Satgas COVID-19 Terapkan Strategi Kolaborasi Pentahelix

oleh -91.489 views
Satgas COVID-19 Terapkan Strategi Kolaborasi Pentahelix

IDUL FITRI

Jakarta I Realitas – Strategi kolaborasi “pentahelix” dipilih Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 dalam upaya mengantisipasi lonjakan kasus penularan COVID-19 pasca Lebaran.

Dengan strategi itu tanggung jawab penanggulangan COVID-19 tidak hanya Satgas COVID-19, Kemenkes dan Kemendagri tetapi semua sektor publik, lembaga swadaya masyarakat dan swasta.

REALITAS TV

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19, Alexander Ginting mengungkapkan tiga hal yang dikerjakan pemerintah yaitu melaksanakan tracing, tracking dan treatment (3T) di tingkat posko desa dan kelurahan. Peran masyarakat adalah mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak (3M).

BACA JUGA :   EKM Penyebar Hoaks di Papua Kerap Berkomunikasi Dengan Veronica Koman, DPO Kasus di Surabaya

“Masyarakat dan pemerintah juga perlu mensukseskan agenda vaksinasi sebagai perlindungan.

Ada yang didukung biaya pemerintah dan pembiayaan dari perusahaan,” ujarnya dalam webinar “Antisipasi Lonjakan Kasus COVID-19 Pasca-Arus Balik”, Senin (24/5/2021).

Jika strategi pentahelix berhasil, kata dia, Indonesia bisa terhindar dari potensi ledakan jumlah kasus seperti yang sedang terjadi di India dan negara lain.

BACA JUGA :   Innalilahi Ayah Hilda Vitria Meninggal Dunia

Dalam tiga bulan terakhir, angka kasus COVID-19 di Indonesia telah terkendali. Namun permasalahan di Indonesia saat ini adalah aktivitas mudik Lebaran hingga kegiatan silaturahmi Idul Fitri yang berpotensi memicu penularan SARS-CoV-2.

“Kita harus pertahankan kasus aktif dan kesembuhan yang selama ini sudah kita capai.

Dua bulan terakhir ini sudah ada perbaikan. Kasus aktif yang semula 176.672 kasus, kini menjadi 88.439 kasus. Angka kesembuhan yang semula 926.980 pasien, kini mencapai 1.616.603 pasien,” katanya.

BACA JUGA :   Biddokes Polda Banten Distribusikan 1.000 Vaksin Jenis Sinovac

Dia menambahkan angka kematian kasus COVID-19 di Indonesia relatif tinggi mencapai 2,78 persen di atas rata-rata dunia 2,07 persen.

Salah satu penyebabnya adalah faktor penyakit bawaan atau komorbid.

“Yang paling banyak penyakit ginjal, jantung, diabetes melitus, hipertensi, penyakit imun dan obseitas,” pungkasnya. (Deddy Karim)

UPDATE CORONA