IKLAN YARA

Suami Ditahan, Tiga IRT Asal Kotim Adu Nasib ke GJL Jakarta

oleh -79.579 views
Suami Ditahan, Tiga IRT Asal Kotim Adu Nasib ke GJL Jakarta
Tiga IRT Asal Kotim Adu Nasib ke GJL Jakarta

 GOOGLE NEWS

Jakarta | Realitas – Tiga ibu rumah tangga (IRT) nekat pergi ke Jakarta untuk mengadukan nasib suaminya yang diduga menjadi korban kriminalisasi dan ditahan di Polres Kotawaringin Timur.

Ketiga IRT tersebut yaitu, Mega Muspita (30), Emak Wati (34) dan Emak Jamilah (40) tiba di Jakarta, pada Senin (21/11/2022) sore.

Setiba disana mereka langsung mengadukan nasibnya ke kantor Sekretariat Gerakan Jalan Lurus (GJL) Perwakilan Jabodetabek kawasan Jembatan III, Pluit, Jakarta Utara.

Menurut penuturannya, suami mereka ditahan terkait aksi pemortalan jalan di kawasan perkebunan kelapa sawit pada bulan Juni 2022 yang lalu, saat itu ada 12 petani sawit yang diperiksa polisi.

Dalam kurun waktu beberapa pekan, proses penyidikan dilanjutkan kembali dan mereka dinaikkan statusnya menjadi tersangka dan diwajibkan lapor seminggu dua kali di Polsek setempat.

BACA JUGA :   Ini Sosok Intelijen yang Menjadi Informan Kamaruddin Simanjuntak

Namun tanpa disangka, ketiga suami emak-emak ini dipanggil ke polsek setempat.

Selang beberapa saat datang 4 anggota dari Polres Kotawaringin Timur. Ketiga petani sawit ini diberitahukan bahwa kasusnya dilimpahkan ke polres dan ketiganya digelandang ke Kejaksaan Negeri.

Begitu dari kejaksaan, ketiga tersangka disodorkan surat penahanan. Maka ketiga petani sawit ini, Pada tgl 10 Nopember 2022 langsung digiring ke Mapolres Kotawaringin Timur dan segera dijebloskan ke sel penjara.

Ternyata oh ternyata, singkat cerita, ketiga tersangka sudah dinyatakan P.21 dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur.

Penyerahan tahanan pun dilakukan dan ketiganya menjadi tahanan titipan kejaksaan di Polres Kotawaringin Timur.

Menurut pengakuan Ny. Mega Puspita selama suaminya masuk dalam sel tahanan, mereka tidak diperbolehkan menjenguk suaminya.

BACA JUGA :   Parah! Anggota Dewan Ditangkap Lagi Pesta Sabu

“Ngantar makanan juga cuma dititipkan di Pos Jaga. Saya hanya diperbolehkan komunikasi lewat video call seminggu dua kali,” ujar Ibu Mega.

Nasib serupa dan lebih memprihatinkan juga dialami Ibu Wati dan Ibu Jamilah. Mereka berdua tidak bisa menemui atau membezuk suaminya.

Bahkan, tidak bisa melihat barang hidung suaminya di sel tahanan. Sedangkan untuk video call terkendala sinyal di tempat tinggalnya.

“Di tempat tinggal kami tidak ada signal sehingga kami tidak bisa komunikasi. Ketika mau bezuk pun kami diusir oleh petugas jaga. Kok, suami saya diperlakukan seperti teroris,” keluh kedua emak-emak.

Sementara itu menurut Edy yang mendampingi ketiga emak-emak ini bahwa tuduhan tindak pidana dinillai janggal.

BACA JUGA :   Dua Tersangka Kasus Penipuan Net89 Jadi Buronan Polisi

Penetapan pasal semula pasal 107 yang menyangkut perkebunan, tiba-tiba ada penambahan di pasal 368 dengan tuduhan pengancaman dan perampasan.

Menurut Edy, laporan lokasi aksi pemortalan juga tidak sesuai dengan titik lahan yang bermasalah. Jadi laporannya dialihkan ke lokasi HGU.

“Soal lokasi atau titik pemortalan yang dipindahkan sebenarnya juga masih di lokasi lahan yang masih bersengketa di pengadilan. Jadi ada rekayasa dalam proses hukum ini,” ungkap Edy.

Kedatangan tiga IRT itu ke Jakarta, lanjut Edy, yakni untuk mencari keadilan terhadap suami mereka.

Pihak GJL Jabodetabek akan mendampingi para korban mengadu ke Kemenko Polhukam, Kejagung, Komnas HAM dan Ka-Div. Propam Polri, ujarnya. (*)