Ijuk Aren Sebagai Pejuang Ekonomi Warga di Desa Rantau Pauh Dusun Kebun Ubi

oleh -130.489 views
Ijuk Aren

IDUL FITRI

Oleh: Srie Shailly Meilindha, Mahasiswi IAIN Langsa, FTIK, Prodi Pendidikan Agama Islam.

Pohon aren atau pohon enau (Arenga Pinnata) adalah pohon yang termasuk Aracaceae (pinang-pinangan), pohon ini memiliki ciri-ciri yaitu, batangnya tidak memiliki duri, tidak bercabang, tumbuh tinggi, memiliki buah berukuran sedang yang tumbuh berjuntai, serta adanya serabut hitam pada pelepah pohon tersebut.

Pohon aren ini hampir mirip dengan pohon kelapa, perbedaannya kalau pohon kelapa batangnya bersih dan buahnya besar sedangkan pohon aren pada batang pohon aren ini sangat kotor karena terbalut oleh ijuk serta buahnya yang berukuran sedang yang berjuntai kebawah.

Pohon aren ini merupakan pohon serba guna. Dikatakan serba guna sebab hampir semua bagian dari pohon tersebut dapat dimanfaatkan, mulai dari daun, buah, hingga batang pohonnya juga dapat dimanfaatkan. Seperti nira, gula aren, kolang kaling, atap rumah, papan, dan masih banyak lagi.

Pohon aren dapat mudah tumbuh, terlebih di Indonesia yang memiliki iklim tropis. Pohon aren biasanya tumbuh liar atau ditanam untuk di kembangbiakkan.

Pohon aren tidak perlu membutuhkan perawatan khusus seperti tumbuhan lain pada umumya. Bahkan  jenis pohon ini tidak memiliki ketergantungan dengan curah hujan, sebab pohon aren tetap akan hidup walau pada saat musim kemarau atau musim panas.

Walaupun pohon aren ini hanya terlihat biasa saja, ternyata pohon serbaguna ini memiliki masa produksi puluhan tahun. Tentu saja hal ini dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah apabila benar-benar dimanfaatkan dan dapat menguntungkan bagi para petani aren.

Bukan hanya air nira yang dapat dijadikan gula aren atau gula merah, daun yang dijadikan sebagai atap rumah, batang kayu yang dapat dijadikan papan, dan buahnya dapat dijadikan sebagai kolang-kaling, bahkan serabut hitam yang terdapat di pelepah daun pohon aren atau pohon enau ini yang terlihat tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai macam alat kerajinan dan menjadi nilai ekonomis.

Ijuk adalah serabut atau serat hitam yang terdapat di pelepah  pohon aren. Ijuk dihasilkan dari pohon aren yang berumur 5 tahun.

Serat atau serabut ini berwarna hitam dan keras. Walaupun ijuk ini hanya terlihat seperti serabut hitam layaknya rambut, ternyata serabut ini kuat dan tahan lama. Bahkan serat atau serabut ini sulit untuk membusuk.

Masyarakat pada umumnya sudah banyak mengenal bahwa pohon aren ini sebagai penghasil bahan-bahan untuk industri kerajinan, salah satunya warga Desa Rantau Pauh Dusun Kebun Ubi Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang yang memanfaatkan ijuk untuk diolah menjadi sapu.

Bukan hanya dijadikan sapu, Ijuk biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pembuatan tali, sapu, sikat dan lain-lain.

Salah satu warga Desa Rantau Pauh Dusun Kebun Ubi Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang mendirikan usaha pembuatan kerajinan ijuk.

Ijuk aren di  manfaatkan dan di olah menjadi sapu. Kemudian usaha ini di jadikan warga sebagai mata pencaharian. Usaha ini sudah berjalan selama kurang lebih 1 tahun dan dapat dijadikan sebagai wadah dalam membangun perekonomian warga. Pekerja yang bekerja di usaha pengrajin ijuk ini berjumlah 5 orang.

Ijuk yang didapatkan berasal dari para petani aren yang memiliki pohon ijuk yang tumbuh di Desa Rantau Pauh. “Ijuk ini biasanya di dapatkan dari kebun pemilik usaha pengrajin ijuk dan dari warga sekitaran sini yang memiliki kebun pohon ijuk yang menjual ijuk ke pemilik usaha pengrajin ijuk dengan harga Rp.6000/kg” ujar ibu menik sintiya salah satu pekerja pengrajin ijuk. Tentu saja hal ini dapat membantu perekonomian warga dengan menjual ijuk ke pemilik usaha pengrajin ijuk.

Ijuk di produksi menjadi sapu dan sikat atau berus. Sebelum di produksi menjadi sapu, ijuk harus dalam keadaan kering dan dihilangkan duri-durinya agar mudah dalam pembuatannya menjadi sapu.

Dalam pembuatan sapu ijuk masih menggunakan cara manual dan membutuhkan tenaga yang kuat, ketelatenan serta kerapian sehingga sapu yang dihasilkan berkualitas baik. Kualitas sapu ijuk tentu saja tidak kalah dengan kualitas dari sapu yang lain.

Para pekerja dapat memproduksi sapu setiap harinya sebanyak 100 hingga 500 sapu. Kemudian sapu yang dihasilkan dikirim ke kota medan dan jambi.

Untuk harga yang sudah menjadi sapu, dijual dengan harga grosir yaitu Rp.10.000/pcs. “Usaha ini dapat meraih omset hingga 20 juta sampai 30 juta perbulannya.” Ujar salah satu pekerja pengrajin ijuk.

Jadi ijuk yang dilihat hanya sekedar serabut hitam yang hampir mirip dengan rambut ternyata memiliki nilai yang cukup bagus dalam penunjang ekonomi.

Bagaimana tidak, apabila benar-benar dimanfaatkan dan dijadikan sebagai alat kerajinan maka dapat menjadikan serabut hitam yang tak bernilai menjadi pundi-pundi rupiah bahkan sampai jutaan rupiah yang diperoleh dari ijuk tersebut.

UPDATE CORONA