Obrak Abrik Warung di Ramadhan Dinilai Kekeliruan, SEMMI Banten: Walikota Serang Perlu Ngaji Bukan Arogansi

oleh -152.489 views
SEMMI

IDUL FITRI

Banten | Realitas – Mengobrak Abrik Rumah Makan Saat Ramadhan dinilai Sebuah Kekeliruan, SEMMI Banten, Walikota Serang Perlu Ngaji Bukan Arogansi

Akhir-akhr ini, masyarakat Kota Serang sedang digaduhkan dengan adanya tindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang merazia rumah makan yang tetap buka pada siang hari selama bulan suci ramadhan.

REALITAS TV

Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai pihak dibuat tercengang, pasalnya sebelum dibubarkan, biasanya Front Pembela Islamlah lah yang sering melakukan tindakan penertiban meski terus banyak cibiran dari banyak pihak, termasuk pemerintah.

Menanggapi hal tersebut, ketua bidang pemuda dan mahasiswa, Sarekat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI) Banten, Oki Fathurrohman kepada Wartawan (25/4/2021) mengatakan, bahwa sikap tersebut merupakan sebuah tindakan arogansi dan pola pikir dangkal, baik secara intelektual ataupun berdasarkan tinjauan agama.

Menurutnya, sejatinya manusia diciptakan hanya untuk beribadah bukan menjustifikasi ritual ibadah, karena soal baik dan burunya amal ibadah hanya Allah yang memiliki otoritas menilai, bukan manusia.

”Sejatinya, dalam surah Al-Baqarah:83, manusia diperintahkan untuk berpuasa, bukan mengobrak-abrik yang tidak berpuasa, yang punya otoritas menilai ibadahkan Allah, bukan manusia apalagi hanya walikota” ketusnya.

Selanjutnya, ia menilai jika berkaitan dengan keinginan mencptakan Kota yang kental akan nilai religi, aqidah ummat yang mesti diperbaiki via edukasi, bukan malah merazia mata pencaharian orang, karena menurutnya, ada efek sosial dan ekonomi yang mesti dikaji dan dicarikan solusi.

Jika alasannya adalah menjadikan kota supaya terlihat islami atau, maka penguatan akidah melalui pengajian dan penyuluhan yang mesti dilakukan, karena kalo merazia rumah makan, ada efek sosial dan ekonomi yang mesti dicarikan solusi, lanjutnya”.

Sementara itu, ia menambahkan bahwa Pemkot Serang mesti mengkaji dan megaji, supaya tidak keliru dan menggunakan logika terbalik, apalagi hanya ikut-ikutan trend ramadhan, kalo mau menjadikan Kota bersuasana Islami, mestinya setiap hari tempat hiburan dan sejenisnya ditutup.

“Saya rasa mesti dikaji dan mengaji lagideh, supaya logika berfikirnya ga tebalik, kalo mau terlhat islamikan mestinya di Kota Serang jangan ada hiburan malam dan sejenisnya yakan? Jangan hanya ikut-ikutan trend ramadhanlah ya”.

“Di sinilah shiyâm dalam arti menahan diri, diwujudkan dalam tindakan-tindakan lahiriah yang menjadi bidang kajian fiqih ibadah, bukan hanya meliputi persoalan batal atau tidak batalnya puasa, melainkan meahan nafsu amarah.

Kebersihan berprasangka, toleransi kepada yang tidak beriadah puasa, dan sebaganya, bukan hanya menahan lapar dan haus, bahkan ada lagi yang menganalogikan dengan hari nyepi di Bali, padahal dalam konteks dan dimensi yang berbeda” tutupnya. (rd/red)

UPDATE CORONA