Soelaiman Untuk Lanud Soelaiman

oleh -142.579 views
oleh
Soelaiman Untuk Lanud Soelaiman

Oleh Adnan NS

Hari ini Ahad 9 April 2023, merupakan hari bersejarah dalam dunia kedirgantaraan kita. Terutama TNI Angkatan Udara (TNI -AU)itu lahir persis pada 9 April 1946 silam. Sementara Persatuan wartawan Indonesia (PWI) lebih tua bulan daripada usia TNI-AU. PWI sendiri lahir di Surakarta 9 Februari 1946.

Kebetulan kedua lembaga ini sama sama memiliki angka 9 dan angka 1946. Yang membedakannya satu sama lain hanya bulan kelahiran dan pemakaian jam tangannya. Komunitas Wartawan sebagai personal anggota PWI, kebiasaannya jam tangannya itu melekat pada pergelangan tangan kiri kenapa? Bisa jadi karena tangan kanan difungsikan untuk menulis cepat atau menggunakan tulisan steno.

Wartawan senantiasa berpacu dalam menghunter berita. Juga dituntut harus selalu bergegas mengejar waktu yang sangat terikat dengan time schedulenya deadline yang ditetapka. Biasanta sambil mengetik matanya tiap sebentar menoleh angka pada frame arlojinya di tangan kirinya. Pengecualiannya untuk wartawan “bertangan kidal”

Sebaliknya Personil TNI AU diharuskan memakai jam tangan pada pergelangan tangan kanannya. Alasan, supaya personel TNI AU itu lebih mudah dalam pengaturan waktu setiap saat diperlukan. Simbol waktu bagi perajurit di udara maha penting dan segalanya sangat menentukan. Belum jika melintas dari barat ke timur dan sebaliknya sepanjang hari itu tiga kali mengatur perobahan jam(WIB, WITA dan WIT)

Pada sisi lain, PWI lahir pada bulan Februari dan TNI AU lahir pada bulan April.2023 ini, kedua institusi ini memperingati perhelatan atau milad tahun double tujuh puluh tujuh.

TNI AU memiliki korp tempur Penerbangan (PNB) dan Korp. Navigator(NAV) dan Korp Teknik(TEK).Masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pada agresi I dan II, TNI AU masih belum gemilang seperti sekarang.

Masa itu pers di Aceh melalui frekuwensi udaranya dipancarkan luaskan Radio Rimba Raya, dalam lima bahasa sungguh membahana dalam melancarkan propaganda terhadap agresor Belanda. Masa ini Konlonial Belanda tidak berani menduduki wilayah paling Barat Nusantara ini.

Masa itu, untuk menguatkan daya tempur TNI-AU Presiden Soekarno 16 Juni 1948 terpaksa mengunjungi Tanah Rencong meminta bantuan dana untuk pembelian dua pesawat Dacota-3.

Pesawat Jenis Dacota telah mengukir sejarah cikal bakal kekuatan TNI-AU dan Garuda Indonesia Airways (GIA). Pesawat sumbangan Rakyat Aceh ini dipergunakan untuk membus blokade Belanda dan mendatangkan persenjataan dari luar negeri.

Tulisan kami ini merupakan “tayangan tunda”, khusus untuk menyambut milad TNI AU ke 77, Ahad 9 April 2023 ini. Sebagian besar naskah yang tidak dirancang ini muncul tiba-tiba di balik kisah pasangan wartawan perang di negeri Parahyangan Februari lalu.

Ketika masih dalam suasana peringatan Hari Nasional Pers Nasional (HPN) 2023. Sabtu petang, 11 Pebruari 2023, Saya mengajak Saipullah Sajuda Wartawan IndonesiaGlobal bertandang ke Bale Endah Bandung.

Dalam perjalanan menunggangi sepeda motor butut jenis supra 125, saat itu hujan menerpa.Kami hatus berlindung di kolong underpassToll Seuleunyi.

Ruang bawah itu agak gelap akibat mendung pekat.Tiga sosok pria kekar sedang asyik main togel menggunakan kartu chip, sambil meneguk kopi.Asap mengepul ke udara Sepertinya mereka para somoker dan drunker berat. Maklum mereka kondektur dan bantu angkot jurusan Kebon Kalapa-Bale Endah Dari logat bicaranya langsung bisa ditebak, kalau mereka itu berasal dari Tapanuli Utara, Sumut.

Begitu hujan mereda, perjalanan mendada padat kembali.Kami melintas kadang berzig-zag dan melintas bahu jalan untuk sampai ke Balai Endah.Melintas ke jalur Dayah kolot melalui jembatan Cibereuem juga sama saja padatnya.

Saat tiba di rumah Jalan Sipatahunan W-47, beberapa saat kemudian muncul sepasang suami istri tergolong renta. Bersalaman sambil Cipika-cipiki serta berangkulan melepas rindu dengan tamu dari tanah leluhurnya.

Dalam perbincangan wartawan muda yang mendampingi sempat terperangah.Dia tak menyangka kalau di depan hidungnya adalah seorang wartawan kawakan yang sudah melalang buana di bumi Parahyangan sejak 61 tahun silam.

Istri tercintanyapun adalah seorang putri Pasundan, kelahiran 1945.Raut wajah wanita kecil mungil berkulit putih itu, masih tergores sisa kecantikannya.

Sepasang suami istri dan Saya terus berceloteh, berkelakar dan bernostalgia ria tetang masa lalu kami yang sama -sama sudah lansia. Tak ketinggalan membahas pers dulu dan masa kini.Konon masih dalam suasana hari Pers Nasional (HPN). Teteh Endah berkali menambah teh hangat untuk tamunya dan terakhir muncul suguhan wedang jahe hangat ikut menghangatkan pembicaraan hingga larut malam.

“Saya sengaja datang ke sini untuk menjumpai Abang dan kakak, tanpa menghadiri puncak HPN di Medan” ujar Saya menimpali pertanyaan tuan rumah itu.

Wartawan muda tadi terkesima mendengar ocehan kami(Adnan NS, Hamzah Ibrahim dan istrinya Endah).Enda ini juga mantan wartawan perang di bumi Parahyangan ini.

Saipul dan Saya saling memandang dan berbisik, masa sosok wartawan perang sebesar ini jasanya dilupakan?

Kedua wartawan patriot tanpa jasa ini, kini hanya sibuk mengisi hari hari tua mereka. Istri nya membuka UMKM kecil-kecilan, sementara suami sudah tidak mampu keluar rumah lagi, akibat didera penyakit rabun pada kedua bola matanya.

Pria berusia 84 tahun kelahiran Kuta Lintang , Aceh Tengah 12 Juni 1939. ini menceritakan, pengalamannya sejak berprofesi sebagai wartawan, hingga dirinya menjadi penerjun bersama teman seperjyanganya dari Bandung dan Jakarta, untuk menjadi wartawan penerjun membela negara.

Bagi Pasangan ini yang paling terkesan selain milad hari lahirnya, selalu terkenang milad HPN n Milad TNI AU atau Hari ABRI.Namun mereka mengaku setiap milad kedua institusi ini tidak pernah melayangkan undangan lagi.Berbeda ketika masih aktif, kedua kuli tinta tidak pernah absen.

Sekarang kedua pasangan ini kini mengikuti perhelatan HPN dan Hari ABRI hanya melalui layar kaca saja.Kini Hamzah tua, hanya mendengar radio saja, sejak matanya terganggu penglihatannya..

Hamzah mengaku merasakan benar bagaimana gejolak perang zaman pemberontakan DI/TII hingga konfrontasi Indonesia-Malaysia. Kedekatan dirinya dengan jajaran ABRI (kini TNI Red) serta beberapa para pejabat militer lainnya sangat kental. Karena kedekatan itu pula Dia diajak mengikuti latihan bersama mereka. Hamzah muda sempat menjadi salah satu penerjun dari unsur wartawan.

Walau memori mulai lemot, Hamzah tidak bisa melupakan sosok Kolonel Angkatan Udara Soelaiman. Kini diabadikan sebagai salah satu nama pangkalan Lanud di Bandung, Jawa Barat.

Hamzah Ibrahim menceritakan, pada suatu hari bersama istri tercintanya Teteh Endah dan temannya Rohana, bersilaturahmi ke Kantor Kolonel Soelaiman di Kompleks Lanud Margahayu.Mereka semua larut dalam berbagai perbincangan tanpa topik.Pembicaraan melenceng ke sana ke mari.Ya begitulah katanya sambil menghela nafas dalam-dalam.

Ketika itu mata mereka sedang mengarah ke run way, sambil berkelakar. Hamzah bertanya, “kapan Pak diganti nama lanud ini? Sedang kan Lanud lain sudah dirubah nama semua”,tanya Hamzah. Termasuk lanud Hoesen Karta Negara.

Sambil berkelakar dalam suasana santai Kolonel Soelaiman dengan ringan menjawab. “Ah, udahlah, nanti kita beri nama Soelaiman saja”, gumamnya disambut galak tertawa lepas.”Ha, ha, ha”. Mereka pun bubar beberapa saat kemudian.

Selang beberapa hari kemudian, Sulaiman mendapat tugas ke Tasik Malaya. Hamzah dan pasangannya ketika itu menolak untuk ikut terbang bersama. Kala itu sekitar 1966. Istrinya Endah sedang mengandung putra sulungnya full tujuh bulanan.Rencana terbang ke Tasikmalaya berkaitan dengan penumpasan sisa-disa PKI, kisahnya.

Hanya berselang beberapa hari saja, tiba-tiba mereka mendengar kabar pesawat yang ditumpangi Kolonel Soelaiman, terhempas ke bumi di kawasan Kiara Condong saat beberapa menit lepas landas.

Bagaikan petir tanpa guruh di siang bolong, Endah yang sedang hamil tua sempat sok. Berita lirih itu sangat menyayat hatinya itu.Dampak stress mendalam, sang bayi dalam kandungannya “terpental” ke luar. status kelahirannya tergolong prematur.

Ini lah kisah asal usul nama Lanud Soelaiman berasal dari Kolonel Sulaiman itu sendiri yang tidak banyak diketahui publik. Pencetusannya itu sambil bercanda dan tidak sengaja. Hanya gara-gara pertanyaan wartawan senja.

Dahulu kawasan Margahayu ini merupakan hamparan luas ditanami palawija dan persawahan warga.kawasan Lanud Soelaiman yang diresmikan sekitar 1996 ini posisinya sudah berada di tengah- tengah kepadatan penduduk, katanya. (*)