Tradisi Balas Pantun Sebagai Adat Perkawinan di Aceh Timur

oleh -163.489 views
Tradisi Balas
Foto : Mahasiswi KPM IAIN Langsa, Riska Aulia

IDUL FITRI

Oleh : Riska Aulia Mahasiswi KPM IAIN Langsa Tahun 2021 Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Riska Aulia, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (FTIK). IAIN Langsa. Kabupaten Aceh Timur adalah sebuah Kabupaten yang berada di sisi Timur Aceh, Indonesia.

REALITAS TV

Kabupaten ini juga termasuk Kabupaten kaya minyak selain Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Kawasan ini juga termasuk markas gerakan Aceh merdeka sebelum diberlakukanya darurat militer sejak Mei 2003

. Sebelum penerapan darurat militer ini, kawasan Aceh Timur termasuk kawasan hitam, terutama di kawasan Peureulak. Secara mayoritas, pendudukIbukota Kabupaten Aceh Timur di Sungai Raya  ini bersuku Aceh.

Namun, di beberapa Desa dihuni kebanyakan oleh orang Jawa. Makanan khas suku Aceh yaitu Kuah Plik, Kue Wajib Aceh,Kue Haluwa Minyak,Timpan, Rujak Aceh dan makanan lainnya.

Suku Aceh  merupakan suku yang sangat menjunjung nilai persaudaraan dan permusyawaratan. Budaya Aceh merupakan salah satu wilayah indonesia yang letaknya berada di bagian paling ujung sendiri dari rangkaian kepulauan Nusantara.

Aceh atau juga yang dikenal dengan Nangroe Aceh Darussalam merupakan suku pribumi yang memiliki akar sejarah istimewa bagi indonesia.

Aceh juga mendapat julukan serambi Mekkah, hal ini dikarenakan Aceh memiliki nilai ideologis Islam yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Tradisi yang terdapat di Aceh Timur yaitu berbalas pantun dalam Adat Pernikahan/ Perkawinan dengan seni bertutur yang indah namun tak mudah.

Bagi masayarakat Aceh Timur, tradisi berbalas pantun sudah ada sejak dahulu dan sudah menjadi tradisi yang turun-temurun.

Hal ini ada karna kebiasaan masyarakat Aceh Timur yang gemar bertutur. Adapun tradisi berbalas pantun ini sebagai cara lain dalam berkomunikasi untuk menyampaikan maksud, pesan atau nasihat kepada orang lain dengan cara yang penuh seni.

Dengan adanya tradisi berbalas pantun ini membuktikan bahwa masyarakat Aceh Timur memiliki seni bertutur yang tinggi.

Tradisi berbalas pantun di Aceh Timur juga sudah menjadi tontonan yang menarik. Karna hanya dalam waktu beberapa detik seseorang harus mampu merangkai kata, beserta rimanya, untuk menjadikan sebuah pantun balasan yang menarik.

Biasanya, tradisi berbalas pantun Aceh Timur ini, selalu ditampilkan pada acara-acara adat seperti menyambut tamu, melamar dan pernikahan.

Berbalas pantun ini adalah cara berkomunikasi dengan menanyakan maksud dari kedatangan tamu yang disampaikan dengan cara yang menarik. Dan sebagai pendatang juga harus siap untuk membalas segala pantun yang disampaikan oleh tuan rumah tersebut.

Biasanya juga dalam berbalas pantun ini minimal ada dua orang untuk saling berbalas pantun. Sedangkan untuk waktu durasinya itu bisa sampai satu jam atau lebih, tergantung pada kelancaran si pemberi pantun dan si penjawab pantun.

Dalam berbalas pantun ini bukanlah hal yang mudah. Butuh kecerdasan tersendiri untuk merangkai kata menjadi sebait pantun. Apalagi harus membalas pantun dalam durasi waktu yang panjang.

Apabila si penjawab pantun tidak bisa membalas pantun yang diberikan oleh pemberi pantun maka dianggap kalah. Hal ini juga yang menarik bagi penonton untuk melihat pemenang dan yang kalah dari berbalas pantun ini.

Adapun isi pantun yang terkandung dalam tradisi berbalas pantun di Aceh Timur cukup beragam. Diantaranya pantun pemuda, pantun pergaulan, pantun teka-teki dan pantun jenaka. Hingga sekarang, masyarakat tidak ingin menghilangkan kebudayaan ini.

Berbalas Pantun disetiap pernikahan yang dilakukan dirumah maupun di aula, akan memanggil ketua adat dan mengurusi hal tersebut.

Untuk hal ini sebaiknya anak muda juga ikut berperan dalam terus melestarikan kebudayaan berbalas pantun ini.

Agar kebudayaan Aceh Timur tidak hilang dan terus dikembangkan, karena tradisi ini juga sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Aceh Timur.

Sedikit contoh pantun orang Acehtimur , misalnya pantun dari wak amad dan wak saleh ini:

Assalamualaikum kamoe brie saleum             

Keu rakan mandum tuha ngen muda

Kamoe yang teuka katroeh nibak leun

Geuchiek ngen imuem na chit ketua pemuda              

Ureung tuha gampoeng katroeh geuh mandum

Geutinggai mideun keuno geuteka

Inong ngen agam adoe ngen aduen

Rakan ngon kumun

Troeh bak wareh syedara

Meuheut kamoe jak intat linto keujudoe buleun

Beuk le melanteun janji meutuka

Memada ohno sapa lon diyeung

Loen pulang saleum bak poe rumoh tangga

 

Lalu dijawab

Waalaikumsalam warahmatullah

Jaroe dua blah ateuh jeumala

Syukur ngen pujoe keupoe teuh Allah

Yang peutren rahmah keunoe lam donya

Seulaweut saleum keu rasulullah sabe di babah geutanyoe baca

Hormat kamoe keudroneuh yang langkah

Saleum ukhuwah bak kamoe dumna

Rombongan yang troeh ka reoh reuah

Linto yang ceudah uroe kaneuba

Kamoe disinoe rame seulempah

Hana siet kalah wahe syedara

Na bit ibu – ibu yang pakek baje mirah

Na ciet kak syarifah yang pakek kacamata

 

 Begitulah tradisi berbalas pantun Aceh Timur, bermakna dan menghibur. Sebagai orang asli Aceh Timur tentu saja harus berbangga dengan budaya yang dimiliki, karena budaya yang dimiliki mempunyai Nilai Seni yang tinggi. Tradisi ini harus terjaga, karena merupakan budaya yang sangat bernilai.

Agar tidak hilang ditelan zaman, sebaiknya para pemuda Aceh Timur harus mempelajari Seni Budaya berbalas Pantun ini. Untuk menjaga Kelestarian dan Keberadaannya. Karena Budaya ini harus terus berlanjut sebagai warisan untuk generasi Aceh Timur selanjutnya.

Seperti halnya salah satu sanggar yang ada di Aceh Timur  dengan Nama ‘’Sanggar Seni Seumapa Syair Aceh’’ Merupakan Sanggar Seni yang mengajarkan tentang Budaya Aceh itu sendiri. Sanggar Seni Seumapa Syair Aceh terus bergerak keseluruh pelosok Kampung di Aceh Timur untuk melestarikan Adat Budaya leluhur sebagai identitas kedaerahan.

UPDATE CORONA