IKLAN YARA

Polda Metro Jaya Periksa Satpol PP Gadungan Terkait Penipuan PJLP, Korbannya 9 Orang

oleh -101.489 views
Polda Metro Jaya
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Polda Metro Jaya masih melakukan pemeriksaan terhadap aparat Satpol PP DKI gadungan yang melakukan penipuan dan pemalsuan dokumen perekrutan tenaga kontrak atau penyedia jasa layanan perorangan (PJLP) Satpol PP DKI Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menerangkan terdapat dua tersangka yang diamankan terkait dengan kasus tersebut.

“Kemarin memang ada penyerahan dari Satpol PP DKI melalui Pak Arifin ada dua orang pelaku, laporannya baru jadi tadi. Tapi memang yang bersangkutan ada unsur penipuan yang dia lakukan menurut keterangan pelapornya, yang melapor Satpol PP karena ini menyangkut institusinya,” ujar KombesPol Yusri kepada wartawan, Selasa (27/7/2021).

BACA JUGA :   Akabri 1996 di Banten, Salurkan Bansos Langsung Kerumah Warga

KombesPol Yusri menjelaskan, sampai dengan saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku guna mengetahui modus operandinya.

“Kita tunggu karena saat ini masih diperiksa, modusnya apa dan berapa korbannya yang dia tipu nanti kita tunggu dari pemeriksaan.

BACA JUGA :   Peringati Hari Lalulintas Ke 66, Kapolda Riau Beri Penghargaan Personel Berprestasi

Besok akan saya rilis, kalau sudah lengkap. Karena ini masih dilakukan pemeriksaan, kalau sudah lengkap baru saya ngomong,” imbuh Kabidhumas.

Diketahui, Kasatpol PP, Arifin dan jajarannya berhasil membongkar dan menangkap pelaku penipuan perekrutan anggota Satpol PP. Pelaku bernama Yosi Firdaus yang merupakan mantan satpam di perusahaan swasta melakukan aksinya bersama sang bibi (BA).

Terdapat 9 orang yang telah menjadi korban perekrutan palsu anggota Satpol PP tersebut. Dalam melancarkan aksinya, pelaku mengaku sebagai pejabat dan mencatut nama Kepala Satpol PP DKI Jakarta.

BACA JUGA :   Mantan Teller Bank BRI Bobol Rekening Nasabah Hingga Miliyaran Rupiah

Kemudian, para korban juga dimintai sejumlah uang dengan nominal yang berbeda untuk meloloskan proses perekrutan.

“Berdasarkan bukti kejahatannya, pelaku membuat dokumen kontrak kerja dengan ikut mencantumkan nama serta paraf saya yang mana semuanya itu palsu,” kata Arifin. (H.A.Muthallib)