Pekerja Sumur Minyak Tradisional di Aceh Timur Terbakar

oleh -114.759 views
Pekerja Sumur Minyak Tradisional di Aceh Timur Terbakar
Foto Ist

Aceh Timur | Realitas – Tiga pekerja yang melakukan aktivitas meleles atau mengambil sisa minyak di sumur minyak tradisional di Desa Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Jumat (22/7/2022) sekitar pukul 05.00 WIB, ikut terbakar.

Api membakar tubuh mereka setelah tempat penampungan (jeriken) minyak dilalap api.

Ketiga korban tubuhnya melepuh dengan persentase yang bervariasi.

Kapolsek Ranto Peureulak Iptu Eko Suhendro SH membenarkan kejadian tersebut.

Dia menyebutkan, kebakaran terjadi karena warga mengambil sisa minyak sambil merokok.

“Kebakaran diduga akibat percikan api rokok mengenai jerigen berisi minyak mentah.

Akibatnya 3 orang terkena sambaran api,” ungkap Kapolsek.

Ketiga korban yang mengalami luka bakar yakni, Aswadi warga Desa Beusa Seuberang, Kecamatan Peureulak Barat, mengalami luka bakar 20 persen.

Kemudian Basri, warga Desa Bukit Puuk, Kecamatan Idi Tunong, mengalami luka bakar sekitar 20 persen.

Dia dilarikan ke UPTD Puskesmas Ranto Peureulak.

Selanjutnya Muhammad AR, warga Desa Pasi Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, mengalami luka bakar 30 persen.

Korban sudah dirujuk ke RSUD Sultan Abdul Azis Syah Peureulak.

“Saat ini ketiganya sudah pulang ke rumah masing-masing,” ungkap Kapolsek Ranto Peureulak itu.

Kebakaran terjadi, jelas Kapolsek, hanya sebentar.

Api berhasil dipadamkan dengan cepat.

“Berhasil dipadamkan dengan menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan),” kata Kapolsek.

Saat ini sebagian warga Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, memang menggantungkan hidupnya pada sumur minyak yang disebut ilegal ini.

Dengan harga hingga Rp 750.000 per drum, kegiatan ini jelas sangat menggiurkan.

“Kadang-kadang agen beli di sini Rp 750 ribu per drum,” ungkap salah satu pekerja yang sedang memasukkan minyak mentah dari jerigen ke dalam drum, di Desa Mata Ie, Kecamatan Ranto Peureulak, saat wartawan Serambi mendatangi lokasi itu, beberapa waktu silam.

Selanjutnya minyak mentah tersebut dibawa ke dapur penyulingan untuk dijadikan BBM.

“Ada yang suling di dapur disini, ada juga yang bawa ke luar daerah.

Ada juga yang sudah jadi BBM baru dibawa keluar daerah, ” katanya.

Seperti diberitakan Wartawan pada 13 Maret 2022 lalu, anak-anak dan kaum ibu-ibu di desa itu umumnya memang bermata pencarian mengumpulkan minyak mentah atau meleles minyak yang meluber dari lokasi sumur yang dibor.

Sudah bertahun-tahun mereka melakukan itu.

Pendapatan yang diperoleh warga yang meleles pun bervariasi, tergantung harga minyak.

“Kalau sudah terjadi kebakaran sumur seperti Jumat malam lalu, maka harganya turun,” ungkapnya.

Informasi yang diperoleh Awak Media, agen setempat membeli minyak mentah hasil lelesan Rp 60-85 ribu per jeriken yang berukuran 35 liter. (*)

Sumber : SI