32219 KALI DIBACA

Festival Rentak Melayu Raya Kota Langsa 2019

Festival Rentak Melayu Raya Kota Langsa 2019
example banner

Langsa I Realitas  – Festival Rentak Melayu Raya diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun luar negeri ke Kota Langsa. Karena, kita mempunyai beberapa objek wisata andalan yaitu eko wisata Taman Hutan Kota Langsa dan Langsa Mangrove Forest Park yang saat ini masuk nominasi penerima Anugerah Pariwisata Indonesia (API).

“Kami mohon doa restu dan dukungannya agar Langsa Mangrove Forest Park dapat keluar sebagai pemenang dalam ajang API tahun 2019 ini. Dukungan dapat dilakukan dengan cara ketik sms API (spasi) 9E kirim ke 99386,” sebut Walikota Langsa, Usman Abdullah, SE, saat membuka Festival Melayu Raya, Sabtu (13/7) malam, di Lapangan Merdeka setempat.

Dikatakannya, pemilihan Kota Langsa sebagai pusat kegiatan Festival Rentak Melayu Raya ini tidak salah. Sebab, Kota Langsa dahulunya ibu kota Kabupaten Aceh Timur yang terbentuk dari 3 perkauman yang dominan yaitu Aceh, Gayo, dan Melayu. Jejak perkauman melayu tersebut hingga kini masih ada, misalnya ada gampong yang namanya Gampong Melayu di Kecamatan Langsa Kota.

Bahkan ada satu versi sejarah terbentuknya Langsa atas perintah Raja Aceh kepada salah satu putra Melayu Minang yang bernama Datok Malelo untuk membuka wilayah baru di pantai Timur Aceh yang kemudian kita kenal saat ini dengan sebutan Langsa .

Lanjutnya, jika merujuk pada teori ras, yang dinamakan orang melayu itu adalah bangsa Austronesia yang terdapat disemenanjung tanah Melayu, termasuk orang Malaysia, Thailand, Philipina, dan Madagskar yang lazimnya berbahasa melayu, mayoritas beragama Islam, dan berkebudayaan melayu. Kalau di Malaysia yang disebut orang melayu itu semua orang yang bukan bule, bukan keling dan bukan Cina.

Sehingga orang Jawa, Madura, Makasar, dan Aceh yang di Malaysia disebut juga sebagai orang Melayu. Oleh karena itu, sekali lagi, tidak ada salahnya kalau kemudian Kota Langsa ditetapkan sebagai tempat untuk menggelar Festival Rentak Melayu Raya ini.

“Festival Rentak Melayu Raya ini akan meningkatkan saling kesepahaman dan kepercayaan sebagai landasan memperkuat persaudaraan antar sesama bangsa melayu di Nusantara ini, kebudayaan itu menyatukan dan mendamaikan, bukan memecah belah,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, SE, M.Si, Ak, menyampaikan, bahwa pelaksanaan Festival Rentak Melayu Raya adalah sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Aceh dalam mengangkat khasanah melayu raya sebagai bagian yang mengakar kuat dalam kebudayaan Aceh dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberagaman etnis di Aceh.

Festival Rentak Melayu Raya tahun 2019 diikuti oleh beberapa utusan seni bernuansa melayuu diantaranya, sanggar proodi tari Universitas Negeri Medan, sanggar Dinas Pariwisata Kota Medan, Lembaga Seni Qasidah Indonesia Aceh (LASQI) dari Banda Aceh, sanggar Cut Meutia Meuligoe dari Aceh Utara, sanggar Meuligee Taming dari Aceh Tamiang, sanggar Banda Beutari Kota Langsa, sanggar Putroe Nurul A’la Cot Kala IAIN Kota Langsa, sanggar Putroe Phang Dikjar Langsa, Komunitas Seni Kota Langsa dan SLB Kota Langsa.

“Terselenggaranya even ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kota Langsa melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Langsa,” tutupnya.

Pembukaan Festival Rentak Melayu Raya itu dihadiri oleh Forkopimda Kota Langsa serta tamu undangan lainnya. (PNG/Nrl)

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS