keluar rumah dengan “mahram,” atau laki-laki yang tidak perlu disembunyikan wajahnya oleh perempuan.

Dalam pemikiran Islam konservatif, mahram dapat mencakup semua kerabat dekat laki-laki – seperti ayah, suami atau saudara laki-laki.

“Perempuan memiliki banyak masalah di sini. Setiap orang tentunya perlu pergi ke luar rumah untuk melakukan sesuatu, dan kita tidak memiliki mahram yang bersama dengan kita setiap saat,” ujarnya.

Guru itu menjelaskan bahwa Taliban di provinsi di mana ia berada sangat ketat sehingga mereka bahkan tidak mengizinkan perempuan mengenakan burqa atau gaun hitam panjang dengan syal yang menutupi seluruh tubuh dan wajah.

Ubah Kurikulum Pendidikan, Pisahkan Siswa Sesuai Jenis Kelamin

BACA JUGA :   Prediksi Istanbul BB vs Rizespor - Liga Turki 26 September 2021

Ditambahkannya, Taliban juga melarang guru mengajar siswa dari lawan jenis. “Taliban memerintahkan agar siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan. Dan mereka mengubah kurikulum pendidikan.”

Perubahan kurikulum itu mencakup penghapusan subyek kebudayaan dan hal-hal terkait olahraga, dan menambahkan lebih banyak pengajaran Islam, seperti kajian Al Quran dan kehidupan Nabi Muhammad SAW, meskipun subyek itu sudah menjadi bagian dari kurikulum sebelum pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban.

Di Kabul, Taliban mengatakan kepada staf perempuan di sedikitnya satu rumah sakit untuk memisahkan tempat kerja mereka dari laki-laki, atau tinggal di rumah. Seorang wartawan perempuan VOA yang keluar rumah dengan mengenakan burqa, diminta Taliban untuk juga menutup wajahnya.

Perempuan Tinggal di Rumah Dulu

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, Selasa (24/8), mengatakan militan kelompok itu “belum dilatih untuk berbicara dengan perempuan.”

“Itulah sebabnya mereka meminta perempuan untuk sementara waktu tinggal di rumah, tetapi akan tetap menerima gaji. Segera setelah seluruh sistem berfungsi, perempuan dapat kembali ke tempat kerja,” ujarnya.

Ia berbicara terutama tentang perempuan yang bekerja di kantor-kantor dan kementerian pemerintah.

Ketika ditekan oleh seorang wartawan perempuan yang khawatir dengan keselamatannya, Mujahid mengatakan ia tidak perlu khawatir.

“Anda warga sipil. Tidak ada salahnya menjadi wartawan. Anda tidak perlu khawatir. Anda dapat kembali ke provinsi Anda dan bekerja,” ujarnya.

Mujahid mengakui ada sejumlah insiden aksi kekerasan atau pelecehan sporadis, dan berjanji akan menyelidikinya.

Taliban telah berupaya menyajikan wajah yang relatif moderat pada dunia untuk meraih legitimasi internasional.

Perempuan – khususnya perempuan muda – mengatakan telah mendengar dari anggota-anggota keluarga mereka tentang kisah-kisah pemerintahan Taliban sebelumnya pada 1990an.

Saat itu perempuan dipukuli karena tidak menutup tubuh mereka secara benar, dan anak-anak perempuan tidak diizinkan bersekolah.

Hal ini menyulitkan mereka untuk mempercayai janji Taliban. (*)

Source:Trb