Dua Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh Temui Sejumlah Memori Belanda Se Abad Lebih Di Calang

oleh -140.759 views
Dua Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh Temui Sejumlah Memori Belanda Se Abad Lebih Di Calang
foto istimewa

Aceh Jaya | Realitas – Dua Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Arraniry Banda Aceh, M.farhan Almahda dan Erik menemukan sejumlah memori peninggalan Belanda berusia satu abad lebih di Calang, Aceh Jaya.

Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) yang berpartnership ini berencana melakukan riset untuk keperluan juarnal akademiknya.

Riset yang dilakukan menurut Muhammad Irfan untuk menggali asal usul nama Gampong China di Calang, Sebut mereka kepada Media Realitas Senin (20/06/2022).

Dalam perjalanannya kisah  M.farhan,  pada Hari Sabtu  (18/06/2022) siang, penuh kebingungan. Hasrat hendak melakukan riset,  mereka tidak memiliki referensi apapun. Serta merta salah seorang temannya dari Lamno, kabupaten yang sama merekomendasi   sosok seorang tokoh bernama Adnan NS.

Farhan enggan menghubunginya. Dia meminta bantu partnership ya Erik, setelah konek baru Dia bicara.

Begitu hendak  konsultasi tentang sejarah Gampong China di Calang, dari kejauhan suara dan intonasi Pak Adnan NS  itu terkesan galak.

Saat itu azan Zuhur sedang  berkumandang. Lalu, diberikan waktu ba’da Ashar untuk kami. Kami ingin menemui di Kruengsabe, ternyata Ketua Pendiri Aceh Jaya ini sedang di Banda Aceh.

Katanya, dalam masa jeda konsultasi, kami diberikan syarat konsultasi setelah menayangkan gambar sisa kuburan dan sisa dermaga pelabuhan Calang.

Kami pun bergegas melacaknya objeknya  untuk  memotret sisa kuburan China dan bekas pelabuhan ekspor-impor Calang tempo Doeloe.

Kedua objek itu kami lakukan dalam waktu singkat itu dan kami kirim via WhatsApp ya.

Alangkah terkejutnya, mendapat jawaban langsung kalau sejumlah foto itu bukanlah bekas kuburan China, melainkan itu sejumlah catatan berupa memori Kolonial Belanda yang terpahat di atas onggokan dan lempingan batu.

Bersebelahan dengan memori itu juga terdapat batu-batu lain berbentuk makam.Di antaranya ada yang bertulisan latin nama orang Jawa.Memang benar, dulu di sebelah Selatan Gampong China, dulu ada Gampong Jawa.

Menurut  Adnan NS kepada kedua mahasiswa ini, kemungkinan makam itu milik para pekerja rodi(kerja paksa) atau sirante(tahanan) di luar rumoh glap (penjara) dibawa dari Pulau Jawa, di antara yang ditemukan  meninggal (6/5/1919) dan ada yang meninggal tanggal 5/6/1931).

Di situ banyak terdapat lempingan batu pahatan berupa memori bertulisan Belanda.

Sayangnya banyak lempingan yang pecah dan buram sehingga tak bisa tterbaca lagi akibat dimakan usia dan dihantam gelombang tsunami raya yang melanda kota ini.

Hasil konfirmasi Pak Adnan dengan temannya  Harry di Kedubes RI Amsterdam, Belanda,  langsung diketahui, antara lain terjemahan: “Apakabar? Katulistiwa?”.

Menurut M.farhan, kami disuruh balik lagi ke lokasi yang sama besok untuk membersihkan kotoran tanah dan lumut yang melekat pada bebatuan itu serta disuruh membawa arang atau batu bata pecah untuk menorehnya pada bekas pahatan agar tulisan bisa terbaca dengan jelas.

Akasara ini akan dikirim pada temannya di negeri kincir angin Belanda, agar diketahui materi asli memoris itu.

Selain itu kami juga masih disuruh melacak sisa kuburan China walaupun yang sompel. Jika tidak, Senator Adnan ini belum bersedia buka mulut soal asal usul Gampong China di Calang ini.

Kedua mahasiswa ini tadi juga tidak berhasil menemui sisa kuburan keturunan China   di situ setelah Kota Calang lenyap diluluhlantakkan tsunami raya  Ahad, 26 Desember 2004 pukul 08.26 pagi itu.

Amal Hasan Ibrahim tokoh salah seorang tokoh Aceh Jaya yang kini menjadi salah seorang direksi Bank Aceh Syariah kepada Realitas menceritakan  pada kebunnya di kaki Gunung Mata Ie, Gampong(Sekarang Gampong Bahagia Red) sebelum tsunami banyak terdapat makam kuno.

Ratna A.Karim  mantan warga Gampong Cina ini mengatakan, di atas makam China ini sekarang sudah berdiri gudang besar/veem pelabuhan Calang.

Warga Gampong China lainnya juga mengakui pernah melihat kerangka manusia dengan tulang belulang dan tengkorak berserakan ketika dilakukan penggalian untuk pembangunan gudang pelabuhan baru di Lhokkubu.

Menurut Sang Deklarator Aceh Jaya ini,  pelabuhan Calang ini selain terdapat gudang besar  bersisian dengan Gunong Lhok Boom(pelabuhan), juga terdapat kantor imigrasi dan kantor Bea dan Cukai sebelah lapangan bola kaki.

Ini petanda salah satu bukti bahwa Calang yang dulu berbasis di Gampong China sebagai pusat niaga terbesar dengan pelabuhan eksport impornya.

Duku di kota heterogen ini dipenuhi aneka  etnis yang bermukim, mulai dari etnis China, Arab, Maindailing, Minang, Barus dan Jawa, di samping  suku lokal Aceh itu sendiri.Hari-hari di kalangan warga di sini kental terdengar orang berbahasa China, Minang dan Aceh.

Sesekali terdengar bahasa Arab, Mandailing dan Barus serta Jawa sesama kelompok kecil mereka.

Dulu bahasa Minang atau Aneuk Jamee (pendatang), mendominasi kota ini, selain bahasa Aceh sendiri, namun baik bahasa Minang maupun warga berdarah Minang raib disapu tsunami. Kini satu bahasa lokal yang tersisa, yaitu bahasa Aceh saja. (*)