Banda Aceh | Realitas – Acara silaturrahmi dan makan siang bersama PJ Gubernur Aceh dengan Pimpinan Redaksi Media Masssa, para wartawan penuh kekecewaan.
Para wartawan hanya kenyang dengan hidangan nasi, namun lapar karena tidak dapat menyantap informasi.
Sejak menerima undangan mendadak pada Rabu (13/7/2022) pagi, sedianya para wartawan penuh harap akan mendapat berita besar (Headline) dari pernyataan orang nomor satu di Aceh.
Tapi begitu kecewa, pada awal acara silaturrahmi ini, PJ Gubernur yang ogah dipulish ini langsung membuat komitmen ketidak sukaan sosoknya diekspose media massa.
Padahal ada Pemred yang sengaja datang dari Takengon dan Meulaboh, mereka pulang hampa, tanpa berita yang disuguhkan kepada publik pembacanya.
Pada pertemuan perdana dengan forum Pemred dan wartawan di Banda Aceh Aceh Rabu, 13 Juli 2022 siang, tanpa basa basi PJ. Gubernur Aceh Ahmad Marzuki langsung menegaskan, pihaknya ogah mempopulerkan diri melalui karya nyatanya.
Programnya di Tanah Rencong ini untuk kerja dan bekerja. Dia tidak butuh ekspose tentang kegiatan atau vioner ke depan. Yang penting bekerja untuk mengembangkan daerah ini.

“Soal nanti pencapaian hasilnya, silakan lakukan investigasi, lihat dan tulis sendiri hasilnya. Jangan tanya komentar saya”, melainkan penilaian sendiri atau Nara sumber lainnya, sergahnya dengan gaya mengarah.
“Berikan kesempatan untuk saya berkerja dan mengabdi demi kemajuan daerah ini. Saya takut, kalau keduluan diekspos atau dipublish, nanti sasaran tidak tercapai sebagaimana harapan, maka Saya akan malu”, tuturnya sambil mengangkat kedua tangan sebagai isyarat penolakannya.
Para wartawan terus memancing dan mengoreknya dengan berbagai pertanyaan, namun PJ yang satu ini tetap berkilah sambil membungkam.
Hari ini kita hanya bersilaturrahmi sambil santap siang saja, bukan temu pers, bukan wawancara, tuturnya berulang ulang.
Ketika wartawan mengorek lagi ke hal pribadi tentang sikapnya mengambil keputusan pensiunan dini sebagai Mayor Jenderal (Mayjend) pada usia baru mencapai 50 tahun dan memiliki harapan dan peluang job lebih tinggi lagi menantinya.
Namun mengapa bersedia mengabdi sebagai PJ Gubernur Aceh. Peluang besar meraih bintang tiga juga sudah di ambang pintu? Terhadap pertanyaan ini, Achmad Marzuki tetap tidak bersedia mengomentarinya.
Meskipun begitu atas pertanyaan yang sedikit menyerempet kali ini, PJ berbadan kekar menggunakan custum putih berlogo pancacita layaknya sosok sipil murni ini, nyaris terjebak dan langsung memperlihatkan message (pesan singkat) “RHS” dengan isterinya tercintanya. Hal ini terkesan untuk menutupi kesan tidak transparansi.
“Hah ini, baca sendiri katanya pada wartawan sambil menyodorkan telepon selular jenis android.
Dadang si Wartawan Berita Kini ini langsung membacanya dengan suara agak keras. Tiba-tiba:”Jangan baca jawaban Saya, tapi baca tanggapannya untuk kalian pahami.
Belum selesai membaca keseluruhannya, suara lantang langsung mengingatkan, oke. Jangan kalian tulis materinya ya?”
Pada awal memulai acaranya, Putra Palembang kelahiran Bandung 1967 ini, mengucapkan terimakasih atas kehadiran para “kuli tinta” ini dan ingin kerjasama yang baik dengan sampai seterusnya.
Poformance PJ Gub. Aceh mirip sipil sekali, tapi intonasi suaranya sesekali tetap menggelegar layaknya militer aktif.”Maaf ini bukan Saya marah, tapi maklum kita sama-sama orang Sumatera, cetusnya berkelakar.
Pada awal acara silaturrahmi dengan forum Pemred ini, PJ gub tak sungkang-sungkan langsung membuat komitmen tidak menyiarkan statemen apapun darinya dan tidak boleh selfiean dan tidak boleh menyiarkan gambarnya pada media massa. Tatatertib dan komitmen serupa pernah diberlakukan untuk DPR Aceh di hotel hermes 4 juli 2022 malam.
Para Wartawan kian larut dan melebur. Begitupun terus mencoba mengoreksi lebih dalam lagi di tengah suara penuh tawa dalam suasana saling tos-tos..
Tanpa basa basi acara pun berakhir sambil pamit mengangkat tangan tanpa panduan MC. (*)




