Banda Aceh I Realitas – Sebuah pemandangan miris, penuh keprihatinan dan ketidak layakan terjadi di Puskesmas Banda Raya, Banda Aceh Selasa (29/6/2021) pagi dalam memberikan pelayanan medis dalam melakukan rapid antigen terhadap para pasiennya, tempat sangat tidak layak.
Beberapa kalangan masyarakat setempat timbul pertanyaan, apakah perlakuan kurang etis, kurang layak, kurang manusiawi, kurang simpati dan muris ini diperkakukan terhadap pasien dalam test swab antigen ini karena ketidak adanya ketersediaan sarana dan fasilitas pada pusat pelayanan publik ini, tanya seorang warga didaerah itu.
Apa ataukah menganggap setiap orang yang diduga patut diduga terkena covid 19 harus diperlakukan seperti orang lepra (penyaket budok) harus diperiksa/diswap antigen itu di pinggir parit, atau di bawah pohon yang lembab tanpa dan dibiarkan disantap nyamuk dengan harus menunggu giliran rapid test melebihi satu jam yaitu sejak pukul 10.14 Wib.

Pantuan media ini Selasa (29/6/2021), Pasien itu sudah menunggu sejak pukul 09.04 Wib.Pukul 09.55 saya protes perlakuan kurang bersahabat, saya rencana membatalkan swap, ujar salah seorang warga yang enggan disebutka namanya kepada Media ini.

Tim dokter swab baru turun pukul 10.08 dan melakukan proses rapit pukul 10.14 Wib.
Katakanlah keadaan darurat, atau karena ketakutan bertatapan n atau berdekatan dengan pasien yang diduga terserang Covid 19, kan bisa saja disediakan tenda, teratak atau alas kaki atau perlak atau plastik, janganlah beralas tanah beratapkan langit, seperti memeriksa kerbau di padang gembalaan, ujar salah seorang pasein lainnya.
Begitu komentar beberapa pasien yang baru ke luar dari Pusat Kesehatan Masyarakat itu, Selasa (29/6/2021).

Di antara perlakuan dan tontonan tidak menarik dan tidak simpati dialami salah seorang tokoh Aceh Adnan NS Mantan Ketua PWI ACEH, juga Mantan Anggota DPD RI.
Bagi dunia kesehatan di Aceh namanya tidak asing sejak 1980 hingga 2005.Tugas kewartawannya 25 tahun di lingkup keshatan.
Dia pun dulu akrap dgn sejumlah dirjen di kementrian dan menkes di Jakarta.
Senator Aceh 2004-2009 yang juga tokoh Pers nasional, mantan ketua PWI Aceh dan mantan penasehat Pwi pusat ini tak berkutik ketika diperlakukan oleh tenaga profesional yang tidak proporsional ini demi untuk mengetahui dan memasikan kondisi kesehatannya apakah terkena covid, ketika ditawarkan oleh petugas setempat.
Padahal mantan Dewan Kesehatan Aceh(DKA) 2000-2005 ini Maret dan April sudah melakukan vaksin di RSIA dengan pelayanan terkesan paling baik.
Dia merasa diperlakukan rada aneh di awal berobat di Puskes ini.Saat mau ambil kartu sntrian langsung ditanyakan bapak sakit apa, tanya petugas kartu bagian depan, ujar Adnan.
Setelah diketahui menderita randang tengorokan, langsung dihadang, bapak duduknya di kursi ini(di tanah) bkn diteras. Beberapa saat kemudian diminta untuk pindah ke teras samping.
Tidak lama di situ dipanggil ke tetas depan dan diwawancara lagi: umur berapa, sakit apa, ada demam, ada sesak nafas, ada tersumbat hidup, ada mendatangi orang pesta? Jawabannya pukul 24 malam mengalami tersumbat hidung sebelah kanan, tapi paginya hilang.
Yang belum hilang sakit tenggerokan. Oke, mau diswap.Oh sangat mau, ucap saya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, tutur Adnan lagi.
Tapi alangkah terkejut, ketika saya tunjukan duduk dikursi di bawah pohon, ada tumoukan bunga di dekat pagar.
Tidak ada satu pun petugas yang memberikan edukasi, bahkan Zul bekas pejabat Disdik Aceh mentertawakan saya seperti orang buangan di situ.
Bebera orang yang melintas memperhatikan duduk sendirian sambil memukul beberapa nyamuk yang menyantapnya di bawah yang pepohonan yang lemban itu.
Usai pemeriksaan dan penyerahan bukti hasil rapid test negatif saya pun berlalu.
Yang mewancara kedua di teras depan berjarak tiga meter memegang buku berobat saya, tapi anehnya dia masih riwayat sakit dan kapan terakhir berobat, seolah petugas bermasker dan menggunakan face shild seperti saya, tak paham akan medis recordnya.
Saya memang sering tidak absen bermasker n face shild jika berpergian dengan bus umum, ujar nya lagi.
Justeru terkesan petugas ini ketakutan melihat kebiasaan ini setiap ke Rumah Sakit atau Puskesmas, tutup nya.
Media ini belum mendapatkan meterangan resmi dari Kepala Puskesmas setempat, menyangkut tempat pelayanan kesehatan yang begitu Bobrok di Puskesamas itu. (*)

