15819 KALI DIBACA

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) TBK Terpantau Naik Tipis

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) TBK Terpantau Naik Tipis
example banner

Jakarta, I Realitas – Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terpantau naik tipis 1,54 persen atau 6 poin ke level 396 per saham pada awal perdagangan, Senin, (26/7/2019). Sebelumnya, harga saham emiten berkode GIAA itu ditutup pada posisi Rp390 per saham Jumat, (26/7/2019) lalu.  Saham Garuda Indonesia masih melanjutkan kenaikan. Pada pukul 10:10 JATS sahamnya melaju ke posisi Rp394 naik 4 ppin atau 1,03 persen. Analis Bina Artha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan kenaikan saham Garuda Indonesia disebabkan perseroan masih mencatatkan laba bersih usai menyajikan kembali (restatement) laporan keuangan mereka untuk kuartal I 2019.

Meskipun, pada restatement laporan keuangan tahun buku 2018 perseroan merugi. Pada kuartal I 2019, Garuda Indonesia mengantongi laba sebesar US$19,73 juta, setara Rp276,22 miliar mengacu kurs Rp14 ribu per dolar AS. Raihan ini berbanding terbalik dari kinerja kuartal I 2018 yang mencatatkan rugi sebesar US$64,27 juta. Meski demikian, laba itu turun dari US$20,48 juta sebelum penyajian kembali laporan keuangan. “Pemicunya adalah restatement laporan keuangan kuartal I 2019 yang berhasil memperoleh laba bersih sebesar US$19,73 juta,”katanya kepada wartawan Secara teknikal, lanjutnya, terdapat indikasi over sold (jenuh jual) untuk saham Garuda Indonesia.

Karenanya, Nafan merekomendasikan beli kepada pelaku pasar. Ia memprediksi kenaikan ini akan berlanjut hingga jangka menengah. “Hari ini Garuda Indonesia diprediksi bergerak di rentang Rp388-Rp414 per saham,” ujarnya. Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menyampaikan analisa berbeda. Menurut dia, kenaikan saham maskapai plat merah itu hanya disebabkan faktor teknikal lantaran sahamnya sudah jenuh jual. “Faktor teknikal saja, bukan karena fundamental,” ungkapnya. Ia menilai kinerja keuangan perseroan kurang bagus lantaran masih merugi pada 2018.Garuda Indonesia yang tadinya mencetak laba bersih US$5 juta ternyata mencatat rugi bersih sebesar US$175 juta.

Setelah penyajian kembali laporan keuangan. Meski Garuda Indonesia mampu mengantongi kenaikan pendapatan rata-rata 10 persen-12 persen, namun biaya operasional (operating expenses) juga ikut naik dua digit rata 10 persen-12 persen. “Jadi tidak ada untung. Garuda Indonesia harus melakukan efisiensi operating expenses khususnya direct operational expense (biaya penerbangan langsung) seperti biaya pegawai dan avtur, atau maintenance cost (biaya perawatan) dikecilkan,” ungkapnya. Ia meramalkan saham Garuda Indonesia akan bergerak di rentang Rp370-Rp390 pada perdagangan hari ini. Jason sendiri merekomendasikan netral untuk saham Garuda Indonesia.

“Faktor teknikal rebound (balik arah), jadi penguatannya hanya sesaat,” ungkapnya. Selain penyesuaian laba, perseroan juga merevisi beberapa indikator lainnya. Untuk laporan keuangan tahun 2018, perseroan melakukan penyesuaian ekuitas dari US$910,2 juta menjadi US$730,1 juta. Lalu, total aset dari sebelumnya US$4,37 miliar menjadi US$4,16 miliar dan liabilitas dari sebelumnya US$3,46 miliar menjadi US$3,43 miliar. Tak hanya itu, perusahaan juga melakukan restatement atas beberapa indikator pada laporan keuangan kuartal I 2019. Rinciannya, posisi ekuitas kuartal I dari US$971,1 juta menjadi US$791,1 juta.

Kemudian, penyesuaian dilakukan pada pencatatan total aset dari US$4,53 miliar menjadi US$4,32 miliar dan liabilitas dari US$3,56 miliar menjadi US$3,53 miliar. Sekadar informasi, restatement ini merupakan kewajiban dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kewajiban diberikan imbas dari laporan keuangan Garuda Indonesia 2018 yang bermasalah. (Cino/Red/Ema)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS