Direktur Center Of Reform On Economics Menyatakan Adanya Pergeseran Pola Belanja Di Masyarkat

oleh -160.759 views

Jakarta, I Realitas – Direktur Center Of Reform On Economics (CORE) menyebut ada pergeseran pola belanja di masyarakat, yakni dari ritel jumbo ke ritel mini. Kondisi ini diyakini terjadi karena ritel kecil berhasil menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari ragam produk, lokasi yang mudah dicapai, hingga pengalaman belanja. “Preferensi masyarakat yang dulunya suka berbelanja bulanan di ritel besar, kini mungkin tidak terlalu banyak. Jadi, belanjanya lebih cepat mingguan, bahkan harian,” ujarnya, Selasa, (30/7/2019).

Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan ritel kecil yang melampaui ritel besar. Pada kuartal I 2019, ritel besar, seperti Hero Supermarket hanya mampu mengantongi pertumbuhan pendapatan 0,5 persen, Matahari Department Store 1,7 persen, dan Ramayana minus 0,4 persen. Sebaliknya, pertumbuhan pendapatan ritel mungil, seperti Indomaret malah meroket 57 persen, Alfamart naik 13,9 persen, dan Alfamidi meningkat 12,7 persen. Menurut Faisal, pasar tradisional sekalipun bernasib serupa ritel besar.

BACA JUGA :  Pengeboran Minyak Ilegal Marak di Aceh Timur LSM KANA: Siapa yang Melegalkan

Mereka tidak mampu melawan inovasi ritel kecil.  Asosiasi Pemasok Pasar Indonesia (AP3MI) melansir penjualan toko tradisional merosot 4 persen pada semester I 2019. “Jadi, sebagian pangsa pasar tradisional dan ritel besar ini masuk ke ritel modern kecil,” imbuh dia. Justru, sambung dia, kini masyarakat mendatangi ritel besar umumnya lebih kepada hal-hal yang bersifat leisure. Misalnya, makan dan hiburan. Sebelumnya, Ekonom Senior Purbaya Yudhi Sadhewa menuturkan sektor ritel lesu akibat kebijakan pemerintah, tak terkecuali Bank Indonesia (BI).

BACA JUGA :  Ketua DPRK Aceh Timur : Desak Regulasi serta Keterlibatan BPMA dan Kementerian ESDM

“Kemungkinan besar memang ada kebijakan yang dijalankan, namun belum optimal, sehingga ekonomi kita tidak bisa lari,” katanya. Menurut dia, daya beli masyarakat merupakan konsekuensi dari ramuan kebijakan fiskal dan moneter. Penyebab ekonomi kurang darah bisa dilihat dari seberapa longgar pengelolaan fiskal dan moneter. “Mungkin, masih bisa ditingkatkan lagi (kebijakannya),” jelasnya. Faisal tak setuju. Ia mengisyaratkan konsumsi masyarakat masih berdenyut. Tengoklah, pertumbuhan konsumsi rumah tangga relatif stabil di kisaran 5 persen. Meski demikian, diakui trennya menunjukkan perlambatan. (Cino/Red/Ema)